Javascript must be enabled to continue!
Sigale-gale samosir: from the sacred to the secular | Sigale-gale samosir: dari yang sakral menjadi sekular
View through CrossRef
Sigale-gale is a life-sized wooden puppet carved in the likeness of a human male. It is used during burial rituals and in modern Sigale-gale dance performances in the Toba Batak community, Samosir, North Sumatra. The traditional myth of sigale-gale has become folklore which depicts the making of a wooden statue in human form given to Raja Rahat who is ill because his favorite son Manggale died in the battle. The sigale-gale is used by the community as well in funeral ceremonies for the dead who have died childless. In contemporary practice sigale-gale has been reconceived as public performance mostly for tourists. The sigale-gale thus now functions differently socially and culturally, moving from the mythological towards the worldly. The sigale-gale dance was originally only accompanied by the music of sordam but mostly now by a mixed ensemble comprised of taganing, gong, and suling. A performance can include five to seven dancers (panortor). Sigale-gale also vary in size from human dimensions as well as smaller or even bigger. Sigale-gale in its new forms represents an effort to sustain the cultural values of the Toba Batak.
Patung sigale-gale terbuat dari kayu yang dipahat menyerupai manusia (laki-laki) digunakan saat ritual pemakaman dan dalam pertunjukan tari sigale-gale baru di masyarakat Batak Toba, Samosir, Sumatera Utara. Mitos keberadaan sigale-gale menjadi folklore yang menceritakan pembuatan patung kayu menyerupai manusia dipersembahkan kepada Raja Rahat yang sakit karena anaknya tewas di medan pertempuran. Sigale-gale digunakan pada upacara kematian yang tidak memiliki keturunan. Dalam perkembangannya, sigale-gale menjadi seni pertunjukan untuk menghibur wisatawan. Fungsi sigale-gale secara sosial budaya menjadi berbeda, yakni dari sakral ke profan. Awalnya sigale-gale hanya diiringi musik Sordam dan Sabangunan, tetapi di masa kini pertunjukan sigale-gale diiringi musik gondang, gong dan suling. Pertunjukan sigale-gale terdapat panortor lima sampai tujuh orang. Ukuran patung sigale-gale bervariasi, ada yang tinggi seukuran manusia ada juga yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil ataupun lebih besar. Unsur pertunjukan terdiri dari: Sigale-gale, musik dan tor-tor (tari). Sigale-gale dalam bentuk baru merupakan upaya pelestarian nilai-nilai budaya masyarakat Batak Toba.
Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Archaeology and Fine Arts
Title: Sigale-gale samosir: from the sacred to the secular | Sigale-gale samosir: dari yang sakral menjadi sekular
Description:
Sigale-gale is a life-sized wooden puppet carved in the likeness of a human male.
It is used during burial rituals and in modern Sigale-gale dance performances in the Toba Batak community, Samosir, North Sumatra.
The traditional myth of sigale-gale has become folklore which depicts the making of a wooden statue in human form given to Raja Rahat who is ill because his favorite son Manggale died in the battle.
The sigale-gale is used by the community as well in funeral ceremonies for the dead who have died childless.
In contemporary practice sigale-gale has been reconceived as public performance mostly for tourists.
The sigale-gale thus now functions differently socially and culturally, moving from the mythological towards the worldly.
The sigale-gale dance was originally only accompanied by the music of sordam but mostly now by a mixed ensemble comprised of taganing, gong, and suling.
A performance can include five to seven dancers (panortor).
Sigale-gale also vary in size from human dimensions as well as smaller or even bigger.
Sigale-gale in its new forms represents an effort to sustain the cultural values of the Toba Batak.
Patung sigale-gale terbuat dari kayu yang dipahat menyerupai manusia (laki-laki) digunakan saat ritual pemakaman dan dalam pertunjukan tari sigale-gale baru di masyarakat Batak Toba, Samosir, Sumatera Utara.
Mitos keberadaan sigale-gale menjadi folklore yang menceritakan pembuatan patung kayu menyerupai manusia dipersembahkan kepada Raja Rahat yang sakit karena anaknya tewas di medan pertempuran.
Sigale-gale digunakan pada upacara kematian yang tidak memiliki keturunan.
Dalam perkembangannya, sigale-gale menjadi seni pertunjukan untuk menghibur wisatawan.
Fungsi sigale-gale secara sosial budaya menjadi berbeda, yakni dari sakral ke profan.
Awalnya sigale-gale hanya diiringi musik Sordam dan Sabangunan, tetapi di masa kini pertunjukan sigale-gale diiringi musik gondang, gong dan suling.
Pertunjukan sigale-gale terdapat panortor lima sampai tujuh orang.
Ukuran patung sigale-gale bervariasi, ada yang tinggi seukuran manusia ada juga yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil ataupun lebih besar.
Unsur pertunjukan terdiri dari: Sigale-gale, musik dan tor-tor (tari).
Sigale-gale dalam bentuk baru merupakan upaya pelestarian nilai-nilai budaya masyarakat Batak Toba.
Related Results
Sigale-gale samosir: from the sacred to the secular | Sigale-gale samosir: dari yang sakral menjadi sekular
Sigale-gale samosir: from the sacred to the secular | Sigale-gale samosir: dari yang sakral menjadi sekular
Sigale-gale is a life-sized wooden puppet carved in the likeness of a human male. It is used during burial rituals and in modern Sigale-gale dance performances in the Toba Batak co...
Pengembangan Ruang Terbuka Hijau Pada Koridor Kanal Tano Ponggol
Pengembangan Ruang Terbuka Hijau Pada Koridor Kanal Tano Ponggol
Dahulu, Pulau samosir berada pada suatu daratan dengan Pulau Sumatera, berbentuk sebuah tanjung di danau Toba. Bagian paling sempit dari samosir adalah pangururan. Warga dulu menye...
PEMBENTUKAN RUANG SAKRAL BAGI YANG KUDUS PADA GUA MARIA DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI AGAMA
PEMBENTUKAN RUANG SAKRAL BAGI YANG KUDUS PADA GUA MARIA DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI AGAMA
Ruang sakral Gua Maria merupakan bentukan dari manusia religius. Ruang sakral Gua Maria terbentuk tidak terlepas dari kisah historis keberadaan masyarakat Katolik yang menginginkan...
SISTEM INFORMASI SEBAGAI KEILMUAN YANG MULTIDISIPLINER
SISTEM INFORMASI SEBAGAI KEILMUAN YANG MULTIDISIPLINER
Saat ini, dibandingkan dengan negara sekitar, di manakah posisi Indonesia? Tepat sesaat sebelum pandemi, World bank mengkategorikan Indonesia pada posisi upper middle income dan PB...
Diplomasi Publik Pemerintah Kabupaten Samosir melalui Festival Samosir Music International 2018
Diplomasi Publik Pemerintah Kabupaten Samosir melalui Festival Samosir Music International 2018
The purpose of this article is to describe how public diplomacy is carried out by the Samosir Regency Government through the festival Samosir Music International 2018. The concepts...
Perencanaan Kanal Tano Ponggol Sebagai Kawasan Ekowisata di Kabupaten Samosir
Perencanaan Kanal Tano Ponggol Sebagai Kawasan Ekowisata di Kabupaten Samosir
Kanal Tano Ponggol merupakan satu-satunya kanal yang terdapat di Kabupaten Samosir yang memiliki peran penting dulunya hingga saat ini. Kanal ini memisahkan pulau Sumatera dan Pula...
PERSUASIVE STRATEGIES OF SAMOSIR PROMOTION IN “Visit Samosir” FACEBOOK PAGE
PERSUASIVE STRATEGIES OF SAMOSIR PROMOTION IN “Visit Samosir” FACEBOOK PAGE
This study deals with the Persuasive strategies of Samosir promotion in visit samosir facebook page. The objective of the study are to find out the types of persuasive technique of...
PURPOSE A SACRED ROOM OF CHRUCHES BY PASTOR MANGUNWIJAYA CASE STUDY: CHURCH OF MARIA ASSUMPTA KLATEN, CHURCH OF THERESIA SALAM, AND CHURCH OF MARY
PURPOSE A SACRED ROOM OF CHRUCHES BY PASTOR MANGUNWIJAYA CASE STUDY: CHURCH OF MARIA ASSUMPTA KLATEN, CHURCH OF THERESIA SALAM, AND CHURCH OF MARY
Abstract- Sacred space is everywhere and has become the part of human’s life since thousand years ago. One manifestation of the sacred space is the Catholic Church. A sacred space ...

