Javascript must be enabled to continue!
Hubungan Regulasi Emosi dan Kesepian pada Dewasa Awal
View through CrossRef
Abstract. Loneliness is a phenomenon that is rampant in the wider community. In Indonesia, loneliness was found in the early adult group aged 18-34 years as many as 79.9% of 5,211 people. Early adults are expected to be able to build intimate relationships. Meanwhile, the loneliness experienced shows that there are obstacles. So the ability to reduce loneliness is needed, such as the ability to perform adaptive emotional regulation. This study aims to determine the relationship between emotion regulation and loneliness in early adulthood. Using quantitative-correlational methods with PLS-SEM analysis techniques. The research sample consisted of 351 respondents aged 18-25 years who were taken with convenience sampling technique. The measuring instruments used were the UCLA Loneliness Scale version 3 to measure loneliness and the Emotion Regulation Questionnare to distinguish the use of emotion regulation into two strategies, namely cognitive reappraisal (CR) and expressive suppression (ES). The results showed a correlation between loneliness and ES of 0.846, meaning that the greater the use of ES causes higher feelings of loneliness, and -0.872 with CR, meaning that the greater the individual uses CR, the lower the loneliness felt. Therefore, individual differences in using emotion regulation strategies play an important role in explaining loneliness.
Abstrak. Kesepian merupakan fenomena yang sedang marak terjadi di masyarakat luas. Di Indonesia, kesepian ditemukan pada kelompok dewasa awal berusia 18-34 tahun sebanyak 79,9% dari 5.211 orang. Dewasa awal dihadapkan dapat membangun hubungan intim. Sedangkan kesepian yang dialami menujukkan adanya hambatan. Maka diperlukan kemampuan untuk mengurangi kesepian seperti kemampuan melakukan regulasi emosi yang adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dan kesepian pada dewasa awal. Menggunakan metode kuantitatif-korelasional dengan teknik analisis PLS-SEM. Sampel penelitian terdiri dari 351 responden berusia 18-25 tahun yang diambil dengan teknik sampling convenience. Alat ukur yang digunakan adalah UCLA Loneliness Scale version 3 untuk mengukur kesepian dan Emotion Regulation Questionnare untuk membedakan penggunaan regulasi emosi kedalam dua strategi yaitu cognitive reappraisal (CR) dan expressive suppression (ES). Hasil penelitian menunjukkan korelasi antara kesepian dengan ES sebesar 0,846 artinya semakin besar penggunaan ES menyebabkan perasaan kesepian yang semakin tinggi, dan -0,872 dengan CR artinya semakin besar individu menggunakan CR maka semakin rendah kesepian yang dirasakan. Oleh karena itu, perbedaan individu dalam menggunakan strategi regulasi emosi berperan penting dalam menjelaskan kesepian.
Universitas Islam Bandung (Unisba)
Title: Hubungan Regulasi Emosi dan Kesepian pada Dewasa Awal
Description:
Abstract.
Loneliness is a phenomenon that is rampant in the wider community.
In Indonesia, loneliness was found in the early adult group aged 18-34 years as many as 79.
9% of 5,211 people.
Early adults are expected to be able to build intimate relationships.
Meanwhile, the loneliness experienced shows that there are obstacles.
So the ability to reduce loneliness is needed, such as the ability to perform adaptive emotional regulation.
This study aims to determine the relationship between emotion regulation and loneliness in early adulthood.
Using quantitative-correlational methods with PLS-SEM analysis techniques.
The research sample consisted of 351 respondents aged 18-25 years who were taken with convenience sampling technique.
The measuring instruments used were the UCLA Loneliness Scale version 3 to measure loneliness and the Emotion Regulation Questionnare to distinguish the use of emotion regulation into two strategies, namely cognitive reappraisal (CR) and expressive suppression (ES).
The results showed a correlation between loneliness and ES of 0.
846, meaning that the greater the use of ES causes higher feelings of loneliness, and -0.
872 with CR, meaning that the greater the individual uses CR, the lower the loneliness felt.
Therefore, individual differences in using emotion regulation strategies play an important role in explaining loneliness.
Abstrak.
Kesepian merupakan fenomena yang sedang marak terjadi di masyarakat luas.
Di Indonesia, kesepian ditemukan pada kelompok dewasa awal berusia 18-34 tahun sebanyak 79,9% dari 5.
211 orang.
Dewasa awal dihadapkan dapat membangun hubungan intim.
Sedangkan kesepian yang dialami menujukkan adanya hambatan.
Maka diperlukan kemampuan untuk mengurangi kesepian seperti kemampuan melakukan regulasi emosi yang adaptif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dan kesepian pada dewasa awal.
Menggunakan metode kuantitatif-korelasional dengan teknik analisis PLS-SEM.
Sampel penelitian terdiri dari 351 responden berusia 18-25 tahun yang diambil dengan teknik sampling convenience.
Alat ukur yang digunakan adalah UCLA Loneliness Scale version 3 untuk mengukur kesepian dan Emotion Regulation Questionnare untuk membedakan penggunaan regulasi emosi kedalam dua strategi yaitu cognitive reappraisal (CR) dan expressive suppression (ES).
Hasil penelitian menunjukkan korelasi antara kesepian dengan ES sebesar 0,846 artinya semakin besar penggunaan ES menyebabkan perasaan kesepian yang semakin tinggi, dan -0,872 dengan CR artinya semakin besar individu menggunakan CR maka semakin rendah kesepian yang dirasakan.
Oleh karena itu, perbedaan individu dalam menggunakan strategi regulasi emosi berperan penting dalam menjelaskan kesepian.
Related Results
Hubungan Kelekatan Orang Dewasa Dengan Regulasi Emosi Pada Masa Dewasa Awal
Hubungan Kelekatan Orang Dewasa Dengan Regulasi Emosi Pada Masa Dewasa Awal
Permasalahan individu dimasa dewasa awal berkaitan dengan peran dan tanggung jawab baru yang menyebabkan individu memiliki regulasi emosi yang baik. Regulasi emosi dimasa dewasa di...
Dinamika Emosi Tokoh Kinan dalam Novel Layangan Putus Karya Mommy Asf
Dinamika Emosi Tokoh Kinan dalam Novel Layangan Putus Karya Mommy Asf
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dinamika emosi Kinan dalam novel Layangan Putus Karya Mommy Asf. Pendekatan yang digunakan adalah Psikologi Sastra. Metode yang d...
HUBUNGAN ANTARA PET ATTACHMENT DENGAN KESEPIAN PADA WANITA DEWASA AWAL PEMELIHARA KUCING
HUBUNGAN ANTARA PET ATTACHMENT DENGAN KESEPIAN PADA WANITA DEWASA AWAL PEMELIHARA KUCING
Wanita dewasa awal yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan hidup yang terjadi akan mengalami kesepian. Salah satu cara untuk mengurangi kesepian pada wanita dewasa awal...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2), Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
HUBUNGAN RELIGIUSITAS DAN REGULASI EMOSI TERHADAP RESILIENSI PADA DEWASA AWAL KORBAN GHOSTING
HUBUNGAN RELIGIUSITAS DAN REGULASI EMOSI TERHADAP RESILIENSI PADA DEWASA AWAL KORBAN GHOSTING
The purpose of this study was to determine the relationship between religiosity and emotional regulation on resilience in early adulthood ghosting victims. This research is a quant...
Emotion Regulation Strategies in Early Adult Women Who Have Been Involved in Non-Suicidal Self Injury Behavior
Emotion Regulation Strategies in Early Adult Women Who Have Been Involved in Non-Suicidal Self Injury Behavior
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi regulasi emosi pada wanita dewasa awal penyintas perilaku Non-Suicidal Self-Injury (NSSI). Penelitian ini menggunakan pendekatan fenom...
Hubungan Harga Diri dengan Kemampuan Manajemen Emosi Pada Remaja Korban Bullying
Hubungan Harga Diri dengan Kemampuan Manajemen Emosi Pada Remaja Korban Bullying
Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris hubungan antara regulasi emosi dengan asertivitas pada remaja, serta mengetahui kemampuan regulasi emosi dalam memprediksi bes...

