Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

TARI MORIRINGGO SUKU PADOE DI KABUPATEN LUWU TIMUR (1971-2022)

View through CrossRef
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang Perkembangan Tari Moriringgo yang merupakan salah satu tarian dari Suku Padoe di Kabupaten Luwu Timur.  Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif  dengan menggunakan metode penulisan sejarah. Adapun empat metode dalam penulisan sejarah yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Suku Padoe merupakan salah satu dari 12 anak suku luwu yang berada di Kabupaten Luwu Timur hingga saat ini, Suku Padoe memiliki banyak kebudayaan yang dilestarikan secara turun temuran salah satunya adalah Tari Moriringgo/Riringgo. Awal mula tarian ini ditarikan pada saat acara pesta panen (Padungku) juga dijadikan sebagai tarian penyambutan pasukan perang suku padoe dan terus mengalami perkembangan Tari Moriringgo dimulai pada saat pasca pergolakan DI/TII kemudian kembali ditampilkan dibeberapa acara pemerintahan, sampai dengan ditetapkannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Meskipun tarian ini mengalami perkembangan fungsi namun tidak mengubah makna dari tarian tersebut, dengan makna berupa rasa syukur, suka cita, dan kemenangan masyarakat Suku Padoe.This research aims to find out about the development of the Moriringgo Dance, which is one of the dances of the Padoe Tribe in East Luwu Regency. This research is a type of qualitative research using historical writing methods. There are four methods in writing history, namely heuristics, criticism, interpretation and historiography. The Padoe tribe is one of the 12 Luwu tribes living in East Luwu Regency to date. The Padoe tribe has many cultures that have been preserved from generation to generation, one of which is the Moriringgo/Riringgo Dance. This dance was originally danced at the harvest festival (Padungku) and was also used as a welcoming dance for the Padoe tribe's war troops and continued to develop. The Moriringgo Dance began after the DI/TII upheaval, then was again performed at several government events, until it was designated as a Cultural Heritage. Object. Even though this dance has developed in function, it has not changed the meaning of the dance, with the meaning being gratitude, joy and victory for the Padoe tribe.
Title: TARI MORIRINGGO SUKU PADOE DI KABUPATEN LUWU TIMUR (1971-2022)
Description:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang Perkembangan Tari Moriringgo yang merupakan salah satu tarian dari Suku Padoe di Kabupaten Luwu Timur.
 Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif  dengan menggunakan metode penulisan sejarah.
Adapun empat metode dalam penulisan sejarah yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi.
Suku Padoe merupakan salah satu dari 12 anak suku luwu yang berada di Kabupaten Luwu Timur hingga saat ini, Suku Padoe memiliki banyak kebudayaan yang dilestarikan secara turun temuran salah satunya adalah Tari Moriringgo/Riringgo.
Awal mula tarian ini ditarikan pada saat acara pesta panen (Padungku) juga dijadikan sebagai tarian penyambutan pasukan perang suku padoe dan terus mengalami perkembangan Tari Moriringgo dimulai pada saat pasca pergolakan DI/TII kemudian kembali ditampilkan dibeberapa acara pemerintahan, sampai dengan ditetapkannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
Meskipun tarian ini mengalami perkembangan fungsi namun tidak mengubah makna dari tarian tersebut, dengan makna berupa rasa syukur, suka cita, dan kemenangan masyarakat Suku Padoe.
This research aims to find out about the development of the Moriringgo Dance, which is one of the dances of the Padoe Tribe in East Luwu Regency.
This research is a type of qualitative research using historical writing methods.
There are four methods in writing history, namely heuristics, criticism, interpretation and historiography.
The Padoe tribe is one of the 12 Luwu tribes living in East Luwu Regency to date.
The Padoe tribe has many cultures that have been preserved from generation to generation, one of which is the Moriringgo/Riringgo Dance.
This dance was originally danced at the harvest festival (Padungku) and was also used as a welcoming dance for the Padoe tribe's war troops and continued to develop.
The Moriringgo Dance began after the DI/TII upheaval, then was again performed at several government events, until it was designated as a Cultural Heritage.
Object.
Even though this dance has developed in function, it has not changed the meaning of the dance, with the meaning being gratitude, joy and victory for the Padoe tribe.

Related Results

Perkembangan Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Luwu, 1967-2017
Perkembangan Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Luwu, 1967-2017
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang SMAN 1 Luwu sebagai wadah proses pendidikan di Kabupaten Luwu 1967-2017) dengan mengungkap proses berdirinya SMAN 1 Luwu dan perke...
An Analysis of The Language Variations of Luwunese Through Speech Acts (Fokus: Luwu, North Luwu, and East Luwu)
An Analysis of The Language Variations of Luwunese Through Speech Acts (Fokus: Luwu, North Luwu, and East Luwu)
The main objectives of this research were to determine the differences of language variation in the use of regional language  especially  Luwu, North Luwu and East Luwu in South Su...
PEMBENTUKAN KABUPATEN LUWU UTARA: KISAH DARI TOKOH DI BALIK LAYAR PADA 1999
PEMBENTUKAN KABUPATEN LUWU UTARA: KISAH DARI TOKOH DI BALIK LAYAR PADA 1999
Artikel ini bertujuan untuk menulis sejarah pembentukan Kabupaten Luwu Utara dari perspektif aktor yang terlibat pada proses pembentukan tersebut. Tulisan ini menggunakan metode se...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
KREATIVITAS WAHYU JATMIKO DALAM TARI BEDHAYA MEDANG KAMULAN DI SANGGAR KRIDHA RASA TUNGGAL KABUPATEN NGANJUK
KREATIVITAS WAHYU JATMIKO DALAM TARI BEDHAYA MEDANG KAMULAN DI SANGGAR KRIDHA RASA TUNGGAL KABUPATEN NGANJUK
Tari Bedhaya Medang Kamulan merupakan tari bedhaya peringatan kemenangan Mpu Sindok. Penelitian ini mengungkap masalah yang berkaitan dengan tari Bedhaya Medang Kamulan karya Wahyu...
KONSEP GARAPAN TARI TURAK DEWA MUSIRAWAS
KONSEP GARAPAN TARI TURAK DEWA MUSIRAWAS
Terbentuknya sebuah karya tari tidak terlepas pada konsep-konsep yang melatarbelakanginya. Konsep garapan tari tidak serta merta hadir dan dapat terwujud dengan mudah. Ada banyak p...
INOVASI GERAK TARI JAIPONGAN DI KLINIK TARI GONDO ART PRODUCTION MENGGUNAKAN METODE KONSTRUKSI JAQUELINE SMITH
INOVASI GERAK TARI JAIPONGAN DI KLINIK TARI GONDO ART PRODUCTION MENGGUNAKAN METODE KONSTRUKSI JAQUELINE SMITH
Proses Inovasi Gerak Tari Jaipongan yang terjadi dikalangan generasi muda lebih digemari dari pada bentuk tari Jaipongan bentuk ketuk tilu. Hal menjadi permasalahan penting bagi pa...
ANALISIS KEMAMPUAN MAHASISWA PG PAUD UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA DALAM PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS
ANALISIS KEMAMPUAN MAHASISWA PG PAUD UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA DALAM PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS
Bahasa merupakan aspek terpenting dalam hidup setiap individu. Bahasa adalah sebuah sistem yang digunakan untuk berkomunikasi antara satu individu dengan individu lainnya. Dengan m...

Back to Top