Javascript must be enabled to continue!
Perbandingan Luas Segitiga Pada Teorema Cross Bertingkat
View through CrossRef
Awal mula Teorema cross berlaku pada segitiga. Penelitian terus berkembang hingga dapat diterapkan pada persegi panjang dan segiempat. Pada matematika sekolah, teori geometri cenderung mengarah pada bangun datar ruang sederhana. Padahal bangun datar atau bangun ruang tersebut jika dimodifikasi maka akan menghasilkan bentuk baru yang lebih kreatif namun masih dengan pembuktian menggunakan berbagai pendekatan yang sederhana. Sehingga satu materi tersebut dapat memuat dan menghubungkan beberapa submateri melalui pembuktiannya serta materi tidak monoton dari masa ke masa tanpa pengembangan. Pada tulisan ini dibahas mengenai perbandingan luas segitiga teorema cross bertingkat dengan mengonstruksi persegi bertingkat pada masing-masing sisi bagian luar segitiga asal. Pembuktian dilakukan dengan menggunakan pendekatan luas segitiga dan pendekatan trigonometri. Studi kepustakaan merupakan metode yang digunakan dalam penelitian ini dan memanfaatkan aplikasi geogebra dalam memodifikasi. Hasil yang diperoleh adalah perbandingan segitiga pada teorema Cross tingkat pertama yaitu 1:1, untuk tingkat kedua 1:4, untuk tingkat ketiga 1:9, tingkat keempat 1:16 dan untuk tingkatan kelima adalah 1:25. Sehingga disimpulkan bahwa perbandingan luas antara segitiga asal ABC dengan segitiga hasil tingkatan adalah bilangan kuadrat yaitu 1:4, 1:9, 1:16, 1:25, ..., 1:. Pola perbandingannya adalah bilangan ganjil atau dapat ditulis dengan bentuk umum untuk setiap tingkatannya adalah bilangan kuadrat dan berpola bilangan ganjil.
Title: Perbandingan Luas Segitiga Pada Teorema Cross Bertingkat
Description:
Awal mula Teorema cross berlaku pada segitiga.
Penelitian terus berkembang hingga dapat diterapkan pada persegi panjang dan segiempat.
Pada matematika sekolah, teori geometri cenderung mengarah pada bangun datar ruang sederhana.
Padahal bangun datar atau bangun ruang tersebut jika dimodifikasi maka akan menghasilkan bentuk baru yang lebih kreatif namun masih dengan pembuktian menggunakan berbagai pendekatan yang sederhana.
Sehingga satu materi tersebut dapat memuat dan menghubungkan beberapa submateri melalui pembuktiannya serta materi tidak monoton dari masa ke masa tanpa pengembangan.
Pada tulisan ini dibahas mengenai perbandingan luas segitiga teorema cross bertingkat dengan mengonstruksi persegi bertingkat pada masing-masing sisi bagian luar segitiga asal.
Pembuktian dilakukan dengan menggunakan pendekatan luas segitiga dan pendekatan trigonometri.
Studi kepustakaan merupakan metode yang digunakan dalam penelitian ini dan memanfaatkan aplikasi geogebra dalam memodifikasi.
Hasil yang diperoleh adalah perbandingan segitiga pada teorema Cross tingkat pertama yaitu 1:1, untuk tingkat kedua 1:4, untuk tingkat ketiga 1:9, tingkat keempat 1:16 dan untuk tingkatan kelima adalah 1:25.
Sehingga disimpulkan bahwa perbandingan luas antara segitiga asal ABC dengan segitiga hasil tingkatan adalah bilangan kuadrat yaitu 1:4, 1:9, 1:16, 1:25, .
, 1:.
Pola perbandingannya adalah bilangan ganjil atau dapat ditulis dengan bentuk umum untuk setiap tingkatannya adalah bilangan kuadrat dan berpola bilangan ganjil.
.
Related Results
GENERALISASI KETAKSAMAAN COSINUS PADA SEBARANG SEGITIGA
GENERALISASI KETAKSAMAAN COSINUS PADA SEBARANG SEGITIGA
Artikel ini membahas tentang ketaksamaan sinus dan cosinus pada sudut-sudut segitiga. Ketaksamaan ini meliputi ketaksamaan jumlahan sinus pada segitiga, ketaksamaan jumlahan sinus ...
Pengembangan Teorema Japanese pada Segienam
Pengembangan Teorema Japanese pada Segienam
Penelitian ini membahas tentang pengembangan Teorema Japanese pada segienam dimana titik yang dipilih untuk mengkontruksi garis diagonal bebas dari titik mana saja, tidak hanya dar...
Pengaruh Penempatan Tirai Segitiga Lurus dan Segitiga Lengkung terhadap Kedalaman Gerusan Lokal
Pengaruh Penempatan Tirai Segitiga Lurus dan Segitiga Lengkung terhadap Kedalaman Gerusan Lokal
ABSTRACT Pier is part of the bridge which is the most important because it serves to hold the weight of bridge and the weight of the charge passing through it. Then development on...
teorema double butterfly
teorema double butterfly
Abstrak
Teorema Butterfly pertama kali diperkenalkan oleh W. G Horner pada tahun 1815 dalam buku gentlemen’s Diary. Banyak ilmuwan matematika membuat pengembangan beserta variasi ...
Pengembangan Teorema Ceva pada Heptagon Nonkonveks
Pengembangan Teorema Ceva pada Heptagon Nonkonveks
Teorema Ceva pada dasarnya merupakan suatu teorema yang berlaku pada segitiga. Dalam penelitian ini teorema Ceva dikembangkan pada heptagon nonkonveks dalam dua kasus. Kasus satu m...
PENGEMBANGAN TEOREMA MENELAUS PADA SEGILIMA
PENGEMBANGAN TEOREMA MENELAUS PADA SEGILIMA
AbstractMenelaus's theorem is basically for triangles. Some authors have developed in quadrilateral. In this paper the authors develop Menelaus’s theorem for the pentagon. The proo...
LEVEL BERPIKIR GEOMETRI SISWA BERDASARKAN GENDER DALAM MENYELESAIKAN SOAL LUAS SEGITIGA PADA TRIGONOMETRI
LEVEL BERPIKIR GEOMETRI SISWA BERDASARKAN GENDER DALAM MENYELESAIKAN SOAL LUAS SEGITIGA PADA TRIGONOMETRI
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan level berpikir 2 siswa laki-laki dan 2 perempuan kelas 10 Nautika SMK Negeri 5 Tanjungpinang tahun ajaran 2022/2023 dalam meny...
Pengaruh Kemiringan Struktur Plat Segitiga Terhadap Kecepatan Gesek Dasar pada Saluran Terbuka
Pengaruh Kemiringan Struktur Plat Segitiga Terhadap Kecepatan Gesek Dasar pada Saluran Terbuka
Pada aliran saluran terbuka, distribusi kecepatan seringkali dibedakan sebagai distribusi kecepatan di daerah inner region, yang berada di dekat dasar dimana distribusi kecepatan l...

