Javascript must be enabled to continue!
Dwiaksara Latin-Lontara dalam Lanskap Linguistik Sidenreng Rappang
View through CrossRef
This study analyzes the phenomenon of dual-script use, actors, and functions of the Linguistic Landscape (LL) on street signs in Sidenreng Rappang Regency. A qualitative descriptive method was employed with 200 public space language signs collected through direct observation, field photography, and systematic documentation in October–November 2025. Data were analyzed using data reduction, classification, presentation, and conclusion-drawing techniques within a sociolinguistic-semiotic framework. The results show that of 200 LL signs, 120 (60%) use monolingual Latin, 40 (20%) use monolingual Lontara, and 40 (20%) use dual-script (Latin–Lontara). The main LL actors are public authorities (top-down), consistently implementing language policies to preserve the Bugis script. The functions of the Lontara script include symbolic (marker of Bugis ethnic identity), historical aesthetic (cultural memory reinforcement), and educational (script revitalization). These findings demonstrate that regional visual policy is the primary determinant of local script representation in Indonesian urban linguistic landscapes. AbstrakPenelitian ini menganalisis fenomena dwiaksara, pelaku, dan fungsi Lanskap Linguistik (LL) pada papan nama jalan di Kabupaten Sidenreng Rappang. Metode deskriptif kualitatif digunakan dengan sumber data berupa 200 tanda bahasa di ruang publik yang dikumpulkan melalui observasi langsung, fotografi lapangan, dan dokumentasi sistematis pada bulan Oktober–November 2025. Data dianalisis melalui reduksi, klasifikasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan kerangka semiotik sosiolinguistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 200 data LL, sebanyak 120 data (60%) menggunakan Latin monolingual, 40 data (20%) menggunakan Lontara monolingual, dan 40 data (20%) menggunakan dwiaksara (Latin–Lontara). Pelaku utama LL adalah otoritas publik (top-down) yang secara konsisten mengimplementasikan kebijakan bahasa untuk pemertahanan aksara Bugis. Fungsi aksara Lontara meliputi fungsi simbolik (penanda identitas etnis Bugis), historis-estetik (penguatan memori budaya), dan edukatif (revitalisasi aksara). Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan visual daerah merupakan faktor penentu utama representasi aksara lokal dalam LL perkotaan di Indonesia.
Title: Dwiaksara Latin-Lontara dalam Lanskap Linguistik Sidenreng Rappang
Description:
This study analyzes the phenomenon of dual-script use, actors, and functions of the Linguistic Landscape (LL) on street signs in Sidenreng Rappang Regency.
A qualitative descriptive method was employed with 200 public space language signs collected through direct observation, field photography, and systematic documentation in October–November 2025.
Data were analyzed using data reduction, classification, presentation, and conclusion-drawing techniques within a sociolinguistic-semiotic framework.
The results show that of 200 LL signs, 120 (60%) use monolingual Latin, 40 (20%) use monolingual Lontara, and 40 (20%) use dual-script (Latin–Lontara).
The main LL actors are public authorities (top-down), consistently implementing language policies to preserve the Bugis script.
The functions of the Lontara script include symbolic (marker of Bugis ethnic identity), historical aesthetic (cultural memory reinforcement), and educational (script revitalization).
These findings demonstrate that regional visual policy is the primary determinant of local script representation in Indonesian urban linguistic landscapes.
AbstrakPenelitian ini menganalisis fenomena dwiaksara, pelaku, dan fungsi Lanskap Linguistik (LL) pada papan nama jalan di Kabupaten Sidenreng Rappang.
Metode deskriptif kualitatif digunakan dengan sumber data berupa 200 tanda bahasa di ruang publik yang dikumpulkan melalui observasi langsung, fotografi lapangan, dan dokumentasi sistematis pada bulan Oktober–November 2025.
Data dianalisis melalui reduksi, klasifikasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan kerangka semiotik sosiolinguistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 200 data LL, sebanyak 120 data (60%) menggunakan Latin monolingual, 40 data (20%) menggunakan Lontara monolingual, dan 40 data (20%) menggunakan dwiaksara (Latin–Lontara).
Pelaku utama LL adalah otoritas publik (top-down) yang secara konsisten mengimplementasikan kebijakan bahasa untuk pemertahanan aksara Bugis.
Fungsi aksara Lontara meliputi fungsi simbolik (penanda identitas etnis Bugis), historis-estetik (penguatan memori budaya), dan edukatif (revitalisasi aksara).
Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan visual daerah merupakan faktor penentu utama representasi aksara lokal dalam LL perkotaan di Indonesia.
Related Results
Increased life expectancy of heart failure patients in a rural center by a multidisciplinary program
Increased life expectancy of heart failure patients in a rural center by a multidisciplinary program
Abstract
Funding Acknowledgements
Type of funding sources: None.
INTRODUCTION Patients with heart failure (HF)...
Primary PCI: a reasonable treatment for STEMI care during the COVID-19 pandemic
Primary PCI: a reasonable treatment for STEMI care during the COVID-19 pandemic
Abstract
Funding Acknowledgements
Type of funding sources: None.
Introduction
...
Perancangan Universitas Ichsan Sidenreng Rappang Di Kabupaten Sidenreng Rappang Dengan Pendekatan Arsitektur Modern
Perancangan Universitas Ichsan Sidenreng Rappang Di Kabupaten Sidenreng Rappang Dengan Pendekatan Arsitektur Modern
Perancangan ini bertujuan 1) untuk mengetahui konsep makro dan mikro dalam, merancang Universitas Ichsan Sidenreng Rappang di Kabupaten Sidenreng Rappang dengan pendekatan Arsitekt...
BATIK LONTARA SEBUAH AFIRMASI IDENTITAS DAN LEGITIMASI BUDAYA BUGIS-MAKASSAR
BATIK LONTARA SEBUAH AFIRMASI IDENTITAS DAN LEGITIMASI BUDAYA BUGIS-MAKASSAR
Penyebaran batik meluas dan menyebar terutama di kota-kota besar di Indonesia saat ini terkhusus Kota Makassar Sulawesi Selatan. Makassar, meskipun tidak bersingungan secara langsu...
Analysis Of The Financial Performance Of The Regional Government Of Sidenreng Rappang Regency Before And After Obtaining Fair Opinion Without Exemption (WTP)
Analysis Of The Financial Performance Of The Regional Government Of Sidenreng Rappang Regency Before And After Obtaining Fair Opinion Without Exemption (WTP)
This study aims to determine a comparison of the financial performance of the regional government of Sidenreng Rappang district based on the independence ratio, effectiveness ratio...
LANSKAP SEBAGAI PROSES DAN PRODUK (LANSKAP BUDAYA, LANSKAP PERKOTAAN, DAN LANSKAP PERKOTAAN BERSEJARAH)
LANSKAP SEBAGAI PROSES DAN PRODUK (LANSKAP BUDAYA, LANSKAP PERKOTAAN, DAN LANSKAP PERKOTAAN BERSEJARAH)
Abstract: The etymological meaning of the word landscape needs to be studied as a basis for conducting further research. In the extension of this meaning, the semantics of landscap...
lanskap Linguistik WUJUD PERTARUNGAN MULTILINGUAL: Kajian Lanskap Linguistik
lanskap Linguistik WUJUD PERTARUNGAN MULTILINGUAL: Kajian Lanskap Linguistik
Bentangan linguistic yang tersaji di ruang publik selalu menarik perhatian. Banyak peristiwa yang dapat diungkap di balik penggunaan bahasa tersebut. Lanskap linguistik sebagai sal...
Ethical Balance in Bugis Manuscripts: A Translation Study of Justice in the Lontara Sidenreng Rappang
Ethical Balance in Bugis Manuscripts: A Translation Study of Justice in the Lontara Sidenreng Rappang
This chapter examines the value of ethical balance in the Lontara Sidenreng Rappang manuscript through a philological-translation approach (research-based translation). Sidenreng R...

