Javascript must be enabled to continue!
Peran Nilai Pribadi, Nilai Budaya dan Nilai Religius terhadap Sikap Remaja Perempuan tentang Seks Pranikah (Suatu Kajian pada Remaja Perempuan di Maumere dan Larantuka, NTT)
View through CrossRef
Latar Belakang : Pesatnya perkembangan teknologi informasi, memudahkan remaja mengakses semua hal yang berhubungan dengan informasi seputar seks. Dengan kemudahan yang dimiliki untuk mengakses teknologi informasi ini, remaja seringkali terekspos oleh konten-konten pornografi. Secara langsung maupun tidak langsung akan memengaruhi sikap remaja terhadap perilaku seks pranikah.Tujuan : Mengetahui peran nilai pribadi, nilai budaya dan nilai religius dikaitkan dengan sikap remaja perempuan di Maumere dan Larantuka terhadap perilaku seks pranikah serta mengetahui sikap remaja perempuan terhadap perilaku seks pranikah.Metode : Penelitian menggunakan pendekatan mixed method, pengukuran sikap melalui pengisian kuesioner dan diskusi kelompok terarah (FGD) untuk mengetahui gambaran sikap remaja perempuan terhadap perilaku seks pranikah yang dikaitkan dengan nilai pribadi, nilai budaya dan nilai religius. Kegiatan penelitian dilakukan pada empat SMA di Maumere dan Larantuka. Jumlah partisipan 120 orang, diperoleh dengan teknik accidental sampling. Sebagai informasi tambahan dilakukan wawancara dengan tokoh budaya di Maumere dan tokoh agama di Larantuka. Hasil dan pembahasan : Berdasarkan pengolahan data terhadap pengukuran skala sikap diperoleh gambaran bahwa pada dasarnya remaja perempuan di Maumere dan Larantuka tidak menyetujui hubungan seks pranikah, meskipun telah terjadi pergeseran nilai. Sikap ini berdasarkan pada nilai-nilai pribadi yang diyakini remaja yaitu pertimbangan etika dan moral, dampak kehamilan, aborsi atau penyakit menular seksual. Dalam konteks budaya, pertimbangan remaja adalah sanksi sosial yang akan diperoleh dari kehamilan di luar nikah. Sedang dalam konteks religius, remaja mempertimbangkan tentang dosa. Berdasarkan diskusi kelompok terarah (FGD) disimpulkan bahwa nilai religius dirasakan sangat penting oleh partisipan karena dapat menumbuhkan iman dan memberi dorongan,arah dalam bertingkah laku. Nilai-nilai religius juga berperan dalam memberi motivasi dan membimbing seseorang untuk melakukan perbuatan yang baik. Dalam konteks budaya, para partisipan berpendapat bahwa budaya sangat penting karena dalam budaya diajarkan tentang perilaku yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Oleh karena itu dibutuhkan pendampingan orangtua dalam mendidik dan menanamkan nilai-nilai moral dan etika.Kesimpulan : Pernyataan sikap tidak setuju terhadap perilaku seks pranikah merupakan internalisasi nilai-nilai budaya dan religius yang akhirnya membentuk sikap remaja di Maumere dan Larantuka Kata kunci : Peran nilai pribadi, nilai budaya dan nilai religius, sikap remaja perempuan, perilaku seks pranikah, Maumere dan Larantuka, Nusa Tenggara Timur Susana Sabarni, Lidia Laksana HidajatABSTRACT Background: The rapid development of information technology, making it easier for teenagers to access all things related to information about sex. With the ease they have to access this information technology, teenagers are often exposed to pornographic content. Directly or indirectly will influence teen attitudes towards premarital sex behavior.Objective: To acknowlegde the role of personal values, cultural values and religious values associated with the attitudes of adolescent girls in Maumere and Larantuka towards premarital sex behavior and also to acknowlegde the attitudes of teenage girls to premarital sex behavior.Methods: The study used a mixed method approach, attitude measurement through filling out questionnaires and focus group discussions (FGD) to describe the attitudes of adolescent girls towards premarital sex behavior which is associated with personal values, cultural values and religious values. Research activities were carried out on four high schools in Maumere and Larantuka. The number of participants 120 people, obtained by accidental sampling technique. For additional information, interviews with cultural leaders in Maumere and religious leaders in Larantuka were conducted.Results and discussion: Based on data processing on attitude scale measurement obtained an illustration that basically girls in Maumere and Larantuka do not approve premarital sex, even though there has been a shift in values. This attitude is based on personal values believed by adolescents, namely ethical and moral considerations, the impact of pregnancy, abortion or sexually transmitted diseases. In the context of culture, adolescent considerations are social sanctions that will be obtained from pregnancy outside of marriage. While in a religious context, teenagers consider sin. Based on focus group discussions (FGD) it was concluded that religious values were felt to be very important by participants because they could foster faith and give encouragement, direction in behaving. Religious values also play a role in motivating and guiding someone to do good deeds. In the cultural context, the participants thought that culture was very important because in the culture it was taught about appropriate and inappropriate behavior. Therefore, parents are needed to assist in educating and instilling moral and ethical values.Conclusion: A statement of disagreement with premarital sex behavior is an internalization of cultural and religious values that ultimately shape their attitudes Keywords: The role of personal values, cultural values and religious values, attitudes of adolescent girls, premarital sexual behavior, Maumere and Larantuka, Nusa Tenggara Timur
Title: Peran Nilai Pribadi, Nilai Budaya dan Nilai Religius terhadap Sikap Remaja Perempuan tentang Seks Pranikah (Suatu Kajian pada Remaja Perempuan di Maumere dan Larantuka, NTT)
Description:
Latar Belakang : Pesatnya perkembangan teknologi informasi, memudahkan remaja mengakses semua hal yang berhubungan dengan informasi seputar seks.
Dengan kemudahan yang dimiliki untuk mengakses teknologi informasi ini, remaja seringkali terekspos oleh konten-konten pornografi.
Secara langsung maupun tidak langsung akan memengaruhi sikap remaja terhadap perilaku seks pranikah.
Tujuan : Mengetahui peran nilai pribadi, nilai budaya dan nilai religius dikaitkan dengan sikap remaja perempuan di Maumere dan Larantuka terhadap perilaku seks pranikah serta mengetahui sikap remaja perempuan terhadap perilaku seks pranikah.
Metode : Penelitian menggunakan pendekatan mixed method, pengukuran sikap melalui pengisian kuesioner dan diskusi kelompok terarah (FGD) untuk mengetahui gambaran sikap remaja perempuan terhadap perilaku seks pranikah yang dikaitkan dengan nilai pribadi, nilai budaya dan nilai religius.
Kegiatan penelitian dilakukan pada empat SMA di Maumere dan Larantuka.
Jumlah partisipan 120 orang, diperoleh dengan teknik accidental sampling.
Sebagai informasi tambahan dilakukan wawancara dengan tokoh budaya di Maumere dan tokoh agama di Larantuka.
Hasil dan pembahasan : Berdasarkan pengolahan data terhadap pengukuran skala sikap diperoleh gambaran bahwa pada dasarnya remaja perempuan di Maumere dan Larantuka tidak menyetujui hubungan seks pranikah, meskipun telah terjadi pergeseran nilai.
Sikap ini berdasarkan pada nilai-nilai pribadi yang diyakini remaja yaitu pertimbangan etika dan moral, dampak kehamilan, aborsi atau penyakit menular seksual.
Dalam konteks budaya, pertimbangan remaja adalah sanksi sosial yang akan diperoleh dari kehamilan di luar nikah.
Sedang dalam konteks religius, remaja mempertimbangkan tentang dosa.
Berdasarkan diskusi kelompok terarah (FGD) disimpulkan bahwa nilai religius dirasakan sangat penting oleh partisipan karena dapat menumbuhkan iman dan memberi dorongan,arah dalam bertingkah laku.
Nilai-nilai religius juga berperan dalam memberi motivasi dan membimbing seseorang untuk melakukan perbuatan yang baik.
Dalam konteks budaya, para partisipan berpendapat bahwa budaya sangat penting karena dalam budaya diajarkan tentang perilaku yang pantas dan tidak pantas dilakukan.
Oleh karena itu dibutuhkan pendampingan orangtua dalam mendidik dan menanamkan nilai-nilai moral dan etika.
Kesimpulan : Pernyataan sikap tidak setuju terhadap perilaku seks pranikah merupakan internalisasi nilai-nilai budaya dan religius yang akhirnya membentuk sikap remaja di Maumere dan Larantuka Kata kunci : Peran nilai pribadi, nilai budaya dan nilai religius, sikap remaja perempuan, perilaku seks pranikah, Maumere dan Larantuka, Nusa Tenggara Timur Susana Sabarni, Lidia Laksana HidajatABSTRACT Background: The rapid development of information technology, making it easier for teenagers to access all things related to information about sex.
With the ease they have to access this information technology, teenagers are often exposed to pornographic content.
Directly or indirectly will influence teen attitudes towards premarital sex behavior.
Objective: To acknowlegde the role of personal values, cultural values and religious values associated with the attitudes of adolescent girls in Maumere and Larantuka towards premarital sex behavior and also to acknowlegde the attitudes of teenage girls to premarital sex behavior.
Methods: The study used a mixed method approach, attitude measurement through filling out questionnaires and focus group discussions (FGD) to describe the attitudes of adolescent girls towards premarital sex behavior which is associated with personal values, cultural values and religious values.
Research activities were carried out on four high schools in Maumere and Larantuka.
The number of participants 120 people, obtained by accidental sampling technique.
For additional information, interviews with cultural leaders in Maumere and religious leaders in Larantuka were conducted.
Results and discussion: Based on data processing on attitude scale measurement obtained an illustration that basically girls in Maumere and Larantuka do not approve premarital sex, even though there has been a shift in values.
This attitude is based on personal values believed by adolescents, namely ethical and moral considerations, the impact of pregnancy, abortion or sexually transmitted diseases.
In the context of culture, adolescent considerations are social sanctions that will be obtained from pregnancy outside of marriage.
While in a religious context, teenagers consider sin.
Based on focus group discussions (FGD) it was concluded that religious values were felt to be very important by participants because they could foster faith and give encouragement, direction in behaving.
Religious values also play a role in motivating and guiding someone to do good deeds.
In the cultural context, the participants thought that culture was very important because in the culture it was taught about appropriate and inappropriate behavior.
Therefore, parents are needed to assist in educating and instilling moral and ethical values.
Conclusion: A statement of disagreement with premarital sex behavior is an internalization of cultural and religious values that ultimately shape their attitudes Keywords: The role of personal values, cultural values and religious values, attitudes of adolescent girls, premarital sexual behavior, Maumere and Larantuka, Nusa Tenggara Timur.
Related Results
Kesehatan Reproduksi Remaja
Kesehatan Reproduksi Remaja
Seksualitas dan kesehatan reproduksi remaja didefinisikan sebagai keadaan sejahtera fisik dan psikis seorang remaja, termasuk keadaan terbebas dari kehamilan yang tak dikehendaki, ...
STUDI KASUS PERILAKU SEKS PRANIKAH MAHASISWA KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HALU OLEO TAHUN 2022
STUDI KASUS PERILAKU SEKS PRANIKAH MAHASISWA KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HALU OLEO TAHUN 2022
Latar Belakang: Perilaku seks pranikah merupakan permasalahan dan sekaligus fenomena sosial yang kian lazim dijumpai di dalam masyarakat. Masa Remaja merupakan periode terjadinya p...
The Relationship Of Knowledge With Students Attitude And Behavior Regarding Free Sex
The Relationship Of Knowledge With Students Attitude And Behavior Regarding Free Sex
Latar belakang banjirnya imformasi mengenai seks bebas melalui media online via smarthandphone, berdampak pada lemahnya pemahaman mahasiswa mengenai pendidikan seksual yang benar....
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TERHAP PERILAKU SEKS PRANIKAH DI SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BAITUL HIKMAH BANDAR LAMPUNG
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TERHAP PERILAKU SEKS PRANIKAH DI SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BAITUL HIKMAH BANDAR LAMPUNG
Masa remaja merupakan bagian dari tahapan pertumbuhan dan perkembangan dari anak reamaja menuju dewasa, tahap ini anak mengalami percepatan pertumbuhan hormonal, kognitif dan emosi...
Konsumsi Media Informasi Sebagai Wadah Pemahaman Seks Bagi Remaja
Konsumsi Media Informasi Sebagai Wadah Pemahaman Seks Bagi Remaja
ABSTRACT
The large number of teenagers in Lamongan who apply for dispensation to enter into early marriage has raised suspicions that there are problems with the information me...
REPRESENTASI DAMPAK NEGATIF SEKS PRANIKAH PADA REMAJA DALAM FILM DUA GARIS BIRU (STUDI ANALISIS SEMIOTIKA FERDINAND DE SAUSSURE) REPRESENTATION OF NEGATIVE IMPACT OF PREMARITAL SEX IN DUA GARIS BIRU FILM (FERDINAND DE SAUSSURE SEMIOTIC ANALYSIS STUDY
REPRESENTASI DAMPAK NEGATIF SEKS PRANIKAH PADA REMAJA DALAM FILM DUA GARIS BIRU (STUDI ANALISIS SEMIOTIKA FERDINAND DE SAUSSURE) REPRESENTATION OF NEGATIVE IMPACT OF PREMARITAL SEX IN DUA GARIS BIRU FILM (FERDINAND DE SAUSSURE SEMIOTIC ANALYSIS STUDY
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi dampak negatif seks pranikah pada remaja dalam film Dua Garis Biru dengan analisis semiotika Ferdinand de ...
Description of Risky Sexual Behavior in Men Indicated for HIV
Description of Risky Sexual Behavior in Men Indicated for HIV
Risky sexual behavior is any form of vaginal or anal sexual activity with a sexual partner that makes individuals more vulnerable to contracting sexually transmitted infections (ST...

