Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Stigma dan Diskriminasi Sosial Terhadap Pasien Tuberkulosis di Kabupaten Bandung

View through CrossRef
Abstract. Tuberculosis (TB) remains one of the major public health problems in Indonesia, and Bandung Regency is one of the areas with a high incidence of TB. In addition to medical problems, social stigma and discrimination against TB patients are still common and can affect patients’ psychological conditions, social interactions, and treatment adherence. This study aimed to describe social stigma and discrimination against TB patients in Bandung Regency in 2025. This study was a qualitative study with a descriptive approach. Data were collected through online Triaadiv Interview conducted in the working areas of Paseh and Soreang Community Health Centers, involving TB patients, family members of TB patients, and community members and health cadres. Informants were selected using purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria. Triadic Interview data were transcribed verbatim and analyzed using thematic analysis through open coding, axial coding, and selective coding. The results showed that TB is still perceived as a dangerous, contagious, and shameful disease, leading to social stigma and discrimination against TB patients. Forms of stigma and discrimination included social exclusion, restricted interaction, separation of eating utensils and personal belongings, and limitations on patients’ social activities. Stigma and discrimination affected patients’ psychological conditions, such as feelings of shame, low self-esteem, and social withdrawal. This study concludes that stigma and discrimination against TB patients still occur in Bandung Regency and that joint efforts involving families, communities, health cadres, and the government are needed to reduce stigma and discrimination against TB patients. Abstrak. Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia dan Kabupaten Bandung merupakan salah satu wilayah dengan angka kejadian TB yang tinggi. Selain permasalahan medis, stigma dan diskriminasi sosial terhadap pasien TB masih sering terjadi dan dapat memengaruhi kondisi psikologis pasien, interaksi sosial, serta kepatuhan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan stigma sosial dan diskriminasi terhadap pasien TB di Kabupaten Bandung tahun 2025. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui Triadic Interview secara daring di wilayah kerja Puskesmas Paseh dan Puskesmas Soreang dengan melibatkan pasien TB, keluarga pasien TB, serta masyarakat dan kader kesehatan. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Data Triadic Interview ditranskrip secara verbatim dan dianalisis menggunakan analisis tematik melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TB masih dipersepsikan sebagai penyakit yang berbahaya, menular, dan memalukan sehingga memunculkan stigma dan diskriminasi sosial terhadap pasien TB. Bentuk stigma dan diskriminasi yang ditemukan meliputi pengucilan sosial, pembatasan interaksi, pemisahan alat makan dan barang pribadi, serta pembatasan aktivitas sosial pasien. Stigma dan diskriminasi tersebut berdampak pada kondisi psikologis pasien, seperti rasa malu, rendah diri, dan penarikan diri dari lingkungan sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB masih terjadi di Kabupaten Bandung dan diperlukan upaya bersama yang melibatkan keluarga, masyarakat, kader kesehatan, serta pemerintah untuk mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB.
Title: Stigma dan Diskriminasi Sosial Terhadap Pasien Tuberkulosis di Kabupaten Bandung
Description:
Abstract.
Tuberculosis (TB) remains one of the major public health problems in Indonesia, and Bandung Regency is one of the areas with a high incidence of TB.
In addition to medical problems, social stigma and discrimination against TB patients are still common and can affect patients’ psychological conditions, social interactions, and treatment adherence.
This study aimed to describe social stigma and discrimination against TB patients in Bandung Regency in 2025.
This study was a qualitative study with a descriptive approach.
Data were collected through online Triaadiv Interview conducted in the working areas of Paseh and Soreang Community Health Centers, involving TB patients, family members of TB patients, and community members and health cadres.
Informants were selected using purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria.
Triadic Interview data were transcribed verbatim and analyzed using thematic analysis through open coding, axial coding, and selective coding.
The results showed that TB is still perceived as a dangerous, contagious, and shameful disease, leading to social stigma and discrimination against TB patients.
Forms of stigma and discrimination included social exclusion, restricted interaction, separation of eating utensils and personal belongings, and limitations on patients’ social activities.
Stigma and discrimination affected patients’ psychological conditions, such as feelings of shame, low self-esteem, and social withdrawal.
This study concludes that stigma and discrimination against TB patients still occur in Bandung Regency and that joint efforts involving families, communities, health cadres, and the government are needed to reduce stigma and discrimination against TB patients.
Abstrak.
Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia dan Kabupaten Bandung merupakan salah satu wilayah dengan angka kejadian TB yang tinggi.
Selain permasalahan medis, stigma dan diskriminasi sosial terhadap pasien TB masih sering terjadi dan dapat memengaruhi kondisi psikologis pasien, interaksi sosial, serta kepatuhan pengobatan.
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan stigma sosial dan diskriminasi terhadap pasien TB di Kabupaten Bandung tahun 2025.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif.
Pengumpulan data dilakukan melalui Triadic Interview secara daring di wilayah kerja Puskesmas Paseh dan Puskesmas Soreang dengan melibatkan pasien TB, keluarga pasien TB, serta masyarakat dan kader kesehatan.
Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi.
Data Triadic Interview ditranskrip secara verbatim dan dianalisis menggunakan analisis tematik melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa TB masih dipersepsikan sebagai penyakit yang berbahaya, menular, dan memalukan sehingga memunculkan stigma dan diskriminasi sosial terhadap pasien TB.
Bentuk stigma dan diskriminasi yang ditemukan meliputi pengucilan sosial, pembatasan interaksi, pemisahan alat makan dan barang pribadi, serta pembatasan aktivitas sosial pasien.
Stigma dan diskriminasi tersebut berdampak pada kondisi psikologis pasien, seperti rasa malu, rendah diri, dan penarikan diri dari lingkungan sosial.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB masih terjadi di Kabupaten Bandung dan diperlukan upaya bersama yang melibatkan keluarga, masyarakat, kader kesehatan, serta pemerintah untuk mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB.

Related Results

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
PEMETAAN FAKTOR RISIKO KEJADIAN TUBERKULOSIS DI KOTA PAREPARE
PEMETAAN FAKTOR RISIKO KEJADIAN TUBERKULOSIS DI KOTA PAREPARE
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang dapat mengakibatkan kematian yang disebabkan oleh bakteri (Mycobacterium tuberculosis). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peme...
GAMBARAN KEBERHASILAN PENGOBATAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS SEMANDING
GAMBARAN KEBERHASILAN PENGOBATAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS SEMANDING
ABSTRAK          Tuberkulosis Paru telah menjadi masalah kesehatan yang utama di dunia dan angka keberhasilan pengobatan merupakan indikator yang digunakan untuk mengetahui tingkat...
KECEMASAN SAAT PANDEMI COVID 19: LITERATUR REVIEW Hardiyati, Efri Widianti, Taty Hernawaty Departemen Keperawatan Jiwa Poltekkes Kemenkes Mamuju Sulbar, Universitas Pad...
Tinjauan Kepuasan Pasien Terhadap Mutu Pelayanan Kesehatan
Tinjauan Kepuasan Pasien Terhadap Mutu Pelayanan Kesehatan
Dari survey pendahuluan terhadap 20 pasien diperoleh 5 (25%) pasien menyatakan kurang puas terhadap mutu pelayanan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasa...
Program “Bandung Menjawab” sebagai Strategi Komunikasi
Program “Bandung Menjawab” sebagai Strategi Komunikasi
Abstract. Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Bandung City functions as a platform to communicate messages to the public. Diskominfo Bandung City develops one of its flag...
COGNITIVE BEHAVIORAL THERAPY (CBT) TERHADAP STIGMA DIRI, HARGA DIRI DAN KUALITAS HIDUP PASIEN TBC
COGNITIVE BEHAVIORAL THERAPY (CBT) TERHADAP STIGMA DIRI, HARGA DIRI DAN KUALITAS HIDUP PASIEN TBC
Cognitive Behavioral Therapy (CBT)  merupakan salah satu bentuk terapi yang bertujuan untuk membantu individu melatih cara berpikir maupun fungsi kognitif dengan cara memperbaiki p...

Back to Top