Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Hubungan muniru (api-apian) dengan tingkat keparahan pasien tuberkulosis paru

View through CrossRef
Background: Pulmonary tuberculosis (TB) remains a public health problem in Indonesia, particularly in areas with specific cultural practices that can worsen patient conditions. One common cultural practice in highland areas such as Bener Meriah Regency is Muniru (burning fire), which involves burning wood indoors to warm the body, resulting in continuous exposure to household smoke. This practice is thought to contribute to the severity of TB in patients. Purpose: To determine the relationship between the habit of muniru (burning fire) and the severity of pulmonary TB in patients. Method: This study used a mixed methods approach combining quantitative and qualitative data. Quantitative data were obtained from 96 patients with smear-positive pulmonary TB selected through purposive sampling and analyzed using chi-square tests and logistic regression. Qualitative data were collected through in-depth interviews with three patients and three healthcare workers. Results: The habit of muniru was significantly associated with TB severity (p=0.000; OR=1.40) and was the most dominant factor in the multivariate model. Respondents who frequently experienced muniru were more likely to develop severe TB. Meanwhile, education level also had a significant influence; Low education increases the risk of TB severity. Conclusion: Exposure to smoke from muniru significantly increases the severity of pulmonary tuberculosis. Culturally based educational interventions and improvements to the household environment are needed as preventative strategies.   Keywords: Fire; Muniru Habits; Severity; Pulmonary Tuberculosis.   Pendahuluan: Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di daerah dengan kebiasaan budaya tertentu yang dapat memperburuk kondisi pasien. Salah satu praktik budaya yang masih umum dilakukan di dataran tinggi seperti Kabupaten Bener Meriah adalah Muniru (api-apian), yaitu kegiatan membakar kayu di dalam ruangan untuk menghangatkan tubuh, sehingga menghasilkan paparan asap rumah tangga secara terus-menerus. Kebiasaan ini diduga berkontribusi terhadap tingkat keparahan TB pada penderita. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan muniru (api-apian) dengan tingkat keparahan pasien tuberkulosis paru. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan mix method yang menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari 96 pasien TB paru BTA (+) yang dipilih secara purposive sampling dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Sementara itu, data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 3 pasien dan 3 tenaga kesehatan. Hasil: Kebiasaan muniru memiliki hubungan signifikan dengan keparahan TB (p=0.000; OR=1.40), dan menjadi faktor paling dominan dalam model multivariat. Responden yang sering muniru cenderung mengalami TB berat. Sementara itu, tingkat pendidikan juga memiliki pengaruh signifikan, pendidikan rendah meningkatkan risiko keparahan TB. Simpulan: Paparan asap dari kebiasaan muniru secara signifikan meningkatkan tingkat keparahan tuberkulosis paru. Diperlukan intervensi edukatif berbasis budaya lokal dan perbaikan lingkungan rumah tangga sebagai strategi pencegahan.   Kata Kunci: Api-Apian; Kebiasaan Muniru; Tingkat Keparahan; Tuberkulosis Paru.
Title: Hubungan muniru (api-apian) dengan tingkat keparahan pasien tuberkulosis paru
Description:
Background: Pulmonary tuberculosis (TB) remains a public health problem in Indonesia, particularly in areas with specific cultural practices that can worsen patient conditions.
One common cultural practice in highland areas such as Bener Meriah Regency is Muniru (burning fire), which involves burning wood indoors to warm the body, resulting in continuous exposure to household smoke.
This practice is thought to contribute to the severity of TB in patients.
Purpose: To determine the relationship between the habit of muniru (burning fire) and the severity of pulmonary TB in patients.
Method: This study used a mixed methods approach combining quantitative and qualitative data.
Quantitative data were obtained from 96 patients with smear-positive pulmonary TB selected through purposive sampling and analyzed using chi-square tests and logistic regression.
Qualitative data were collected through in-depth interviews with three patients and three healthcare workers.
Results: The habit of muniru was significantly associated with TB severity (p=0.
000; OR=1.
40) and was the most dominant factor in the multivariate model.
Respondents who frequently experienced muniru were more likely to develop severe TB.
Meanwhile, education level also had a significant influence; Low education increases the risk of TB severity.
Conclusion: Exposure to smoke from muniru significantly increases the severity of pulmonary tuberculosis.
Culturally based educational interventions and improvements to the household environment are needed as preventative strategies.
  Keywords: Fire; Muniru Habits; Severity; Pulmonary Tuberculosis.
  Pendahuluan: Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di daerah dengan kebiasaan budaya tertentu yang dapat memperburuk kondisi pasien.
Salah satu praktik budaya yang masih umum dilakukan di dataran tinggi seperti Kabupaten Bener Meriah adalah Muniru (api-apian), yaitu kegiatan membakar kayu di dalam ruangan untuk menghangatkan tubuh, sehingga menghasilkan paparan asap rumah tangga secara terus-menerus.
Kebiasaan ini diduga berkontribusi terhadap tingkat keparahan TB pada penderita.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan muniru (api-apian) dengan tingkat keparahan pasien tuberkulosis paru.
Metode: Penelitian menggunakan pendekatan mix method yang menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif.
Data kuantitatif diperoleh dari 96 pasien TB paru BTA (+) yang dipilih secara purposive sampling dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik.
Sementara itu, data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 3 pasien dan 3 tenaga kesehatan.
Hasil: Kebiasaan muniru memiliki hubungan signifikan dengan keparahan TB (p=0.
000; OR=1.
40), dan menjadi faktor paling dominan dalam model multivariat.
Responden yang sering muniru cenderung mengalami TB berat.
Sementara itu, tingkat pendidikan juga memiliki pengaruh signifikan, pendidikan rendah meningkatkan risiko keparahan TB.
Simpulan: Paparan asap dari kebiasaan muniru secara signifikan meningkatkan tingkat keparahan tuberkulosis paru.
Diperlukan intervensi edukatif berbasis budaya lokal dan perbaikan lingkungan rumah tangga sebagai strategi pencegahan.
  Kata Kunci: Api-Apian; Kebiasaan Muniru; Tingkat Keparahan; Tuberkulosis Paru.

Related Results

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
GAMBARAN KEBERHASILAN PENGOBATAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS SEMANDING
GAMBARAN KEBERHASILAN PENGOBATAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS SEMANDING
ABSTRAK          Tuberkulosis Paru telah menjadi masalah kesehatan yang utama di dunia dan angka keberhasilan pengobatan merupakan indikator yang digunakan untuk mengetahui tingkat...
PEMETAAN FAKTOR RISIKO KEJADIAN TUBERKULOSIS DI KOTA PAREPARE
PEMETAAN FAKTOR RISIKO KEJADIAN TUBERKULOSIS DI KOTA PAREPARE
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang dapat mengakibatkan kematian yang disebabkan oleh bakteri (Mycobacterium tuberculosis). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peme...
Interaksi Obat Anti Tuberkulosis pada Pasien Tuberkulosis Paru
Interaksi Obat Anti Tuberkulosis pada Pasien Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis (TB) merupakan suatu penyakit kronik menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Terapi pasien TB paru terdiri dari obat anti tuberkulosis (OAT) d...
GAMBARAN BTA PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU YANG DISERTAI DIABETES MELITUS TIPE 2
GAMBARAN BTA PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU YANG DISERTAI DIABETES MELITUS TIPE 2
Abstract. Diabetes Mellitus (DM) occurs because decreased insulin production or resistance which causes hyperglycemia. Hyperglycemia in DM causes immune system to decrease so Mycob...
Hubungan Fase Pengobatan Tuberkulosis dengan Status Gizi Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Cakranegara
Hubungan Fase Pengobatan Tuberkulosis dengan Status Gizi Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Cakranegara
Latar Belakang: Indonesia merupakan negara dengan kasus Tuberkulosis tertinggi nomor tiga di dunia. Infeksi TB dapat menyebabkan penurunan nafsu makan dan perubahan metabolisme tub...
HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DAN PERILAKU PENCEGAHAN DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU PADA PASIEN TUBERKULOSIS
HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DAN PERILAKU PENCEGAHAN DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU PADA PASIEN TUBERKULOSIS
ABSTRAKTuberkulosis Paru (TB) adalah penyakit infeksi menular yang masih ditemukan di Indonesia.  TB tersebut diduga di sebabkan oleh kebiasaan merokok dan perilaku pencegahan. Tu...

Back to Top