Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

PERPISAHAN PARASOSIAL PENGGEMAR PASCA KEMATIAN IDOL SULLI

View through CrossRef
Studi ini menganalisis proses perpisahan parasosial dari penggemar idol Korea, Sulli yang melakukan bunuh diri pada 14 Oktober 2019 silam. Kematian Sulli mengejutkan tidak hanya keluarga dan orang terdekat, tetapi juga para penggemarnya yang mengira Sulli telah pulih dari sakit yang mempengaruhi mentalnya akibat perundungan di media sosial. Dengan menggunakan metode analisis tematik, sebanyak 270 unggahan (pada tanggal 30 Oktober 2019) ungkapan kesedihan, belasungkawa, dan ucapan perpisahan dalam bahasa Korea pada unggahan foto terakhir akun Instagram Sulli diklasifikasikan menurut model tahapan ekspresi kesedihan dari Elisabeth Kübler-Ross dan David Kessler. Model tahapan ekspresi kesedihan mengklasifikasikan pesan penggemar menjadi kelompok pesan yang mengandung penyangkalan, kemarahan, negosiasi, depresi dan penerimaan. Hasil analisis menunjukkan ekspresi kesedihan model Elisabeth Kübler-Ross dan David Kessler nampak dalam unggahan komentar penggemar. Secara bertahap ekspresi kesedihan itu dimulai dengan unggahan komentar tidak percaya akan berita kematian Sulli. Tahapan kemarahan nampak pada unggahan penggemar yang menyalahkan diri sendiri karena merasa gagal melindungi idolanya. Mereka juga menunjukkan kemarahannya pada para perundung Sulli. Ekspresi negosiasi dan depresi cenderung muncul bergantian dan menunjukkan belum siap merelakan Sulli pergi walaupun mereka sadar Sulli sudah tiada. Ekspresi penerimaan ditunjukkan dengan ungkapan kerelaan dan komentar yang meyakini adanya kehidupan setelah kematian. Analisis ekspresi kesedihan penggemar menunjukkan bahwa walapun hubungan Sulli dan penggemarnya merupakan hubungan parasosial (bersifat virtual), namun kesedihan mereka nyata. Penggemar juga memaknai hubungan parasosial dengan Sulli tidak terbatas sebagai hubungan antara idol dan penggemar, tetapi juga memaknainya sebagai hubungan antara anggota keluarga. Rasa ikatan kekeluargaan ini terlihat pada unggahan komentar penggemar yang merasa patut disalahkan atas kematian Sulli, karena tidak peka dengan kemungkinan terburuk yang akan menimpa Sulli, seperti bunuh diri. Insting kepekaan ini adalah sesuatu yang biasanya dimiliki oleh orang terdekat, seperti anggota keluarga. Penelitian ini menegaskan peran media sosial dalam proses perpisahan parasosial, yang memberikan solusi atas keterbatasan ruang dan waktu sehingga penggemar dapat meluapkan kesedihannya tanpa batas. Media sosial tidak hanya memberikan ruang untuk berkabung, tetapi juga menciptakan komunitas bagi para penggemar ini sehingga kesedihan parasosial mereka tervalidasi karena ada orang lain yang juga bersedih atas kematian Sulli.
Title: PERPISAHAN PARASOSIAL PENGGEMAR PASCA KEMATIAN IDOL SULLI
Description:
Studi ini menganalisis proses perpisahan parasosial dari penggemar idol Korea, Sulli yang melakukan bunuh diri pada 14 Oktober 2019 silam.
Kematian Sulli mengejutkan tidak hanya keluarga dan orang terdekat, tetapi juga para penggemarnya yang mengira Sulli telah pulih dari sakit yang mempengaruhi mentalnya akibat perundungan di media sosial.
Dengan menggunakan metode analisis tematik, sebanyak 270 unggahan (pada tanggal 30 Oktober 2019) ungkapan kesedihan, belasungkawa, dan ucapan perpisahan dalam bahasa Korea pada unggahan foto terakhir akun Instagram Sulli diklasifikasikan menurut model tahapan ekspresi kesedihan dari Elisabeth Kübler-Ross dan David Kessler.
Model tahapan ekspresi kesedihan mengklasifikasikan pesan penggemar menjadi kelompok pesan yang mengandung penyangkalan, kemarahan, negosiasi, depresi dan penerimaan.
Hasil analisis menunjukkan ekspresi kesedihan model Elisabeth Kübler-Ross dan David Kessler nampak dalam unggahan komentar penggemar.
Secara bertahap ekspresi kesedihan itu dimulai dengan unggahan komentar tidak percaya akan berita kematian Sulli.
Tahapan kemarahan nampak pada unggahan penggemar yang menyalahkan diri sendiri karena merasa gagal melindungi idolanya.
Mereka juga menunjukkan kemarahannya pada para perundung Sulli.
Ekspresi negosiasi dan depresi cenderung muncul bergantian dan menunjukkan belum siap merelakan Sulli pergi walaupun mereka sadar Sulli sudah tiada.
Ekspresi penerimaan ditunjukkan dengan ungkapan kerelaan dan komentar yang meyakini adanya kehidupan setelah kematian.
Analisis ekspresi kesedihan penggemar menunjukkan bahwa walapun hubungan Sulli dan penggemarnya merupakan hubungan parasosial (bersifat virtual), namun kesedihan mereka nyata.
Penggemar juga memaknai hubungan parasosial dengan Sulli tidak terbatas sebagai hubungan antara idol dan penggemar, tetapi juga memaknainya sebagai hubungan antara anggota keluarga.
Rasa ikatan kekeluargaan ini terlihat pada unggahan komentar penggemar yang merasa patut disalahkan atas kematian Sulli, karena tidak peka dengan kemungkinan terburuk yang akan menimpa Sulli, seperti bunuh diri.
Insting kepekaan ini adalah sesuatu yang biasanya dimiliki oleh orang terdekat, seperti anggota keluarga.
Penelitian ini menegaskan peran media sosial dalam proses perpisahan parasosial, yang memberikan solusi atas keterbatasan ruang dan waktu sehingga penggemar dapat meluapkan kesedihannya tanpa batas.
Media sosial tidak hanya memberikan ruang untuk berkabung, tetapi juga menciptakan komunitas bagi para penggemar ini sehingga kesedihan parasosial mereka tervalidasi karena ada orang lain yang juga bersedih atas kematian Sulli.

Related Results

Fenomena Fanwar di kalangan Penggemar K-POP Pada Media Sosial Instagram
Fenomena Fanwar di kalangan Penggemar K-POP Pada Media Sosial Instagram
Latar belakang dari penelitian ini adalah pertengkaran antara penggemar K-Pop yang seringkali terjadi di Instagram di beberapa Portal berita K-Pop. Penggemar saling menyindir satu ...
INTERAKSI PARASOSIAL
INTERAKSI PARASOSIAL
Konten-konten dunia hiburan yang semakin beragam membuat penonton tidak hanya dapat melihat para artis menunjukkan keahliannya, tetapi juga mengenal dan mengetahui kehidupan pribad...
Hubungan antara Self-Esteem dengan Hubungan Parasosial pada NCTzen Dewasa Awal
Hubungan antara Self-Esteem dengan Hubungan Parasosial pada NCTzen Dewasa Awal
Abstract. Parasocial relationships refer to fans reactions towards their idols, resulting in feelings of closeness and attachment. The age range that finds parasocial relationships...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
"AKU PENGGEMARNYA MAKA AKU MENGENALNYA"
"AKU PENGGEMARNYA MAKA AKU MENGENALNYA"
Kegiatan kepenggemaran pada zaman ini bertransformasi dari yang sebelumnya sekadar mengkonsumsi menjadi sebuah kegiatan yang juga membesarkan objek kepenggemaran tersebut. Hal ini ...
Hubungan Parasosial Antara Penggemar ARMY dan BTS di Weverse
Hubungan Parasosial Antara Penggemar ARMY dan BTS di Weverse
Penelitian ini berfokus untuk memahami hubungan parasosial atau parasocial relationship (PSR) antara penggemar ARMY dengan Idol BTS di Weverse. Penelitian ini menggunakan metode ku...
Teori framing dan media sosial: analisis kontroversi cyberbullying terhadap Jang Won-Young
Teori framing dan media sosial: analisis kontroversi cyberbullying terhadap Jang Won-Young
Teori framing dan media sosial: analisis kontroversi cyberbullying terhadap Jang Won-YoungAbstrakPenelitian ini menggali fenomena cyberbullying yang menimpa Jang Won-young, seorang...
Fenomena Komunikasi Parasosial: Kedekatan Emosional antara Influencer dan Followers di Media Sosial
Fenomena Komunikasi Parasosial: Kedekatan Emosional antara Influencer dan Followers di Media Sosial
Perkembangan media sosial telah menciptakan pola komunikasi baru yang memungkinkan terbentuknya hubungan emosional antara influencer dan followers. Fenomena ini dikenal sebagai kom...

Back to Top