Javascript must be enabled to continue!
MAHENDRADATTA: HER ROLES BASED ON ARCHEOLOGICAL INSCRIPTIONS VIEWED FROM FEMINISM APPROACH
View through CrossRef
Berkaitan dengan penelitian yang kerap dilakukan dalam kajian epigrafi, masa Hindu-Buddha menjadi masa yang seringkali dijadikan bahan kajian para ahli epigrafi. Salah satu masa dalam Hindu-Buddha yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah masa Dinasti Isana di Jawa Timur. Selama kekuasaan Dinasti Isana, raja-raja yang berkuasa banyak melakukan inisiasi hubungan diplomasi dengan kerajaan asing. Pembinaan hubungan dengan bangsa asing yang dilakukukan Dinasti Isana sebelum Airlangga berkuasa juga rupanya diikuti pula dengan pembinaan hubungan politik dengan kerajaan Nusantara, yaitu Kerajaan Bali yang dikuasai oleh Dinasti Warmadewa. Mahendradatt? sebagai perempuan berkuasa yang hidup dalam pusaran politik kerajaan Isana (Jawa) dan Bali, telah meninggalkan beberapa tinggalan berupa prasasti-prasasti baik di Jawa maupun di Bali. Prasasti yang ditinggalkan memunculkan suatu pertanyaan mengenai apa peranan dari seorang perempuan berkuasa seperti Mahendradatt? dalam menjalankan hubungan politik antara Jawa dan Bali berdasarkan data prasasti? Metode yang digunakan dalam menjawab pertanyaan tersebut terdiri dari beberapa tahapan, antara lain tahap formulasi, pengumpulan data, analisis dan interpretasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa prasasti, diantaranya Prasasti Pucangan Sansekerta (Jawa), Buahan A, Serai A II, Batur Abang A, Sading A dan Bebetin A2. Kesemuanya kemudian di analisis melalui deskripsi isi prasasti. Isi prasasti kemudian diinterpretasi dengan landasan teori arkeologi feminisme.
Inscription is a source of writing that is often used by archaeologist to reconstruct past cultures. The study of inscriptions is called epigraphy. The Hindu-Budhist period is one of the periods in which epigraphy is practiced. The current study is focused on the 10th and 11th centuries Isana Kingdom of East Java. In the 10th and 11th centuries, the kingdom had diplomatic relations with several other kingdoms, one of which was with Bali. Mahedradatta as a powerful woman who lived in the political vortex of the Isana Kingdom (Java) was a figure who helped foster diplomatic relations through marriage to King Udayana. The inscription issued by Mahedradatta begs the question of how powerful this woman was in the context of Javanese and Balinese ties. The method used is the archaeological observations, including data collection, analysis and interpretation. The data used in this study include Sanskrit Pucangan Inscription (Java), Bwahan A, Batur Pura Abang A, Sading A and Bebetin A2. The contents of the inscription were the interpreted based on feminism approach. The variables employed cover gender and ethnicity of Mahendratta.
Title: MAHENDRADATTA: HER ROLES BASED ON ARCHEOLOGICAL INSCRIPTIONS VIEWED FROM FEMINISM APPROACH
Description:
Berkaitan dengan penelitian yang kerap dilakukan dalam kajian epigrafi, masa Hindu-Buddha menjadi masa yang seringkali dijadikan bahan kajian para ahli epigrafi.
Salah satu masa dalam Hindu-Buddha yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah masa Dinasti Isana di Jawa Timur.
Selama kekuasaan Dinasti Isana, raja-raja yang berkuasa banyak melakukan inisiasi hubungan diplomasi dengan kerajaan asing.
Pembinaan hubungan dengan bangsa asing yang dilakukukan Dinasti Isana sebelum Airlangga berkuasa juga rupanya diikuti pula dengan pembinaan hubungan politik dengan kerajaan Nusantara, yaitu Kerajaan Bali yang dikuasai oleh Dinasti Warmadewa.
Mahendradatt? sebagai perempuan berkuasa yang hidup dalam pusaran politik kerajaan Isana (Jawa) dan Bali, telah meninggalkan beberapa tinggalan berupa prasasti-prasasti baik di Jawa maupun di Bali.
Prasasti yang ditinggalkan memunculkan suatu pertanyaan mengenai apa peranan dari seorang perempuan berkuasa seperti Mahendradatt? dalam menjalankan hubungan politik antara Jawa dan Bali berdasarkan data prasasti? Metode yang digunakan dalam menjawab pertanyaan tersebut terdiri dari beberapa tahapan, antara lain tahap formulasi, pengumpulan data, analisis dan interpretasi.
Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa prasasti, diantaranya Prasasti Pucangan Sansekerta (Jawa), Buahan A, Serai A II, Batur Abang A, Sading A dan Bebetin A2.
Kesemuanya kemudian di analisis melalui deskripsi isi prasasti.
Isi prasasti kemudian diinterpretasi dengan landasan teori arkeologi feminisme.
Inscription is a source of writing that is often used by archaeologist to reconstruct past cultures.
The study of inscriptions is called epigraphy.
The Hindu-Budhist period is one of the periods in which epigraphy is practiced.
The current study is focused on the 10th and 11th centuries Isana Kingdom of East Java.
In the 10th and 11th centuries, the kingdom had diplomatic relations with several other kingdoms, one of which was with Bali.
Mahedradatta as a powerful woman who lived in the political vortex of the Isana Kingdom (Java) was a figure who helped foster diplomatic relations through marriage to King Udayana.
The inscription issued by Mahedradatta begs the question of how powerful this woman was in the context of Javanese and Balinese ties.
The method used is the archaeological observations, including data collection, analysis and interpretation.
The data used in this study include Sanskrit Pucangan Inscription (Java), Bwahan A, Batur Pura Abang A, Sading A and Bebetin A2.
The contents of the inscription were the interpreted based on feminism approach.
The variables employed cover gender and ethnicity of Mahendratta.
Related Results
Rebooting Roseanne: Feminist Voice across Decades
Rebooting Roseanne: Feminist Voice across Decades
In recent years, the US television landscape has been flooded with reboots, remakes, and revivals of “classic” nineties television series, such as Full/er House (1987-1995, 2016-pr...
Mindy Calling: Size, Beauty, Race in The Mindy Project
Mindy Calling: Size, Beauty, Race in The Mindy Project
When characters in the Fox Television sitcom The Mindy Project call Mindy Lahiri fat, Mindy sees it as a case of misidentification. She reminds the character that she is a “petite ...
Born To Die: Lana Del Rey, Beauty Queen or Gothic Princess?
Born To Die: Lana Del Rey, Beauty Queen or Gothic Princess?
Closer examination of contemporary art forms including music videos in addition to the Gothic’s literature legacy is essential, “as it is virtually impossible to ignore the relatio...
E-Press and Oppress
E-Press and Oppress
From elephants to ABBA fans, silicon to hormone, the following discussion uses a new research method to look at printed text, motion pictures and a te...
Like Lady Godiva
Like Lady Godiva
Introducing Lady Godiva through a Fan-Historical Lens
The legend of Lady Godiva, who famously rode naked through the streets of Coventry, veiled only by her long, flowing hair, has...
“Lavender Haze” in the Airways
“Lavender Haze” in the Airways
Introduction
Taylor Swift has dominated global press in recent years through the success of her Eras Tour, her use of authenticity in branding (Khanal 234), and her choreographed e...
Transnational Feminism
Transnational Feminism
Transnational feminism developed out of postcolonial and women of color feminisms, both of which critiqued the idea that “sisterhood is global” (see Robin Morgan, Sisterhood is Glo...
Power in Silence: Captions, Deafness, and the Final Girl
Power in Silence: Captions, Deafness, and the Final Girl
IntroductionThe horror film Hush (2016) has attracted attention since its release due to the uniqueness of its central character—a deaf–mute author who lives in a world of silence....

