Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Komparasi Tafsir Al-Jawahir Fi Tafsir Al-Quran Al-Karim dan Tafsir Al-Misbah tentang Makanan Halal dalam Al-Quran

View through CrossRef
Makanan halal dan tayyib tidak hanya terbatas pada kriteria makanan yang dibolehkan dalam syariat dan mengandung kandungan gizi yang baik. Tulisan ini mengkaji penafsiran Al-Quran tentang makanan halal, terumata membandingkan tafsir Al-Jawahir Fi Tafsir Al-Quran Al-Karim karya Tantawi Jawhari dan tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab. Hasil dari penelitian ini mengungkap bahwa dalam menafsirkan Al-Quran, Tantawi Jawhari menggunakan metode tahlili. Dalam karyanya, "Tafsir al-Jawahir Fi Tafsir al-Quran al-Karim," ia mengadopsi pendekatan ilmiah yang fokus pada penafsiran Al-Quran dalam kerangka ilmu pengetahuan. Di sisi lain, tafsir al-Misbah yang ditulis oleh M. Quraish Shihab juga menggunakan metode tahlili (analisis) tetapi memiliki pendekatan sosio-kultural atau sosial kemasyarakatan. Dalam tafsir ini, penafsiran didasarkan pada konteks sosio-kultural masyarakat, dengan bahasa penafsiran yang mengacu pada aspek sosiologi. Tantawi Jawhari mendefinisikan makanan halal sebagai makanan yang diizinkan atau mubah untuk dikonsumsi manusia. Ia menggambarkannya sebagai "simpul tali yang telah dilepaskan," yang berarti makanan tersebut aman untuk dikonsumsi, tidak menimbulkan perasaan kebencian, dan tidak mendurhakai Allah. Tantawi juga menyoroti berbagai aspek makanan, termasuk aspek bahan dan cara perolehannya, serta presentasi makanan. Makanan halal harus benar-benar bersih dan tidak bercampur dengan najis. Di sisi lain, Quraish Shihab berpendapat bahwa tidak semua makanan yang tayyib (baik dan bermutu) adalah makanan yang halal dalam hal cara perolehannya. Begitu pula, tidak semua makanan yang halal dianggap tayyib. Ada makanan yang dapat dianggap halal dari segi zat dan cara perolehannya, tetapi mungkin tidak tayyib bagi seseorang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, seperti penyakit atau alergi terhadap makanan tertentu. Dengan demikian, penting bagi umat Muslim untuk memahami tidak hanya status halal dan haram makanan tetapi juga kualitas dan cara perolehannya, serta memperhatikan kesehatan pribadi dalam memilih makanan yang sesuai.
Sunan Gunung Djati State Islamic University of Bandung
Title: Komparasi Tafsir Al-Jawahir Fi Tafsir Al-Quran Al-Karim dan Tafsir Al-Misbah tentang Makanan Halal dalam Al-Quran
Description:
Makanan halal dan tayyib tidak hanya terbatas pada kriteria makanan yang dibolehkan dalam syariat dan mengandung kandungan gizi yang baik.
Tulisan ini mengkaji penafsiran Al-Quran tentang makanan halal, terumata membandingkan tafsir Al-Jawahir Fi Tafsir Al-Quran Al-Karim karya Tantawi Jawhari dan tafsir Al-Misbah karya M.
Quraish Shihab.
Hasil dari penelitian ini mengungkap bahwa dalam menafsirkan Al-Quran, Tantawi Jawhari menggunakan metode tahlili.
Dalam karyanya, "Tafsir al-Jawahir Fi Tafsir al-Quran al-Karim," ia mengadopsi pendekatan ilmiah yang fokus pada penafsiran Al-Quran dalam kerangka ilmu pengetahuan.
Di sisi lain, tafsir al-Misbah yang ditulis oleh M.
Quraish Shihab juga menggunakan metode tahlili (analisis) tetapi memiliki pendekatan sosio-kultural atau sosial kemasyarakatan.
Dalam tafsir ini, penafsiran didasarkan pada konteks sosio-kultural masyarakat, dengan bahasa penafsiran yang mengacu pada aspek sosiologi.
Tantawi Jawhari mendefinisikan makanan halal sebagai makanan yang diizinkan atau mubah untuk dikonsumsi manusia.
Ia menggambarkannya sebagai "simpul tali yang telah dilepaskan," yang berarti makanan tersebut aman untuk dikonsumsi, tidak menimbulkan perasaan kebencian, dan tidak mendurhakai Allah.
Tantawi juga menyoroti berbagai aspek makanan, termasuk aspek bahan dan cara perolehannya, serta presentasi makanan.
Makanan halal harus benar-benar bersih dan tidak bercampur dengan najis.
Di sisi lain, Quraish Shihab berpendapat bahwa tidak semua makanan yang tayyib (baik dan bermutu) adalah makanan yang halal dalam hal cara perolehannya.
Begitu pula, tidak semua makanan yang halal dianggap tayyib.
Ada makanan yang dapat dianggap halal dari segi zat dan cara perolehannya, tetapi mungkin tidak tayyib bagi seseorang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, seperti penyakit atau alergi terhadap makanan tertentu.
Dengan demikian, penting bagi umat Muslim untuk memahami tidak hanya status halal dan haram makanan tetapi juga kualitas dan cara perolehannya, serta memperhatikan kesehatan pribadi dalam memilih makanan yang sesuai.

Related Results

Analisis Dampak Kesadaran Halal dan Label Halal terhadap Niat Beli Mie Instan Korea Pada Remaja di Sumenep Melalui Sikap
Analisis Dampak Kesadaran Halal dan Label Halal terhadap Niat Beli Mie Instan Korea Pada Remaja di Sumenep Melalui Sikap
ABSTRAK Tujuan dilangsungkannya sebuah penelitian ini ialah untuk mengkaji pengaruh kesadaran halal dan label halal terhadap niat beli mie instan Korea pada remaja di Sumenep melal...
The Role of Halal Center in Increasing Sustainable Economy in the Halal Industry Sector
The Role of Halal Center in Increasing Sustainable Economy in the Halal Industry Sector
The role of the Indonesian Ulama Council (MUI) in halal labeling is still considered ineffective. So, the government enacted Law Number 3 of 2014 concerning Halal Product Guarantee...
PERAN MASYARAKAT DALAM PENYELENGGARAAN JAMINAN PRODUK HALAL DI INDONESIA
PERAN MASYARAKAT DALAM PENYELENGGARAAN JAMINAN PRODUK HALAL DI INDONESIA
<p>Negara menerbitkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Pasal 4 Undang-Undang Jaminan Produk Halal (UUJPH) jo Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor...
Reinterpretasi Makanan Halal dan Toyyib: Studi Kasus Masyarakat Muslim Pra Sejahtera di Kebumen
Reinterpretasi Makanan Halal dan Toyyib: Studi Kasus Masyarakat Muslim Pra Sejahtera di Kebumen
Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan menganalisis tentang interpretasi baru tentang makanan halal dan toyyib perspektif Keluarga Pra Sejahtera (KPS). Melalui penelitian ini ...
Pengaruh Sertifikasi Halal UMKM terhadap Pariwisata Halal di Kawasan Masjid Raya Al Jabbar Kota Bandung
Pengaruh Sertifikasi Halal UMKM terhadap Pariwisata Halal di Kawasan Masjid Raya Al Jabbar Kota Bandung
Abstract. This research aims to analyze the effect of MSME halal certification on halal tourism in the Al Jabar Mosque area in Bandung City, where many MSMEs in the Al Jabbar Grand...

Back to Top