Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

UNSUR – UNSUR BANGUNAN PEMBENTUK KARAKTER ARSITEKTURAL PADA KOMPLEKS GEREJA KATEDRAL BOGOR

View through CrossRef
Abstract: Cathedral Church in Bogor is built in 1896 by M. Y. D. Classens, a Dutch Catholic missionary. According to Heritage Building Policy set by the Ministry of Tourism and Culture Republic of Indonesia No. PM.26/PW.007/MKP/2007 dated on March 26th, 2007, this building was formally determined as a heritage building (Bureau of Information, Tourism, and Culture of Bogor City, 2008). In accordance to the increasing number of members of Catholic beliefers in Bogor, there is a need to build new buildings with various purposes to accomodate the variety of activities. They are the buildings of Parish of Cathedral Church in Bogor and the Center of Council of Bogor Diocese. Brolin (1980) said that new building should be fit with the old and strengthen the uniqueness of former architectural character. The purpose of this paper is describing building elements which determine architectural characteristics as a visual linkages elements of building masses surround Cathedral Church in Bogor. Method used are direct observation. Firstly, observing building elements which have significant architectural character of the old buildings. Secondly, comparing building elements between the old buildings and new buildings. The result shows that the elements of new buildings strengthen the character of the old ones, therefore the architectural character of this religious environment has been maintained.Keywords: building elements, visual linkages elements, the architectural characterAbstrak: Gereja Katedral Bogor dibangun pada tahun 1896 oleh M. Y. D. Classens, seorang misionaris Katolik Belanda. Bangunan ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dalam Surat Penetapan Bangunan Cagar Budaya dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Nomor: PM.26/PW.007/MKP/2007 tanggal 26 Maret 2007 (Dinas Informasi, Kepariwisataan, dan Kebudayaan Kota Bogor, 2008). Dalam perkembangannya, sesuai dengan peningkatan jumlah umat Katolik di Bogor dan kebutuhan untuk mewadahi kegiatan yang lebih beragam di dalam kompleks Gereja Katedral Bogor, maka dibangun bangunan-bangunan pelengkap, yaitu Gedung Paroki Katedral Bogor dan Gedung Pusat Pastoral Keuskupan Bogor. Brolin (1980:17) menyebutkan bahwa bangunan baru yang dibangun dalam konteks lingkungan bangunan lama hendaknya selaras dengan lingkungannya dan tidak mengorbankan keunikan karakter bangunan lama. Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menguraikan unsur-unsur bangunan pembentuk karakter arsitektural yang menjadi unsur pengikat visual dari kelompok massa bangunan yang terdapat di dalam kompleks Gereja Katedral Bogor. Metode yang digunakan adalah dengan pengamatan langsung unsur-unsur bangunan yang terdapat pada bangunan lama yang memiliki karakter arsitektural dominan, yaitu unsur-unsur pada bangunan Gereja Katedral Bogor dan bangunan Seminari Menengah Stella Maris, serta membandingkannya dengan unsur-unsur pada bangunan yang relatif baru, yaitu Gedung Paroki Katedral Bogor dan Gedung Pusat Pastoral Keuskupan Bogor. Hasil yang didapatkan adalah bahwa unsur-unsur yang terdapat pada bangunan yang relatif baru memperkuat unsur-unsur yang terdapat pada bangunan lama, sehingga karakter arsitektural pada kompleks Gereja Katedral Bogor tetap terjaga.Kata kunci: unsur-unsur bangunan, unsur pengikat visual, karakter arsitektural
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Title: UNSUR – UNSUR BANGUNAN PEMBENTUK KARAKTER ARSITEKTURAL PADA KOMPLEKS GEREJA KATEDRAL BOGOR
Description:
Abstract: Cathedral Church in Bogor is built in 1896 by M.
Y.
D.
Classens, a Dutch Catholic missionary.
According to Heritage Building Policy set by the Ministry of Tourism and Culture Republic of Indonesia No.
PM.
26/PW.
007/MKP/2007 dated on March 26th, 2007, this building was formally determined as a heritage building (Bureau of Information, Tourism, and Culture of Bogor City, 2008).
In accordance to the increasing number of members of Catholic beliefers in Bogor, there is a need to build new buildings with various purposes to accomodate the variety of activities.
They are the buildings of Parish of Cathedral Church in Bogor and the Center of Council of Bogor Diocese.
Brolin (1980) said that new building should be fit with the old and strengthen the uniqueness of former architectural character.
The purpose of this paper is describing building elements which determine architectural characteristics as a visual linkages elements of building masses surround Cathedral Church in Bogor.
Method used are direct observation.
Firstly, observing building elements which have significant architectural character of the old buildings.
Secondly, comparing building elements between the old buildings and new buildings.
The result shows that the elements of new buildings strengthen the character of the old ones, therefore the architectural character of this religious environment has been maintained.
Keywords: building elements, visual linkages elements, the architectural characterAbstrak: Gereja Katedral Bogor dibangun pada tahun 1896 oleh M.
Y.
D.
Classens, seorang misionaris Katolik Belanda.
Bangunan ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dalam Surat Penetapan Bangunan Cagar Budaya dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Nomor: PM.
26/PW.
007/MKP/2007 tanggal 26 Maret 2007 (Dinas Informasi, Kepariwisataan, dan Kebudayaan Kota Bogor, 2008).
Dalam perkembangannya, sesuai dengan peningkatan jumlah umat Katolik di Bogor dan kebutuhan untuk mewadahi kegiatan yang lebih beragam di dalam kompleks Gereja Katedral Bogor, maka dibangun bangunan-bangunan pelengkap, yaitu Gedung Paroki Katedral Bogor dan Gedung Pusat Pastoral Keuskupan Bogor.
Brolin (1980:17) menyebutkan bahwa bangunan baru yang dibangun dalam konteks lingkungan bangunan lama hendaknya selaras dengan lingkungannya dan tidak mengorbankan keunikan karakter bangunan lama.
Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menguraikan unsur-unsur bangunan pembentuk karakter arsitektural yang menjadi unsur pengikat visual dari kelompok massa bangunan yang terdapat di dalam kompleks Gereja Katedral Bogor.
Metode yang digunakan adalah dengan pengamatan langsung unsur-unsur bangunan yang terdapat pada bangunan lama yang memiliki karakter arsitektural dominan, yaitu unsur-unsur pada bangunan Gereja Katedral Bogor dan bangunan Seminari Menengah Stella Maris, serta membandingkannya dengan unsur-unsur pada bangunan yang relatif baru, yaitu Gedung Paroki Katedral Bogor dan Gedung Pusat Pastoral Keuskupan Bogor.
Hasil yang didapatkan adalah bahwa unsur-unsur yang terdapat pada bangunan yang relatif baru memperkuat unsur-unsur yang terdapat pada bangunan lama, sehingga karakter arsitektural pada kompleks Gereja Katedral Bogor tetap terjaga.
Kata kunci: unsur-unsur bangunan, unsur pengikat visual, karakter arsitektural.

Related Results

Analisa Elemen Arsitektur Gereja Katedral
Analisa Elemen Arsitektur Gereja Katedral
Dalam Gereja Katolik, terdapat tiga jenis yang biasa digunakan umat untuk merayakan ibadah, yaitu Gereja Basilika, Gereja Katedral dan Gereja Paroki. Yang terbesar adalah Gereja Ba...
Makalah Kritik Seni "Musik Gereja dan Hymne"
Makalah Kritik Seni "Musik Gereja dan Hymne"
MUSIK GEREJA DAN HYMNE A.Musik GerejaMusik gereja adalah penggunaan musik yang berkembang dan digunakan di gereja musik sangat penting dalam ibadah gereja, karena sebagian besar ke...
Gereja Visioner Panggilan Memuridkan “Bangsa”
Gereja Visioner Panggilan Memuridkan “Bangsa”
 A visionary church is the dream of every pastor and church congregation, but in the current reality the church is not doing what it wants and expected so that the visionary church...
ANALOGI MUSIK-ARSITEKTUR MELALUI PROSES TRANSFORMASI PADA SIMULASI PERLUASAN GEREJA KATEDRAL BOGOR
ANALOGI MUSIK-ARSITEKTUR MELALUI PROSES TRANSFORMASI PADA SIMULASI PERLUASAN GEREJA KATEDRAL BOGOR
The selection of appropriate approaches for specific design project is the most creative step in a design process. In the recent research report (Herliana 2010), the approach which...
Fasad Katedral Sebagai Model in Fill Perancangan Pengembangan Situs Randusari Semarang
Fasad Katedral Sebagai Model in Fill Perancangan Pengembangan Situs Randusari Semarang
Gedung Gereja Katedral adalah satu gedung yang menjadi ikon utama di situs Randusari dengan kategori bangunan cagar budaya kelas A di Semarang. Pihak pengelola Gereja Maria Ratu Ro...
Dampak Tingkat Pendidikan Teologi Pelayanan di GKII Daerah Kayan
Dampak Tingkat Pendidikan Teologi Pelayanan di GKII Daerah Kayan
Tujuan penelitian yang terkait dengan tingkat pendidikan tergambarnya paradigma umum tentang tugas dan fungsi  Pekerja Gereja dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas penatalayan ...
FUNGSI STRUKTURAL DAN ARSITEKTURAL PADA KONSTRUKSI BAMBU BANGUNAN AMFITEATER TAMAN BUAH MEKARSARI
FUNGSI STRUKTURAL DAN ARSITEKTURAL PADA KONSTRUKSI BAMBU BANGUNAN AMFITEATER TAMAN BUAH MEKARSARI
Abstrak- Struktur pada bangunan merupakan hal yang penting dan mendasar untuk mewujudkan terbangunnya sebuah bangunan dalam arsitektur. Penentuan sistem struktur bangunan terkait j...
Pentingnya Penginjilan Bagi Pertumbuhan Gereja dalam Perintisan Jemaat Baru
Pentingnya Penginjilan Bagi Pertumbuhan Gereja dalam Perintisan Jemaat Baru
Gereja yang bertumbuh adalah gereja yang menjalankan tugas utamanya terhadap penginjilan. Tugas penginjilan adalah tugas semua orang percaya tanpa terkecuali. Dipertajamkan langsun...

Back to Top