Javascript must be enabled to continue!
Kenosis Relasional-Etis sebagai Fondasi Rekonsiliasi dan Kesaksian Misioner Gereja
View through CrossRef
Abstract: Internal church conflicts often lead to schisms because they are handled pragmatically and superficially. This phenomenon is evident in the difficulty of unifying synods within the same denomination in Indonesia due to differences in tradition and struggles for leadership. Many approaches are merely administrative and fail to address the root of the problem: broken relationships and individuals' inner states. Previous studies have tended to emphasize sociological and institutional aspects while failing to explore kenosis as a relational-ethical theological foundation. This research aims to develop a model of church reconciliation through a relational-ethical kenosis perspective based on Philippians 2:1–11 by synthesizing the thought of Lucien Richard and Sarah Coakley. The novelty of this research lies in integrating biblical studies, systematic theology, and the church’s missionary dimension into a single transformative framework. The results indicate that kenosis is not merely Christological but also serves as the foundation for a communal ethics emphasizing humility, brotherhood, and the restoration of relationships. Based on Philippians 2:10–11, ecclesial reconciliation also has a missionary dimension, as the church's unity serves as a witness that leads the world to acknowledge Christ as Lord. This model offers a more holistic, transformative, and relevant approach to reconciliation for the church today.
Abstrak: Konflik internal gereja sering berujung pada perpecahan karena ditangani secara pragmatis dan dangkal. Fenomena ini tampak dalam kesulitan penyatuan sinode-sinode dari denominasi yang sama di Indonesia akibat perbedaan tradisi dan persaingan perebutan kepemimpinan. Banyak pendekatan hanya bersifat administratif dan tidak menyentuh akar masalah, yaitu relasi yang rusak dan kondisi batin individu. Studi sebelumnya cenderung menekankan aspek sosiologis dan institusional serta kurang menggali kenosis sebagai dasar teologis yang bersifat relasional-etis. Penelitian ini bertujuan membangun model rekonsiliasi gerejawi melalui perspektif kenosis relasional-etis berdasarkan Filipi 2:1–11 dengan mensintesiskan pemikiran Lucien Richard dan Sarah Coakley. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi studi biblika, teologi sistematika, dan dimensi misioner gereja dalam satu kerangka transformatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenosis tidak hanya bersifat Kristologis, tetapi juga menjadi dasar etika komunitas yang menekankan kerendahan hati, persaudaraan, dan pemulihan relasi. Berdasarkan Filipi 2:10–11, rekonsiliasi gerejawi juga memiliki dimensi misioner karena kesatuan gereja menjadi kesaksian yang mengarahkan dunia untuk mengakui Kristus sebagai Tuhan. Model ini menawarkan pendekatan rekonsiliasi yang lebih utuh, transformatif, dan relevan bagi gereja masa kini
Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado
Title: Kenosis Relasional-Etis sebagai Fondasi Rekonsiliasi dan Kesaksian Misioner Gereja
Description:
Abstract: Internal church conflicts often lead to schisms because they are handled pragmatically and superficially.
This phenomenon is evident in the difficulty of unifying synods within the same denomination in Indonesia due to differences in tradition and struggles for leadership.
Many approaches are merely administrative and fail to address the root of the problem: broken relationships and individuals' inner states.
Previous studies have tended to emphasize sociological and institutional aspects while failing to explore kenosis as a relational-ethical theological foundation.
This research aims to develop a model of church reconciliation through a relational-ethical kenosis perspective based on Philippians 2:1–11 by synthesizing the thought of Lucien Richard and Sarah Coakley.
The novelty of this research lies in integrating biblical studies, systematic theology, and the church’s missionary dimension into a single transformative framework.
The results indicate that kenosis is not merely Christological but also serves as the foundation for a communal ethics emphasizing humility, brotherhood, and the restoration of relationships.
Based on Philippians 2:10–11, ecclesial reconciliation also has a missionary dimension, as the church's unity serves as a witness that leads the world to acknowledge Christ as Lord.
This model offers a more holistic, transformative, and relevant approach to reconciliation for the church today.
Abstrak: Konflik internal gereja sering berujung pada perpecahan karena ditangani secara pragmatis dan dangkal.
Fenomena ini tampak dalam kesulitan penyatuan sinode-sinode dari denominasi yang sama di Indonesia akibat perbedaan tradisi dan persaingan perebutan kepemimpinan.
Banyak pendekatan hanya bersifat administratif dan tidak menyentuh akar masalah, yaitu relasi yang rusak dan kondisi batin individu.
Studi sebelumnya cenderung menekankan aspek sosiologis dan institusional serta kurang menggali kenosis sebagai dasar teologis yang bersifat relasional-etis.
Penelitian ini bertujuan membangun model rekonsiliasi gerejawi melalui perspektif kenosis relasional-etis berdasarkan Filipi 2:1–11 dengan mensintesiskan pemikiran Lucien Richard dan Sarah Coakley.
Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi studi biblika, teologi sistematika, dan dimensi misioner gereja dalam satu kerangka transformatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenosis tidak hanya bersifat Kristologis, tetapi juga menjadi dasar etika komunitas yang menekankan kerendahan hati, persaudaraan, dan pemulihan relasi.
Berdasarkan Filipi 2:10–11, rekonsiliasi gerejawi juga memiliki dimensi misioner karena kesatuan gereja menjadi kesaksian yang mengarahkan dunia untuk mengakui Kristus sebagai Tuhan.
Model ini menawarkan pendekatan rekonsiliasi yang lebih utuh, transformatif, dan relevan bagi gereja masa kini.
Related Results
Makalah Kritik Seni "Musik Gereja dan Hymne"
Makalah Kritik Seni "Musik Gereja dan Hymne"
MUSIK GEREJA DAN HYMNE A.Musik GerejaMusik gereja adalah penggunaan musik yang berkembang dan digunakan di gereja musik sangat penting dalam ibadah gereja, karena sebagian besar ke...
Gereja Visioner Panggilan Memuridkan “Bangsa”
Gereja Visioner Panggilan Memuridkan “Bangsa”
A visionary church is the dream of every pastor and church congregation, but in the current reality the church is not doing what it wants and expected so that the visionary church...
Dampak Tingkat Pendidikan Teologi Pelayanan di GKII Daerah Kayan
Dampak Tingkat Pendidikan Teologi Pelayanan di GKII Daerah Kayan
Tujuan penelitian yang terkait dengan tingkat pendidikan tergambarnya paradigma umum tentang tugas dan fungsi Pekerja Gereja dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas penatalayan ...
Kontroversi Kesaksian Perempuan : Mengurai Tafsir Kesaksian Perempuan dalam Al-Qur'an
Kontroversi Kesaksian Perempuan : Mengurai Tafsir Kesaksian Perempuan dalam Al-Qur'an
Terdapat kontroversi tentang kesaksian perempuan dalam hal nilai kesaksian, cakupan kesaksian, dan hukum mempersaksikannya. Sementara, disimpulkan bahwa jika teks diinterpretasikan...
Evaluasi Kejadian Diskrepansi Pada Pelaksanaan Rekonsiliasi Obat di RSUD Bali Mandara
Evaluasi Kejadian Diskrepansi Pada Pelaksanaan Rekonsiliasi Obat di RSUD Bali Mandara
Latar belakang: Transfer internal rumah sakit (pindah ruangan) merupakan waktu rentan pasien berada pada risiko tinggi mengalami diskrepansi yang dapat mengakibatkan medication err...
Pentingnya Penginjilan Bagi Pertumbuhan Gereja dalam Perintisan Jemaat Baru
Pentingnya Penginjilan Bagi Pertumbuhan Gereja dalam Perintisan Jemaat Baru
Gereja yang bertumbuh adalah gereja yang menjalankan tugas utamanya terhadap penginjilan. Tugas penginjilan adalah tugas semua orang percaya tanpa terkecuali. Dipertajamkan langsun...
Pemberdayaan Jemaat dan Pertumbuhan Gereja
Pemberdayaan Jemaat dan Pertumbuhan Gereja
Abstract: A healthy church is a church that experiences full growth both in quantity (quantity and distribution) and quality (spirituality that reflects the example of Christ). In ...
Menjadi Pemimpin Musik Gereja Yang Handal
Menjadi Pemimpin Musik Gereja Yang Handal
Beberapa tahun terakhir ini, pertumbuhan jemaat gereja-gereja ( khususnya gereja Injili ) semakin hari semakin lambat dan bahkan merasa tidak dapat bertumbuh baik secara kuantitas ...

