Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Analisis senyawa bioaktif serta karakteristik sensori teh dari edible flower

View through CrossRef
Edible flower adalah jenis bunga yang aman untuk dikonsumsi. Edible flower kaya akan senyawa bioaktif seperti asam fenolik, karotenoid, dan flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dua jenis edible flower, yaitu Nasturtium (Tropaeolum majus) dan Torenia (Torenia fournieri) guna pengembangannya sebagai produk teh celup. Teh celup bunga Rosella yang sudah dikenal luas digunakan sebagai produk pembanding. Pengolahan teh celup terdiri dari beberapa tahapan yaitu persiapan dan pengeringan edible flower dan proses penyeduhannya. Seduhan teh edible flower kemudian dianalisis total flavonoid, aktivitas antioksidan, dan sifat sensorisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seduhan teh celup bunga Torenia  mempunyai total fenol dan aktivitas antioksidan paling tinggi, yaitu 58,04 mg QE/g ekstrak dan IC50 9,18 mg/L, disusul oleh seduhan teh celup bunga Nasturtium (45,12 mg WE/g ekstrak dan 11,62 mg/L) dan teh celup bunga Rosella (19,55 mg QE/g ekstrak dan 19,77 mg/L). Seduhan teh bunga Torenia mendapatkan respons sensoris hedonik yang setara dengan seduhan teh bunga Rosella untuk atribut warna, aroma dan rasa, yaitu disukai, tetapi lebih baik untuk atribut keseluruhan (disukai dibanding agak disukai). Sedangkan teh bunga Nasturtium mendapatkan respons sensoris hedonik lebih rendah dari keduanya. Diantara dua teh edible flower yang diuji, teh bunga Torenia lebih berpotensi untuk dikembangkan menjadi teh herbal karena mempunyai respons sensoris setara dengan teh bunga Rosella tetapi mempunyai aktivitas antioksidan yang lebih tinggi.
Title: Analisis senyawa bioaktif serta karakteristik sensori teh dari edible flower
Description:
Edible flower adalah jenis bunga yang aman untuk dikonsumsi.
Edible flower kaya akan senyawa bioaktif seperti asam fenolik, karotenoid, dan flavonoid.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dua jenis edible flower, yaitu Nasturtium (Tropaeolum majus) dan Torenia (Torenia fournieri) guna pengembangannya sebagai produk teh celup.
Teh celup bunga Rosella yang sudah dikenal luas digunakan sebagai produk pembanding.
Pengolahan teh celup terdiri dari beberapa tahapan yaitu persiapan dan pengeringan edible flower dan proses penyeduhannya.
Seduhan teh edible flower kemudian dianalisis total flavonoid, aktivitas antioksidan, dan sifat sensorisnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seduhan teh celup bunga Torenia  mempunyai total fenol dan aktivitas antioksidan paling tinggi, yaitu 58,04 mg QE/g ekstrak dan IC50 9,18 mg/L, disusul oleh seduhan teh celup bunga Nasturtium (45,12 mg WE/g ekstrak dan 11,62 mg/L) dan teh celup bunga Rosella (19,55 mg QE/g ekstrak dan 19,77 mg/L).
Seduhan teh bunga Torenia mendapatkan respons sensoris hedonik yang setara dengan seduhan teh bunga Rosella untuk atribut warna, aroma dan rasa, yaitu disukai, tetapi lebih baik untuk atribut keseluruhan (disukai dibanding agak disukai).
Sedangkan teh bunga Nasturtium mendapatkan respons sensoris hedonik lebih rendah dari keduanya.
Diantara dua teh edible flower yang diuji, teh bunga Torenia lebih berpotensi untuk dikembangkan menjadi teh herbal karena mempunyai respons sensoris setara dengan teh bunga Rosella tetapi mempunyai aktivitas antioksidan yang lebih tinggi.

Related Results

KOMPARASI SIFAT ANTIOKSIDATIF SEDUHAN TEH HIJAU, TEH HITAM, TEH OOLONG DAN TEH PUTIH PRODUKSI PT PERKEBUNAN NUSANTARA IX
KOMPARASI SIFAT ANTIOKSIDATIF SEDUHAN TEH HIJAU, TEH HITAM, TEH OOLONG DAN TEH PUTIH PRODUKSI PT PERKEBUNAN NUSANTARA IX
Teh merupakan minuman yang paling populer di masyarakat. Terdapat empat jenis teh : teh hijau, teh hitam, teh oolong, teh putih. Keempatnya dibedakan berdasarkan proses pengolahan....
Pengendalian Kualitas pada Proses Pengolahan Teh Hijau Menggunakan Metode Lean Six Sigma
Pengendalian Kualitas pada Proses Pengolahan Teh Hijau Menggunakan Metode Lean Six Sigma
Teh hijau diproduksi dengan cara inaktivasi enzim polifenol oksidase pada daun teh pada suhu 90-110°C. Kualitas teh hijau dipengaruhi oleh kualitas pucuk yang digunakan untuk pengo...
EVALUASI KESESUAIAN MUTU PRODUK TEH DENGAN PERSYARATAN STANDAR NASIONAL INDONESIA
EVALUASI KESESUAIAN MUTU PRODUK TEH DENGAN PERSYARATAN STANDAR NASIONAL INDONESIA
Indonesia merupakan produsen teh terbesar ke tujuh dunia dengan total produk mencapai 125 ribu ton pada 2016 yang berkontribusi sebesar 3% dari total produksi teh dunia. Kualitas p...
Pengaruh Citra Merek Terhadap Pengambilan Keputusan Pembelian Teh Botol Sosro
Pengaruh Citra Merek Terhadap Pengambilan Keputusan Pembelian Teh Botol Sosro
Brand image is one of teh key factors in influencing consumer buying behavior, especially in teh packaged beverage industry. Teh sosro bottle is one of teh most popular brands of t...
POLA KOMERSIALISASI TEH HIJAU PADA INDUSTRI HOSPITALITY : PANDANGAN PELAKU USAHA
POLA KOMERSIALISASI TEH HIJAU PADA INDUSTRI HOSPITALITY : PANDANGAN PELAKU USAHA
Teh adalah produk yang dikonsumsi secara luas dinikmati oleh konsumen di seluruh dunia. Popularitasnya adalah karena manfaat kesehatannya yang terbukti secara ilmiah jika dikonsums...
REKONSTRUKSI “ISLAM TEH SUNDA, SUNDA TEH ISLAM”
REKONSTRUKSI “ISLAM TEH SUNDA, SUNDA TEH ISLAM”
This paper describes the background of the “Islam teh Sunda dan Sunda teh Islam” means that “Islam is the same as the Sunda and Sunda that is Islam”, the term, was introduced by Ha...

Back to Top