Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Pemetaan Kerawanan Tanah Longsor Berbasis Tujuh Karakteristik Geospasial di Kabupaten Nganjuk

View through CrossRef
Abstract. Hydrometeorological disasters have been the most dominant type of disaster in Indonesia in recent years. In 2025, there were 2,017 recorded disaster events, with 99.25% categorized as hydrometeorological disasters, including a landslide in Nganjuk Regency that caused fatalities, economic losses, and psychological impacts. Nganjuk Regency is highly vulnerable to landslides due to its location, with part of its area situated in the Mount Wilis region, which possesses specific geospatial characteristics. This study aims to analyze the geospatial characteristics of landslide disaster risk areas in Nganjuk Regency. The research method employs a qualitative approach with an analytical-descriptive design combined with spatial analysis techniques based on a Geographic Information System (GIS). Secondary data in the form of shapefile data were analyzed using ArcGIS software. The results showed that there are five levels of landslide disaster vulnerability in Nganjuk Regency: 1) non-vulnerable class covering an area of 12,303.90 ha; 2) slightly vulnerable class covering an area of 82,153.74 ha; 3) moderately vulnerable class covering an area of 26,822.28 ha; 4) vulnerable class covering an area of 7,246.37 ha; and 5) highly vulnerable class covering an area of 28.46 ha located in the Mount Wilis area. Abstrak. Bencana hidrometeorologi merupakan jenis bencana yang paling dominan terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2025, tercatat 2017 kejadian bencana dengan 99,25 kejadian merupakan bencana hidrometeorologi, termasuk tanah longsor di Kabupaten Nganjuk yang mengakibatkan korban jiwa, kerugian ekonomi, dan dampak psikologis. Kabupaten Nganjuk memiliki kerentanan tinggi terhadap tanah longsor karena sebagian wilayahnya berada di kawasan Gunung Wilis yang memiliki karakteristik geospasial tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik geospasial wilayah risiko bencana tanah longsor di Kabupaten Nganjuk. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-analitis yang dikombinasi dengan teknik analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geospasial (SIG). Data penelitian menggunakan data sekunder berupa data shapefile yang dianalisis menggunakan software ArcGIS. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima kelas kerawanan bencana tanah longsor di Kabupaten Nganjuk: 1) kelas tidak rawan seluas 12.303,90 ha; 2) kelas sedikit rawan seluas 82.153,74 ha; 3) kelas rawan sedang seluas 26.822,28 ha; 4) kelas rawan seluas 7.246,37 ha; dan 5) kelas sangat rawan seluas 28,46 ha berada di daerah Gunung Wilis.
Title: Pemetaan Kerawanan Tanah Longsor Berbasis Tujuh Karakteristik Geospasial di Kabupaten Nganjuk
Description:
Abstract.
Hydrometeorological disasters have been the most dominant type of disaster in Indonesia in recent years.
In 2025, there were 2,017 recorded disaster events, with 99.
25% categorized as hydrometeorological disasters, including a landslide in Nganjuk Regency that caused fatalities, economic losses, and psychological impacts.
Nganjuk Regency is highly vulnerable to landslides due to its location, with part of its area situated in the Mount Wilis region, which possesses specific geospatial characteristics.
This study aims to analyze the geospatial characteristics of landslide disaster risk areas in Nganjuk Regency.
The research method employs a qualitative approach with an analytical-descriptive design combined with spatial analysis techniques based on a Geographic Information System (GIS).
Secondary data in the form of shapefile data were analyzed using ArcGIS software.
The results showed that there are five levels of landslide disaster vulnerability in Nganjuk Regency: 1) non-vulnerable class covering an area of 12,303.
90 ha; 2) slightly vulnerable class covering an area of 82,153.
74 ha; 3) moderately vulnerable class covering an area of 26,822.
28 ha; 4) vulnerable class covering an area of 7,246.
37 ha; and 5) highly vulnerable class covering an area of 28.
46 ha located in the Mount Wilis area.
Abstrak.
 Bencana hidrometeorologi merupakan jenis bencana yang paling dominan terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Pada tahun 2025, tercatat 2017 kejadian bencana dengan 99,25 kejadian merupakan bencana hidrometeorologi, termasuk tanah longsor di Kabupaten Nganjuk yang mengakibatkan korban jiwa, kerugian ekonomi, dan dampak psikologis.
Kabupaten Nganjuk memiliki kerentanan tinggi terhadap tanah longsor karena sebagian wilayahnya berada di kawasan Gunung Wilis yang memiliki karakteristik geospasial tertentu.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik geospasial wilayah risiko bencana tanah longsor di Kabupaten Nganjuk.
Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-analitis yang dikombinasi dengan teknik analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geospasial (SIG).
Data penelitian menggunakan data sekunder berupa data shapefile yang dianalisis menggunakan software ArcGIS.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima kelas kerawanan bencana tanah longsor di Kabupaten Nganjuk: 1) kelas tidak rawan seluas 12.
303,90 ha; 2) kelas sedikit rawan seluas 82.
153,74 ha; 3) kelas rawan sedang seluas 26.
822,28 ha; 4) kelas rawan seluas 7.
246,37 ha; dan 5) kelas sangat rawan seluas 28,46 ha berada di daerah Gunung Wilis.

Related Results

DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
Pendekatan Analisis Spasial untuk Deteksi Kerawanan Longsor di Kecamatan Kedungadem Kabupaten Bojonegoro
Pendekatan Analisis Spasial untuk Deteksi Kerawanan Longsor di Kecamatan Kedungadem Kabupaten Bojonegoro
Kecamatan Kedungadem adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bojonegoro yang sering mengalami kejadian tanah longsor. Kejadian tersebut dipicu dengan kondisi topografi curam serta...
ANALISIS TINGKAT KERENTANAN TANAH LONGSOR SEBAGAI UPAYA MITIGASI BENCANA KECAMATAN KEJURUAN MUDA KABUPATEN ACEH TAMIANG
ANALISIS TINGKAT KERENTANAN TANAH LONGSOR SEBAGAI UPAYA MITIGASI BENCANA KECAMATAN KEJURUAN MUDA KABUPATEN ACEH TAMIANG
Kejuruan Muda adalah salah satu Kecamatan di Kabupeten Aceh Tamiang dengan luas wilayah 124,48 km2 dan luas pemukiman desa 1.083,40 Ha. Daerah ini sering terjadi kelongsoran pada s...
Analisis Geologi Kejadian Longsor Di Desa Wolotolo Kecamatan Detusoku Kabupaten Ende
Analisis Geologi Kejadian Longsor Di Desa Wolotolo Kecamatan Detusoku Kabupaten Ende
Bencana tanah longsor telah melanda ruas jalan Ende-Maumere Kilometer 17, Desa Wolotolo, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada hari Minggu malam, ta...
ANALISIS SIDIK CEPAT KERAWANAN LONGSOR LAHAN DI KAWASAN PERTAMBANGAN TANAH URUG
ANALISIS SIDIK CEPAT KERAWANAN LONGSOR LAHAN DI KAWASAN PERTAMBANGAN TANAH URUG
Kegiatan pertambangan tanah urug pada topografi yang berbukit memiliki potensi terjadi longsor lahan. Suatu kejadian longsor lahan pada kegiatan pertambangan dapat menimbulkan keru...
DAMPAK PENCEMARAN TANAH DAN LANGKAH PENCEGAHAN
DAMPAK PENCEMARAN TANAH DAN LANGKAH PENCEGAHAN
Tanah merupakan bagian penting dalam menunjang kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Seperti kita ketahui rantai makanan bermula dari tumbuhan. Manusia, hewan hidup dari tumbuhan. ...
ANALISIS TINGKAT KERENTANAN TANAH LONGSOR SEBAGAI UPAYA MITIGASI BENCANA DI KECAMATAN SEKERAK KABUPATEN ACEH TAMIANG
ANALISIS TINGKAT KERENTANAN TANAH LONGSOR SEBAGAI UPAYA MITIGASI BENCANA DI KECAMATAN SEKERAK KABUPATEN ACEH TAMIANG
Sekerak adalah salah satu Kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang yang secara geografis memiliki luas wilayah 257,95 Km2. Daerah ini memiliki tingkat curah hujan ekstrim pada saat musi...

Back to Top