Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Perbandingan Kadar Kortisol Dalam Serum Pasien Psoriasis Vulgaris Dengan Bukan Pasien Psoriasis Vulgaris

View through CrossRef
Psoriasis adalah suatu penyakit kulit kronis yang secara klasik ditandai oleh daerah kulit memerah dan menebal, ditutupi skuama keperakan. Etiopatogenesisnya kompleks, melibatkan faktor genetik, imunologik dan lingkungan. Kemungkinan adanya kontribusi neuroendokrin pada patogenesis psoriasis cukup menarik perhatian. Kortisol merupakan salah satu profil neuroendokrin yang berinteraksi dengan banyak jalur dalam mencetuskan psoriasis, antara lain regulasi kompartemen epidermis, modulasi respons imun, dan stres.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar kortisol dalam serum antara pasien psoriasis vulgaris dengan bukan pasien psoriasis vulgaris, menggunakan rancangan penelitian analitik dengan pendekatan potong lintang. Penelitian dilakukan sejak bulan Juni sampai Oktober 2016 di RSUP H. Adam Malik Medan. Kadar kortisol dalam serum subyek diperiksa dengan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Digunakan uji T-independen untuk menilai perbandingan kadar kortisol dalam serum antara kedua kelompok.Selama 5 bulan penelitian didapatkan 40 subyek penelitian yang terdiri atas 20 pasien psoriasis vulgaris dan 20 bukan pasien psoriasis vulgaris. Ditemukan kadar rerata kortisol yang lebih rendah dalam serum pasien psoriasis vulgaris (7,185  5,04 g/dL) dibandingkan dengan bukan pasien psoriasis vulgaris (10,390  3,74 g/dL) yang bermakna secara statistik (p<0,05).Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik pada nilai rerata kadar kortisol dalam serum antara pasien psoriasis vulgaris dengan bukan pasien psoriasis vulgaris.
Title: Perbandingan Kadar Kortisol Dalam Serum Pasien Psoriasis Vulgaris Dengan Bukan Pasien Psoriasis Vulgaris
Description:
Psoriasis adalah suatu penyakit kulit kronis yang secara klasik ditandai oleh daerah kulit memerah dan menebal, ditutupi skuama keperakan.
Etiopatogenesisnya kompleks, melibatkan faktor genetik, imunologik dan lingkungan.
Kemungkinan adanya kontribusi neuroendokrin pada patogenesis psoriasis cukup menarik perhatian.
Kortisol merupakan salah satu profil neuroendokrin yang berinteraksi dengan banyak jalur dalam mencetuskan psoriasis, antara lain regulasi kompartemen epidermis, modulasi respons imun, dan stres.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar kortisol dalam serum antara pasien psoriasis vulgaris dengan bukan pasien psoriasis vulgaris, menggunakan rancangan penelitian analitik dengan pendekatan potong lintang.
Penelitian dilakukan sejak bulan Juni sampai Oktober 2016 di RSUP H.
Adam Malik Medan.
Kadar kortisol dalam serum subyek diperiksa dengan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).
Digunakan uji T-independen untuk menilai perbandingan kadar kortisol dalam serum antara kedua kelompok.
Selama 5 bulan penelitian didapatkan 40 subyek penelitian yang terdiri atas 20 pasien psoriasis vulgaris dan 20 bukan pasien psoriasis vulgaris.
Ditemukan kadar rerata kortisol yang lebih rendah dalam serum pasien psoriasis vulgaris (7,185  5,04 g/dL) dibandingkan dengan bukan pasien psoriasis vulgaris (10,390  3,74 g/dL) yang bermakna secara statistik (p<0,05).
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik pada nilai rerata kadar kortisol dalam serum antara pasien psoriasis vulgaris dengan bukan pasien psoriasis vulgaris.

Related Results

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
Hubungan antara Kadar Serum Kortisol Pagi Hari dan 25-OH Vitamin D pada Anak dengan Sindrom Nefrotik
Hubungan antara Kadar Serum Kortisol Pagi Hari dan 25-OH Vitamin D pada Anak dengan Sindrom Nefrotik
Latar belakang. Sindrom nefrotik (SN) adalah penyakit ginjal kronis yang paling sering terjadi pada anak yang diobati dengan kortikosteroid dosis tinggi dan dapat menyebabkan insuf...
Kadar serum 25-hidroksi vitamin D berkorelasi negatif dengan interleukin-17 pada acne vulgaris derajat berat
Kadar serum 25-hidroksi vitamin D berkorelasi negatif dengan interleukin-17 pada acne vulgaris derajat berat
Background: Acne vulgaris is a common skin disease in Indonesia. Inflammation is a key factor in its development. 25-hydroxy vitamin D or 25(OH)D is considered to have antioxidant ...
The association between immunogenetics and genetic susceptibility of psoriasis in Thai population
The association between immunogenetics and genetic susceptibility of psoriasis in Thai population
Psoriasis is T-cell-mediated skin autoimmunity, required environmental triggers and genetic susceptibility factors to become manifested. Psoriasis is a chronic skin disease charact...
Manajemen Psoriasis Pustulosa
Manajemen Psoriasis Pustulosa
Psoriasis merupakan penyakit radang kulit kronis dengan dasar genetik yang kuat. Berdasarkan tipenya, psoriasis dibagi menjadi psoriasis plak (psoriasis vulgaris), psoriasis gutata...
Pemanfaatan Kulit Pisang Raja Sebagai Bahan Pembuatan Pelet
Pemanfaatan Kulit Pisang Raja Sebagai Bahan Pembuatan Pelet
Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah kulit pisang Raja sebagai bahan pembuatan pellet dan mengetahui bagaimana cara pembuatan pellet kulit pisang raja dan untuk menge...
The positive correlation between psoriasis vulgaris severity degree with HbA1C level
The positive correlation between psoriasis vulgaris severity degree with HbA1C level
Introduction: Psoriasis is a skin abnormality based on chronic inflammation immune-mediated. Insulin resistance and psoriasis seem to have a connection, but it has not been explain...

Back to Top