Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Hubungan status nutrisi penderita karsinoma nasofaring stadium lanjut dengan kejadian mukositis sesudah radioterapi

View through CrossRef
Background: Normal nutritional status is a balanced condition of nutritional intake and requirement in a person. Lack of nutrition in cancer patients promotes undesirable effects on various organs and systems of the body. Purpose: To determine the nutritional status differences in patients with advanced stage NPC type III WHO before and after radiotherapy,  and the relationship between nutritional status with mucositis occurance after radiotherapy. Method: Observational analytic study. Sampling was conducted by non-random purposive sampling technique with 10 subjects with NPC. The statistical analysis used paired sample Wilcoxon test and Spearman correlation test. Result: The study found significant differences between nutritional state regarding BMI, LOLA and transferrin before and after radiotherapy with p<0.05. Paired sample t test of BMI, LOLA, transferrin before and after radiotherapy demonstrated BMI p=0.000, LOLA p=0.001 and transferrin p=0.005. The paired sample t test for albumin before and after radiotherapy showed that radiotherapy did not cause significant decrease in albumin. Correlation test to determine the relationship among BMI, LOLA, albumin, and transferrin before radiotherapy with mucositis occurance showed BMI p=0.062, LOLA p=0.209, p=0.904 albumin, transferrin p=0.631 which meant that nutritional state has no corelation with mucositis occurance. While after radiotherapy it showed BMI p=0.122, p=0.209 LOLA, albumin, p=0.902 and transferrin p=1.000 which meant that nutritional state after radiotherapy has no corelation to the occurance of mucositis. Conclusion: Radiotherapy in patients with advanced-stage of NPC caused a significant difference in nutritional state before and after radiotherapy, but had no significant association with mucositis occurance. Keywords: nasopharyngeal carcinoma, radiotherapy, nutritional state, malnutrition, mucositis Abstrak :  Latar belakang: Status nutrisi normal menggambarkan keseimbangan yang baik antara asupan nutrisi dengan kebutuhan nutrisi. Kekurangan nutrisi pada penderita kanker memberikan efek yang tidak diinginkan terhadap struktur dan fungsi hampir semua organ dan sistem tubuh. Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan status nutrisi penderita karsioma nasofaring (KNF) WHO tipe III   stadium lanjut   sebelum dan sesudah radioterapi, hubungan status nutrisinya dengan kejadian mukositis sesudah radioterapi. Metode: Penelitian ini adalah observasional analitik, dengan jumlah sampel 10 penderita KNF. Analisis statistik menggunakan paired sample t test dan uji korelasi Spearman. Hasil: Terdapat perbedaan yang bermakna antara status nutrisi dengan parameter Body Mass Index (BMI), lingkar otot lengan atas (LOLA) dan transferin sebelum dan sesudah radioterapi (BMI p=0,000, LOLA p=0,001 dan transferin p=0,005 dengan p<0,05). Pada paired sample t test albumin sebelum dan sesudah radioterapi menunjukkan nilai p=0,205 yang berarti bahwa radioterapi tidak menyebabkan penurunan albumin yang bermakna. Uji korelasi hubungan antara BMI, LOLA, albumin, dan transferin sebelum radioterapi dengan kejadian mukositis menunjukkan bahwa status nutrisi tidak berhubungan dengan kejadian mukositis (BMI p=0,062, LOLA p=0,209, albumin p=0,904, transferin p=0,631 dengan p>0,05). Uji korelasi hubungan antara BMI, LOLA, albumin, dan transferinsesudah radioterapi menunjukkan bahwa status nutrisi tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian mukositis sesudah radioterapi (BMI p=0,122, LOLA p=0,209, albumin p=0,902 dan transferin p=1,000 dengan p>0,05) Kesimpulan: Pemberian radioterapi pada penderita KNF stadium lanjut menyebabkan penurunan bermakna pada status nutrisi sebelum dan sesudah radioterapi, tetapi tidak berhubungan secara bermakna dengan kejadian mukositis sesudah radioterapi.  Kata kunci: karsinoma nasofaring, radioterapi, status nutrisi, malnutrisi, mukositis.
Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Indonesia - PERHATI-KL
Title: Hubungan status nutrisi penderita karsinoma nasofaring stadium lanjut dengan kejadian mukositis sesudah radioterapi
Description:
Background: Normal nutritional status is a balanced condition of nutritional intake and requirement in a person.
Lack of nutrition in cancer patients promotes undesirable effects on various organs and systems of the body.
Purpose: To determine the nutritional status differences in patients with advanced stage NPC type III WHO before and after radiotherapy,  and the relationship between nutritional status with mucositis occurance after radiotherapy.
Method: Observational analytic study.
Sampling was conducted by non-random purposive sampling technique with 10 subjects with NPC.
The statistical analysis used paired sample Wilcoxon test and Spearman correlation test.
Result: The study found significant differences between nutritional state regarding BMI, LOLA and transferrin before and after radiotherapy with p<0.
05.
Paired sample t test of BMI, LOLA, transferrin before and after radiotherapy demonstrated BMI p=0.
000, LOLA p=0.
001 and transferrin p=0.
005.
The paired sample t test for albumin before and after radiotherapy showed that radiotherapy did not cause significant decrease in albumin.
Correlation test to determine the relationship among BMI, LOLA, albumin, and transferrin before radiotherapy with mucositis occurance showed BMI p=0.
062, LOLA p=0.
209, p=0.
904 albumin, transferrin p=0.
631 which meant that nutritional state has no corelation with mucositis occurance.
While after radiotherapy it showed BMI p=0.
122, p=0.
209 LOLA, albumin, p=0.
902 and transferrin p=1.
000 which meant that nutritional state after radiotherapy has no corelation to the occurance of mucositis.
Conclusion: Radiotherapy in patients with advanced-stage of NPC caused a significant difference in nutritional state before and after radiotherapy, but had no significant association with mucositis occurance.
Keywords: nasopharyngeal carcinoma, radiotherapy, nutritional state, malnutrition, mucositis Abstrak :  Latar belakang: Status nutrisi normal menggambarkan keseimbangan yang baik antara asupan nutrisi dengan kebutuhan nutrisi.
Kekurangan nutrisi pada penderita kanker memberikan efek yang tidak diinginkan terhadap struktur dan fungsi hampir semua organ dan sistem tubuh.
Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan status nutrisi penderita karsioma nasofaring (KNF) WHO tipe III   stadium lanjut   sebelum dan sesudah radioterapi, hubungan status nutrisinya dengan kejadian mukositis sesudah radioterapi.
Metode: Penelitian ini adalah observasional analitik, dengan jumlah sampel 10 penderita KNF.
Analisis statistik menggunakan paired sample t test dan uji korelasi Spearman.
Hasil: Terdapat perbedaan yang bermakna antara status nutrisi dengan parameter Body Mass Index (BMI), lingkar otot lengan atas (LOLA) dan transferin sebelum dan sesudah radioterapi (BMI p=0,000, LOLA p=0,001 dan transferin p=0,005 dengan p<0,05).
Pada paired sample t test albumin sebelum dan sesudah radioterapi menunjukkan nilai p=0,205 yang berarti bahwa radioterapi tidak menyebabkan penurunan albumin yang bermakna.
Uji korelasi hubungan antara BMI, LOLA, albumin, dan transferin sebelum radioterapi dengan kejadian mukositis menunjukkan bahwa status nutrisi tidak berhubungan dengan kejadian mukositis (BMI p=0,062, LOLA p=0,209, albumin p=0,904, transferin p=0,631 dengan p>0,05).
Uji korelasi hubungan antara BMI, LOLA, albumin, dan transferinsesudah radioterapi menunjukkan bahwa status nutrisi tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian mukositis sesudah radioterapi (BMI p=0,122, LOLA p=0,209, albumin p=0,902 dan transferin p=1,000 dengan p>0,05) Kesimpulan: Pemberian radioterapi pada penderita KNF stadium lanjut menyebabkan penurunan bermakna pada status nutrisi sebelum dan sesudah radioterapi, tetapi tidak berhubungan secara bermakna dengan kejadian mukositis sesudah radioterapi.
 Kata kunci: karsinoma nasofaring, radioterapi, status nutrisi, malnutrisi, mukositis.

Related Results

Karakteristik Pasien Karsinoma Nasofaring Di Rs.Pelamonia Makassar Tahun 2020-2022
Karakteristik Pasien Karsinoma Nasofaring Di Rs.Pelamonia Makassar Tahun 2020-2022
Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di lndonesia. Hampir 60 % tumor ganas kepala dan leher merupakan karsinoma nasofaring, k...
Karakteristik Histopatologi dan Stadium Klinis Kanker Nasofaring
Karakteristik Histopatologi dan Stadium Klinis Kanker Nasofaring
Latar Belakang : Kanker Nasofaring merupakan penyakit endemik di beberapa bagian di Asia Tenggara dan Cina. Pada tahun 2018 terdapat 348.809 kasus baru dan 207.210 kematian yang di...
GAMBARAN FAKTOR RISIKO PASIEN KANKER NASOFARING
GAMBARAN FAKTOR RISIKO PASIEN KANKER NASOFARING
Kanker nasofaring di Indonesia menempati urutan keempat menjadi penyakit kanker terbanyak setelah kanker payudara, kanker leher rahim, dan kanker paru. Perjalanan kanker nasofaring...
Gambaran stadium dan jenis histopatologi kanker payudara di Subbagian Bedah Onkologi RSUP Sanglah Denpasar tahun 2015-2016
Gambaran stadium dan jenis histopatologi kanker payudara di Subbagian Bedah Onkologi RSUP Sanglah Denpasar tahun 2015-2016
Latar Belakang: Kanker payudara merupakan suatu penyakit neoplasma yang ganas dimana pada jaringan parekim terdapat pertumbuhan jaringan payudara abnormal yang bersifat infiltratif...
Pengaruh Radioterapi Terhadap Kadar TSH dan T4 pada Pasien Tumor Ganas Kepala dan Leher
Pengaruh Radioterapi Terhadap Kadar TSH dan T4 pada Pasien Tumor Ganas Kepala dan Leher
Latar belakang: Tumor ganas kepala dan leher adalah tumor ganas yang berasal dari epitel traktus aerodigestif atas. Radioterapi adalah salah satu modalitas talaksana pada tumor gan...
SISTEM PERENCANAAN RADIOTERAPI PADA KANKER NASOFARING MENGGUNAKAN 3D SLICER
SISTEM PERENCANAAN RADIOTERAPI PADA KANKER NASOFARING MENGGUNAKAN 3D SLICER
Radioterapi merupakan salah satu terapi yang digunakan untuk pengobatan kanker nasofaring. Radioterapi memiliki sistem perencanaan yang disebut TPS (Treatment Planning System). Pen...
Gambaran Hasil Pemeriksaan Pasien Gangguan Menelan Fase Faringeal Usia 64 tahun
Gambaran Hasil Pemeriksaan Pasien Gangguan Menelan Fase Faringeal Usia 64 tahun
Latar Belakang: Disfagia merupakan gangguan menelan yang sering terjadi pada pasien kanker nasofaring, terutama setelah menjalani kemoterapi dan radioterapi. Gangguan ini dapat mem...

Back to Top