Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Dampak Kebijakan Bea Keluar Terhadap Kinerja Industri Pengolahan Kakao

View through CrossRef
Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ke tiga di dunia setelah Negara Pantai Gading dan Ghana. Volume dan nilai ekspor hingga tahun 2010 cenderung meningkat, namun didominasi ekspor dalam bentuk biji kakao, sementara produk olahan kakao Indonesia masih belum berkembang. Ekspor dalam bentuk biji kakao mengakibatkan  kurangnya ketersediaan  bahan baku industri dalam negeri yang diindikasikan oleh  kinerja industri yang bekerja di bawah kapasitas terpasang. Pemerintah Indonesia  menerapkan regulasi melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67/PMK.011/2010 tentang Penetapan Barang Ekspor Yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar bertujuan membatasi ekspor biji kakao untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak pemberlakuan PMK Nomor 67/PMK.011/2010 terhadap kinerja industri pengolahan dan ekspor olahan kakao. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa pada periode tahun 2008-2012 rata-rata peningkatan produksi kakao nasional sebesar 2,8 persen/tahun dengan rata-rata produktivitasnya masih sangat rendah sebesar 506,4 kg/Ha. Volume ekspor biji kakao periode tahun 2008-2010 terjadi kenaikan rata-rata sebesar 2,4 persen/ tahun, namun pada tahun 2011-2012 terjadi penurunan dari tahun sebelumnya sebesar 15,6 persen/tahun. Sementara itu, beberapa kinerja industri pengolahan kakao dalam negeri pada tahun 2010 bekerja di bawah kapasita terpasang karena kurangnya ketersediaan bahan baku, sedangkan pada periode tahun 2011-2012 terjadi peningkatan produksi mendekati kapasitas terpasang. Dapat disimpulkan bahwa pemberlakuan PMK Nomor 67/PMK.011/2010 cukup efektif yang diindikasikan oleh penurunan volume ekspor biji kakao, kenaikan kinerja industri dan ekspor olahan kakao
Program Studi Teknik Mesin Institut Teknologi Indonesia
Title: Dampak Kebijakan Bea Keluar Terhadap Kinerja Industri Pengolahan Kakao
Description:
Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ke tiga di dunia setelah Negara Pantai Gading dan Ghana.
Volume dan nilai ekspor hingga tahun 2010 cenderung meningkat, namun didominasi ekspor dalam bentuk biji kakao, sementara produk olahan kakao Indonesia masih belum berkembang.
Ekspor dalam bentuk biji kakao mengakibatkan  kurangnya ketersediaan  bahan baku industri dalam negeri yang diindikasikan oleh  kinerja industri yang bekerja di bawah kapasitas terpasang.
Pemerintah Indonesia  menerapkan regulasi melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67/PMK.
011/2010 tentang Penetapan Barang Ekspor Yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar bertujuan membatasi ekspor biji kakao untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak pemberlakuan PMK Nomor 67/PMK.
011/2010 terhadap kinerja industri pengolahan dan ekspor olahan kakao.
Hasil penelitian menunjukkan, bahwa pada periode tahun 2008-2012 rata-rata peningkatan produksi kakao nasional sebesar 2,8 persen/tahun dengan rata-rata produktivitasnya masih sangat rendah sebesar 506,4 kg/Ha.
Volume ekspor biji kakao periode tahun 2008-2010 terjadi kenaikan rata-rata sebesar 2,4 persen/ tahun, namun pada tahun 2011-2012 terjadi penurunan dari tahun sebelumnya sebesar 15,6 persen/tahun.
Sementara itu, beberapa kinerja industri pengolahan kakao dalam negeri pada tahun 2010 bekerja di bawah kapasita terpasang karena kurangnya ketersediaan bahan baku, sedangkan pada periode tahun 2011-2012 terjadi peningkatan produksi mendekati kapasitas terpasang.
Dapat disimpulkan bahwa pemberlakuan PMK Nomor 67/PMK.
011/2010 cukup efektif yang diindikasikan oleh penurunan volume ekspor biji kakao, kenaikan kinerja industri dan ekspor olahan kakao.

Related Results

DAYA SAING EKSPOR KAKAO OLAHAN INDONESIA
DAYA SAING EKSPOR KAKAO OLAHAN INDONESIA
Indonesia merupakan penghasil kakao terbesar ketiga di dunia. Sebagian besar kakao diekspor keluar negeri. Maka pemerintah menerapkan peraturan yang membatasi ekspor kakao. Menurun...
Analisis pengaruh kebijakan bea keluar biji kakao, impor biji kakao, ekspor biji kakao dan harga cocoa butter terhadap ekspor cocoa butter
Analisis pengaruh kebijakan bea keluar biji kakao, impor biji kakao, ekspor biji kakao dan harga cocoa butter terhadap ekspor cocoa butter
The export duty policy was initially intended to increase the value added of cocoa beans. On the other hand, in the past few years there has been a significant increase in imports ...
Analisis Pengaruh Produksi, Harga Dan Nilai Tukar Terhadap Ekspor Biji Kakao Indonesia Ke Belanda
Analisis Pengaruh Produksi, Harga Dan Nilai Tukar Terhadap Ekspor Biji Kakao Indonesia Ke Belanda
Indonesia adalah salah satu produsen biji kakao terbesar di dunia. Kakao menjadi salah satu komoditi unggulan Indonesia yang di ekspor ke pasar internasional. Belanda menjadi salah...
PENINGKATAN NILAI TAMBAH PRODUK KAKAO DI DESA SUNGAI LANGKA KABUPATEN PESAWARAN
PENINGKATAN NILAI TAMBAH PRODUK KAKAO DI DESA SUNGAI LANGKA KABUPATEN PESAWARAN
Agribisnis kakao di Kabupaten Pesawaran masih menghadapi berbagai masalah kompleks antara lain rendahnya produktivitas kakao, mutu produk masih rendah, dan belum adanya nilai tamba...
DISERTASI (FERMENTASI BIJI KAKAO KERING TERKENDALI MENGGUNAKAN INOKULUM MIKROBIA)
DISERTASI (FERMENTASI BIJI KAKAO KERING TERKENDALI MENGGUNAKAN INOKULUM MIKROBIA)
Biji kakao kering ditingkat petani sebagian besar dihasilkan tanpa fermentasiyang mempunyai beberapa kelemahan diantaranya tidak menghasilkan prekursorflavour khas kakao. Upaya unt...

Back to Top