Javascript must be enabled to continue!
Awake Craniotomy Can be Done Humanly?
View through CrossRef
“Humanly” atau berperikemanusiaan, berarti dapatkah awake craniotomy (AC) dilakukan dengan penuh rasa kemanusiaan. Tindakan yang penuh rasa kemanusiaan saat pembedahan yang dilihat dari sudut pandang anestesi pada saat dilakukan operasi otak dengan teknik awake adalah pasien bebas dari rasa sakit, cemas dan tetap nyaman selama dilakukan tindakan pembedahan walaupun pasiennya tetap sadar. Anestesi untuk AC bervariasi dari anestesi lokal ke anestesi umum dengan pasien harus bangun intraoperatif selama dilakukan mapping language dan reseksi tumor. Awake craniotomy dengan menggunakan obat anestesi lokal dan sedasi termonitor untuk operasi tumor intrakranial yang mengenai eloquent cortex merupakan suatu teknik yang dapat diterima. Dengan teknik ini dapat dilakukan mapping intraoperatif yang menyebabkan dapat dilakukan reseksi tumor yang lebih radikal serta meminimalkan morbiditas dengan memelihara jaringan yang berfungsi.
AC adalah suatu prosedur yang mengagumkan yang tidak bisa dipercaya pada saat pertama kali. Prosedur sama dengan kraniotomi standar, dengan satu perbedaan bahwa pasien bangun selama pemetaan korteks dan reseksi tumor, pasien mampu berbicara dan bergerak normal, akan tetapi pasien tidak bangun sepanjang pembedahan, bisa tidur dalam 1–2 jam pertama, namun tidak ada rasa nyeri selama bangun. Awake craniotomy mempunyai dua keuntungan dibandingkan dengan pembedahan biasa dengan anestesi umum yaitu 1) memberikan kesempatan mapping cortex dan subcortex untuk mengurangi morbiditas neurologis dan memaksimalkan luasnya operasi, 2) untuk menghindari morbiditas akibat anestesi umum dan lebih cepat keluar dari rumahsakit. Tidak ada penelitian randomized controll yang telah dilakukan untuk mendukung pernyataan tadi, akan tetapi, pendukung teknik ini yakin akan menguntungkan untuk pasien.
Obat yang diberikan selama prosedur harus mampu memberikan level sedasi dan analgesia yang adekuat untuk pengangkatan tulang kepala, tapi harus tidak mempengaruhi testing fungsional dan elektrokortikografi.
Title: Awake Craniotomy Can be Done Humanly?
Description:
“Humanly” atau berperikemanusiaan, berarti dapatkah awake craniotomy (AC) dilakukan dengan penuh rasa kemanusiaan.
Tindakan yang penuh rasa kemanusiaan saat pembedahan yang dilihat dari sudut pandang anestesi pada saat dilakukan operasi otak dengan teknik awake adalah pasien bebas dari rasa sakit, cemas dan tetap nyaman selama dilakukan tindakan pembedahan walaupun pasiennya tetap sadar.
Anestesi untuk AC bervariasi dari anestesi lokal ke anestesi umum dengan pasien harus bangun intraoperatif selama dilakukan mapping language dan reseksi tumor.
Awake craniotomy dengan menggunakan obat anestesi lokal dan sedasi termonitor untuk operasi tumor intrakranial yang mengenai eloquent cortex merupakan suatu teknik yang dapat diterima.
Dengan teknik ini dapat dilakukan mapping intraoperatif yang menyebabkan dapat dilakukan reseksi tumor yang lebih radikal serta meminimalkan morbiditas dengan memelihara jaringan yang berfungsi.
AC adalah suatu prosedur yang mengagumkan yang tidak bisa dipercaya pada saat pertama kali.
Prosedur sama dengan kraniotomi standar, dengan satu perbedaan bahwa pasien bangun selama pemetaan korteks dan reseksi tumor, pasien mampu berbicara dan bergerak normal, akan tetapi pasien tidak bangun sepanjang pembedahan, bisa tidur dalam 1–2 jam pertama, namun tidak ada rasa nyeri selama bangun.
Awake craniotomy mempunyai dua keuntungan dibandingkan dengan pembedahan biasa dengan anestesi umum yaitu 1) memberikan kesempatan mapping cortex dan subcortex untuk mengurangi morbiditas neurologis dan memaksimalkan luasnya operasi, 2) untuk menghindari morbiditas akibat anestesi umum dan lebih cepat keluar dari rumahsakit.
Tidak ada penelitian randomized controll yang telah dilakukan untuk mendukung pernyataan tadi, akan tetapi, pendukung teknik ini yakin akan menguntungkan untuk pasien.
Obat yang diberikan selama prosedur harus mampu memberikan level sedasi dan analgesia yang adekuat untuk pengangkatan tulang kepala, tapi harus tidak mempengaruhi testing fungsional dan elektrokortikografi.
.
Related Results
Outcome of Awake Craniotomy at a Tertiary Care Hospital
Outcome of Awake Craniotomy at a Tertiary Care Hospital
Objective: To evaluate the outcomes of awake craniotomy, in terms of complications and linguistic consequences at a tertiary care Hospital.
Methodology: A prospective cohort study...
Awake Craniotomy
Awake Craniotomy
Prior to the advent of anesthesia, performing surgical procedures on patients in the awake state was the order of the day. In modern times, especially with the continued advancemen...
Efficacy of neuroendoscopic and small-bone-window craniotomy microsurgery for hypertensive cerebral hemorrhage: a meta-analysis of Chinese RCT studies
Efficacy of neuroendoscopic and small-bone-window craniotomy microsurgery for hypertensive cerebral hemorrhage: a meta-analysis of Chinese RCT studies
ObjectiveTo compare the clinical efficacy of neuroendoscopy and small-bone-window craniotomy microsurgery in the treatment of supratentorial hypertensive intracerebral hemorrhage.M...
Hypertension Screening via Awake-Sleep Differences in Photoplethysmogram Signals
Hypertension Screening via Awake-Sleep Differences in Photoplethysmogram Signals
AbstractBackgroundHypertension is a major risk factor for cardiovascular diseases. This study proposes a novel hypertension screening framework based on awake-sleep differences in ...
A Multi-Scale Study of Thalamic State-Dependent Responsiveness
A Multi-Scale Study of Thalamic State-Dependent Responsiveness
AbstractThe thalamus is the brain’s central relay station, orchestrating sensory processing and cognitive functions. However, how thalamic function depends on internal and external...
Clinical Insights and Management Strategies for Gliosarcoma: A Case Report
Clinical Insights and Management Strategies for Gliosarcoma: A Case Report
Abstract
Introduction: Gliosarcoma (GSM) is a rare, aggressive primary CNS tumor and a histopathological variant of glioblastoma, characterized by both glial and sarcomatou...
Parasagittal cystic meningioma mimicking hemangioblastoma: A case report
Parasagittal cystic meningioma mimicking hemangioblastoma: A case report
Background:
Cystic meningioma is a rare variety with similar histological profiles like the solid tumors. It has been documented in both supratentorial and infratentorial compartm...
Non-contact and non-constraining monitoring of the respiratory rate including sleep disordered breathing using ultra-wideband radar
Non-contact and non-constraining monitoring of the respiratory rate including sleep disordered breathing using ultra-wideband radar
AbstractBackgroundThe respiratory rate (RR) is a critical vital sign controlled by not only metabolic factors but behavior while awake. The prevalence of obstructive sleep apnea (O...

