Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Perbandingan Kejadian Alopesia Androgenik yang Berketombe (Pityriasis Sicca) dan tidak Berketombe di Universitas Muslim Indonesia

View through CrossRef
Alopesia androgenik adalah penipisan rambut pada manusia yang ditandai dengan penurunan tajam dalam ukuran folikel rambut, yang dapat dikaitkan dengan hilangnya batang rambut folikel atau sel progenitor. Alopesia dengan pola khas yang dimulai dari frontal dan vertex sehingga garis rambut terlihat mundur, meninggalkan rambut di parietal saja. Ketombe tidak menyebabkan kebotakan, meskipun pada kasus-kasus yang paling ekstrim ketombe bisa menyebabkan kerontokan rambut. Prevalensi alopesia androgenik pada laki-laki meningkat seiring bertambahnya usia dan saat remaja. Dalam suatu penelitian, hampir 30% kasus terjadi pada laki-laki kulit putih berusia 30 tahun, 50% pada usia 50 tahun, dan 80% pada usia 70 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kejadian alopesia androgenik yang berketombe (Pityriasis sicca) dan tidak berketombe. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif observasional dengan metode case control dengan menggunakan pendekatan “retrospective”. Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia, RS Ibnu Sina Makassar dan Menara Universitas Muslim Indonesia dengan 24 sampel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang bermakna pada alopesia androgenik yang berketombe (Pityriasis sicca) dan tidak berketombe. Sebagai kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik sampel alopesia androgenik berdasarkan umur paling banyak terdapat pada umur 41-50 tahun dengan 9 sampel (37.5%), karakteristik berdasarkan sampel yang tidak berketombe lebih banyak pada alopesia androgenik dengan 17 sampel (70.8%), sedangkan berdasarkan tingkat keparahan alopesia androgenik ringan-sedang lebih banyak terjadi dibandingkan dengan tingkat keparahan alopesia androgenik berat (n= 20 v 4).
Title: Perbandingan Kejadian Alopesia Androgenik yang Berketombe (Pityriasis Sicca) dan tidak Berketombe di Universitas Muslim Indonesia
Description:
Alopesia androgenik adalah penipisan rambut pada manusia yang ditandai dengan penurunan tajam dalam ukuran folikel rambut, yang dapat dikaitkan dengan hilangnya batang rambut folikel atau sel progenitor.
Alopesia dengan pola khas yang dimulai dari frontal dan vertex sehingga garis rambut terlihat mundur, meninggalkan rambut di parietal saja.
Ketombe tidak menyebabkan kebotakan, meskipun pada kasus-kasus yang paling ekstrim ketombe bisa menyebabkan kerontokan rambut.
Prevalensi alopesia androgenik pada laki-laki meningkat seiring bertambahnya usia dan saat remaja.
Dalam suatu penelitian, hampir 30% kasus terjadi pada laki-laki kulit putih berusia 30 tahun, 50% pada usia 50 tahun, dan 80% pada usia 70 tahun.
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kejadian alopesia androgenik yang berketombe (Pityriasis sicca) dan tidak berketombe.
Penelitian ini dilakukan secara deskriptif observasional dengan metode case control dengan menggunakan pendekatan “retrospective”.
Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia, RS Ibnu Sina Makassar dan Menara Universitas Muslim Indonesia dengan 24 sampel.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang bermakna pada alopesia androgenik yang berketombe (Pityriasis sicca) dan tidak berketombe.
Sebagai kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik sampel alopesia androgenik berdasarkan umur paling banyak terdapat pada umur 41-50 tahun dengan 9 sampel (37.
5%), karakteristik berdasarkan sampel yang tidak berketombe lebih banyak pada alopesia androgenik dengan 17 sampel (70.
8%), sedangkan berdasarkan tingkat keparahan alopesia androgenik ringan-sedang lebih banyak terjadi dibandingkan dengan tingkat keparahan alopesia androgenik berat (n= 20 v 4).

Related Results

Hubungan andropause dengan alopesia androgenik pada aparatur sipil negara di Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung tahun 2022
Hubungan andropause dengan alopesia androgenik pada aparatur sipil negara di Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung tahun 2022
Introduction: Andropause is a collection of clinical symptoms due to a decrease in testosterone levels below normal limits. Androgenic alopecia is baldness caused by the susceptibi...
SISTEM INFORMASI SEBAGAI KEILMUAN YANG MULTIDISIPLINER
SISTEM INFORMASI SEBAGAI KEILMUAN YANG MULTIDISIPLINER
Saat ini, dibandingkan dengan negara sekitar, di manakah posisi Indonesia? Tepat sesaat sebelum pandemi, World bank mengkategorikan Indonesia pada posisi upper middle income dan PB...
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
<p>Penelitian ini dilakukan di Kotamadya<br />Mataram Nusa Tenggara Barat. Sasaran<br />penelitian adalah suatu masyarakat lokal yang<br />menamakan dirinya...
Pola Komunikasi Mahasiswa Muslim di Kampus Kristen
Pola Komunikasi Mahasiswa Muslim di Kampus Kristen
Abstract. Researchers are interested in doing this research because of the phenomenon of Muslim students who decide to study at one of the private universities in the city of Bandu...
Pesan dari Managing Editor
Pesan dari Managing Editor
Salam sejahtera, Untuk volume 17 edisi 2 tahun 2019, Jurnal Psikologi Sosial (JPS) menerbitkan tujuh naskah dengan topik yang menyentuh berbagai fenomena di masyarakat Indonesia. ...
PITYRIASIS ROSEA VERSUS SECONDARY SYPHILIS: CLINICAL SIMILARITIES AND DIFFERENCES IN DERMATOLOGICAL PRACTICE
PITYRIASIS ROSEA VERSUS SECONDARY SYPHILIS: CLINICAL SIMILARITIES AND DIFFERENCES IN DERMATOLOGICAL PRACTICE
Introduction: Pityriasis rosea and secondary syphilis can appear clinically similar but have different causes. An accurate diagnosis, supported by clinical evaluation and testing, ...
ANALISIS RISIKO OPERASIONAL DI PERGURUAN TINGGI
ANALISIS RISIKO OPERASIONAL DI PERGURUAN TINGGI
ABSTRAKPenelitian ini dilakukan di Perguruan Tinggi tentang risiko operasional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis risiko operasional yang diakibatkan dari hubung...

Back to Top