Javascript must be enabled to continue!
Karakter Fotosintesis Genotipe Tomat Senang Naungan Pada Intensitas Cahaya Rendah
View through CrossRef
Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi hortikultura di Indonesia adalah pengembangan tanaman dengan sistem tumpangsari atau agroforestri, pertumbuhan dan produksi tanaman tersebut terkendala defisit cahaya karena naungan. Defisit cahaya menyebabkan terganggunya proses metabolisme akibat menurunnya laju fotosintesis dan sintesis karbohidrat. Tanaman mempunyai mekanisme adaptasi antara lain terjadi perubahan fisiologi jika mengalami tekanan lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari karakter fotosintesis genotipe tomat senang naungan pada intensitas cahaya rendah. Percobaan bertempat di kebun percobaan Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Bogor dari bulan Oktober 2014 sampai dengan Januari 2015. Percobaan faktorial berupa Rancangan Petak Tersarang diulang tiga kali, faktor pertama terdiri dari dua taraf naungan, N0=tanpa naungan (0%) dan N1=naungan 50%. Faktor kedua berupa 3 kelompok genotipe terdiri dari senang naungan, toleran dan peka. Pengamatan komponen hasil berupa jumlah buah, bobot buah, produksi pertanaman. Parameter fisiologi meliputi kandungan total klorofil, klorofil a, klorofil b, rasio klorofil a/b, antosianin, karoten, laju fotosintesis, konduktansi stomata, konsentrasi CO<sub>2</sub> internal daun, kandungan pati dan gula daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme toleransi genotipe tomat senang naungan terjadi melalui peningkatan kandungan klorofil a dan b, penurunan rasio klorofil a/b daun yang lebih tinggi. Genotipe senang naungan memiliki konduktansi stomata dan kandungan CO<sub>2 </sub>internal lebih baik sehingga mampu mempertahankan laju fotosintesis, kandungan pati dan gula daun tetap tinggi, serta produksi pertanaman genotipe tersebut meningkat ketika ditanam di bawah naungan
Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Title: Karakter Fotosintesis Genotipe Tomat Senang Naungan Pada Intensitas Cahaya Rendah
Description:
Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi hortikultura di Indonesia adalah pengembangan tanaman dengan sistem tumpangsari atau agroforestri, pertumbuhan dan produksi tanaman tersebut terkendala defisit cahaya karena naungan.
Defisit cahaya menyebabkan terganggunya proses metabolisme akibat menurunnya laju fotosintesis dan sintesis karbohidrat.
Tanaman mempunyai mekanisme adaptasi antara lain terjadi perubahan fisiologi jika mengalami tekanan lingkungan.
Tujuan penelitian ini untuk mempelajari karakter fotosintesis genotipe tomat senang naungan pada intensitas cahaya rendah.
Percobaan bertempat di kebun percobaan Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Bogor dari bulan Oktober 2014 sampai dengan Januari 2015.
Percobaan faktorial berupa Rancangan Petak Tersarang diulang tiga kali, faktor pertama terdiri dari dua taraf naungan, N0=tanpa naungan (0%) dan N1=naungan 50%.
Faktor kedua berupa 3 kelompok genotipe terdiri dari senang naungan, toleran dan peka.
Pengamatan komponen hasil berupa jumlah buah, bobot buah, produksi pertanaman.
Parameter fisiologi meliputi kandungan total klorofil, klorofil a, klorofil b, rasio klorofil a/b, antosianin, karoten, laju fotosintesis, konduktansi stomata, konsentrasi CO<sub>2</sub> internal daun, kandungan pati dan gula daun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme toleransi genotipe tomat senang naungan terjadi melalui peningkatan kandungan klorofil a dan b, penurunan rasio klorofil a/b daun yang lebih tinggi.
Genotipe senang naungan memiliki konduktansi stomata dan kandungan CO<sub>2 </sub>internal lebih baik sehingga mampu mempertahankan laju fotosintesis, kandungan pati dan gula daun tetap tinggi, serta produksi pertanaman genotipe tersebut meningkat ketika ditanam di bawah naungan.
Related Results
Perbedaan Respon Pertumbuhan, Fisiologi dan Produksi 20 Genotipe Cabai Rawit terhadap Berbagai Tingkat Naungan
Perbedaan Respon Pertumbuhan, Fisiologi dan Produksi 20 Genotipe Cabai Rawit terhadap Berbagai Tingkat Naungan
Salah satu faktor pembatas utama yang mempengaruhi produksi cabai rawit adalah cekaman cahaya rendah. Varietas unggul cabai toleran terhadap cahaya rendah sampai saat ini belum ban...
Keragaan Produksi Kentang G2 Genotipe IPB Asal Stek dan Umbi di Garut Jawa Barat
Keragaan Produksi Kentang G2 Genotipe IPB Asal Stek dan Umbi di Garut Jawa Barat
Konsumsi kentang terus meningkat seiring meningkatnya penduduk, namun total produksinya mengalami penurunan pada tahun 2015, maka diperlukan usaha memperoleh varietas yang berprodu...
Keragaan Produksi Kentang G2 Genotipe IPB Asal Stek dan Umbi di Garut Jawa Barat
Keragaan Produksi Kentang G2 Genotipe IPB Asal Stek dan Umbi di Garut Jawa Barat
Konsumsi kentang terus meningkat seiring meningkatnya penduduk, namun total produksinya mengalami penurunan pada tahun 2015, maka diperlukan usaha memperoleh varietas yang berprodu...
Potensi Hasil dan Penampilan Hortikultura Tomat Generasi F6 di Dataran Rendah
Potensi Hasil dan Penampilan Hortikultura Tomat Generasi F6 di Dataran Rendah
Perakitan varietas tomat khusus wilayah urban perlu dilakukan untuk mempercepat ketersediaan tomat secara mandiri di wilayah perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ...
Analisis molekuler dan Clustering Piramidisasi Gen Tahan Virus Ty-1, Ty-5 dan Ty-6 Pada Populasi BC4F1 Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum L)
Analisis molekuler dan Clustering Piramidisasi Gen Tahan Virus Ty-1, Ty-5 dan Ty-6 Pada Populasi BC4F1 Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum L)
Pendekatan pemuliaan ketahanan menggunakan piramidisasi gen tahan virus merupakan upaya dalam menggabungkan gen ketahanan dari tanaman inang atau kerabatnya yang bertanggung jawab ...
Identifikasi Karakter Beberapa Genotipe Mutan Padi Beras Merah (Oryza sativa L.) Inpago Unram 1
Identifikasi Karakter Beberapa Genotipe Mutan Padi Beras Merah (Oryza sativa L.) Inpago Unram 1
Keragaman yang tinggi dibutuhkan untuk program pemuliaan sebagai bahan dasar seleksi untuk karakter yang diinginkan. Identifikasi karakter pada tanaman perlu dilakukan untuk menget...
Pertumbuhan dan produksi pucuk kolesom pada intensitas cahaya rendah
Pertumbuhan dan produksi pucuk kolesom pada intensitas cahaya rendah
Intensitas cahaya rendah merupakan salah satu faktor eksternal lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan suatu tanaman. Intensitas cahaya yang optimal dapat meningkatkan pertu...
Pertumbuhan dan produksi pucuk kolesom pada intensitas cahaya rendah
Pertumbuhan dan produksi pucuk kolesom pada intensitas cahaya rendah
Intensitas cahaya rendah merupakan salah satu faktor eksternal lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan suatu tanaman. Intensitas cahaya yang optimal dapat meningkatkan pertu...

