Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

TINGKAT PENGETAHUAN ATRESIA BILIER PADA BIDAN DI PUSKESMAS KABUPATEN SIDOARJO

View through CrossRef
Atresia bilier merupakan penyebab tersering kolestasis pada bayi yang diawali dengan prolonged jaundice. Deteksi dini atresia bilier pada fasilitas kesehatan primer berperan penting dalam prognosis dan keberhasilan pengobatan. Keterlambatan diagnosis atresia bilier saat ini masih menjadi masalah di dunia. Secara klinis, kolestasis sulit dibedakan dengan ikterus fisiologis. Atresia bilier sendiri jarang terjaring pada fasilitas kesehatan primer karena secara klinis sulit dibedakan dengan ikterus fisiologis. Keterlambatan diagnosis atresia bilier dapat meningkatkan akan morbiditas dan mortalitas. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka pengabdian masyarakat, yaitu dalam bentuk kegiatan sosialisasi tingkat pengetahuan tentang deteksi dini atresia bilier pada tenaga kesehatan, yaitu bidan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dalam bentuk sosialisasi deteksi dini atresia bilier pada bidan di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Pada kegiatan ini dilakukan evaluasi tingkat pengetahuan awal tentang atresia bilier, kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi terkait atresia bilier dan evaluasi tingkat pengetahuan setelah dilakukan sosialisasi tersebut. Sebanyak 165 bidan berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan rerata usia 40,39 ± 10,09 tahun. Pada evaluasi awal penyebab prolonged jaundice, sebagian besar responden menyatakan bahwa breastfeeding jaundice dan breast milk jaundice merupakan penyebab utama. Sebanyak 94 (57%) responden menyatakan bahwa atresia bilier dapat menjadi penyebab prolonged jaundice. Didapatkan peningkatan tingkat pengetahuan tentang atresia bilier, ditunjukkan dengan nilai pre-test 14,32 ± 2,48 dan meningkat pada nilai post-test 16,51 ± 1,77 dan nilai median yang meningkat pada nilai pre-test 14 menjadi 17 setelah dilakukan sosialisasi tentang atresia bilier (p<0,05). Kegiatan ini mendukung perlunya sosialisasi tentang deteksi dini atresia bilier dilakukan secara masif pada tenaga medis di fasilitas kesehatan primer.
Title: TINGKAT PENGETAHUAN ATRESIA BILIER PADA BIDAN DI PUSKESMAS KABUPATEN SIDOARJO
Description:
Atresia bilier merupakan penyebab tersering kolestasis pada bayi yang diawali dengan prolonged jaundice.
Deteksi dini atresia bilier pada fasilitas kesehatan primer berperan penting dalam prognosis dan keberhasilan pengobatan.
Keterlambatan diagnosis atresia bilier saat ini masih menjadi masalah di dunia.
Secara klinis, kolestasis sulit dibedakan dengan ikterus fisiologis.
Atresia bilier sendiri jarang terjaring pada fasilitas kesehatan primer karena secara klinis sulit dibedakan dengan ikterus fisiologis.
Keterlambatan diagnosis atresia bilier dapat meningkatkan akan morbiditas dan mortalitas.
Kegiatan ini dilakukan dalam rangka pengabdian masyarakat, yaitu dalam bentuk kegiatan sosialisasi tingkat pengetahuan tentang deteksi dini atresia bilier pada tenaga kesehatan, yaitu bidan.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dalam bentuk sosialisasi deteksi dini atresia bilier pada bidan di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Pada kegiatan ini dilakukan evaluasi tingkat pengetahuan awal tentang atresia bilier, kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi terkait atresia bilier dan evaluasi tingkat pengetahuan setelah dilakukan sosialisasi tersebut.
Sebanyak 165 bidan berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan rerata usia 40,39 ± 10,09 tahun.
Pada evaluasi awal penyebab prolonged jaundice, sebagian besar responden menyatakan bahwa breastfeeding jaundice dan breast milk jaundice merupakan penyebab utama.
Sebanyak 94 (57%) responden menyatakan bahwa atresia bilier dapat menjadi penyebab prolonged jaundice.
Didapatkan peningkatan tingkat pengetahuan tentang atresia bilier, ditunjukkan dengan nilai pre-test 14,32 ± 2,48 dan meningkat pada nilai post-test 16,51 ± 1,77 dan nilai median yang meningkat pada nilai pre-test 14 menjadi 17 setelah dilakukan sosialisasi tentang atresia bilier (p<0,05).
Kegiatan ini mendukung perlunya sosialisasi tentang deteksi dini atresia bilier dilakukan secara masif pada tenaga medis di fasilitas kesehatan primer.

Related Results

NEW INSIGHTS ON BILIARY ATRESIA
NEW INSIGHTS ON BILIARY ATRESIA
Atresia bilier merupakan penyebab paling umum kolestasis pada bayi dalam tiga bulan pertama kehidupan. Meskipun atresia bilier merupakan kondisi yang jarang terjadi, namun kondisi ...
ANALISIS FAKTOR INTERNAL KINERJA BIDAN DALAM PELAYANAN KEBIDANAN BERKELANJUTAN
ANALISIS FAKTOR INTERNAL KINERJA BIDAN DALAM PELAYANAN KEBIDANAN BERKELANJUTAN
ABSTRAKLatar Belakang : Pelayanan kebidanan secara berkesinambungan (Continuity of care/ CoC), yang bertujuan untuk mengetahui tumbuh kembang janin dan kesehatan ibu, yang diberika...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., &amp; Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
GAMBARAN PENGETAHUAN BIDAN MENGENAI PEDOMAN PELAYANAN PERSALINAN DI ERA PANDEMI DI PUSKESMAS KABUPATEN TANGGAMUS LAMPUNG
GAMBARAN PENGETAHUAN BIDAN MENGENAI PEDOMAN PELAYANAN PERSALINAN DI ERA PANDEMI DI PUSKESMAS KABUPATEN TANGGAMUS LAMPUNG
Penularan Covid-19 terjadi melalui kontak, droplet dan airborne, untuk itu perlu dijaga proses penularan ini terjadi pada tenaga kesehatan dan bayinya sendiri Isolasi tenaga keseha...
Peran Operasi Kasai pada Pasien Atresia Bilier yang Datang Terlambat
Peran Operasi Kasai pada Pasien Atresia Bilier yang Datang Terlambat
Kasus atresia bilier di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta selamasepuluh tahun terakhir mengalami peningkatan. Namun disayangkan pasien pada umumnya da...
Analisis Cakupan Antenatal Care K4 Program Kesehatan Ibu dan Anak di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman
Analisis Cakupan Antenatal Care K4 Program Kesehatan Ibu dan Anak di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman
AbstrakPencapaian target K4 (kunjungan ibu hamil ke tenaga kesehatan yang dilakukan paling sedikit 4 kali selama hamil) akan terlaksana jika adanya motivasi bidan di desa ditambah ...
Infracoccygeal/transperineal window: new method to prenatally diagnose and classify level of anal atresia
Infracoccygeal/transperineal window: new method to prenatally diagnose and classify level of anal atresia
ABSTRACTObjectivesTo introduce a two‐dimensional sonographic method to assess the fetal anus, and to evaluate the feasibility of this method to diagnose anal atresia prenatally and...

Back to Top