Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

PROSECUTING SHARIAH OFFENCES IN MALAYSIA: EVIDENTIARY ISSUES

View through CrossRef
The main issue is whether the basic principles of evidence as outlined in Islam and the existing Sharia Court Evidence (Federal Territories) Act 1997 are sufficient to be used in prosecuting Shariah offences in Malaysia.  Admittedly Islam, as well as the SCEA 1997, do provide general guidelines on criminal prosecution.  However, there are still provisions that need to be improved. The question also arises as to how far forensic evidence can be used in proving these offences. The role of experts will also be studied and also using technology as a part of evidences. This paper will focus on the question of evidential requirements in prosecuting Shariah offences in the Syariah court in Malaysia. Undoubtedly, in realising this intention, it should not only be burdened on the shoulders of the prosecuting officers alone but the role to be played by lawyers, academics and judges will certainly have great impact in solving and improving these shortcomings. Abstrak: Masalah utama dalam penelitian ini adalah apakah prinsip-prinsip dasar bukti yang digariskan dalam Islam dan Sharia Court Evidence (Federal Territories) Act (SCEA) tahun 1997 cukup untuk digunakan dalam penuntutan pelanggaran Syariah di Malaysia. Islam and SCEA 1997 memang memberikan pedoman umum berkaitan dengan penuntutan pidana. Namun, beberapa ketentuan masih perlu diperbaiki. Pertanyaan lain yang juga muncul adalah sejauh mana bukti forensik dapat digunakan dalam membuktikan pelanggaran ini. Peran para ahli juga akan dipelajari dan teknologi akan digunakan sebagai bagian dari bukti. Artikle ini fokus pada pertanyaan persyaratan bukti dalam menuntut pelanggaran syariah di pengadilan syariah di Malaysia. Tidak diragukan lagi bahwa tanggung jawab mewujudkan hal ini seharusnya tidak hanya dibebankanpada para jaksa penuntut saja tetapi dibutuhkan peran pengacara, akademisi dan hakim yang tentu akan berdampak besar dalam menyelesaikan dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. Kata Kunci: Pelanggaran Syariah, Isu Pembuktian, Hukum Pidana Islam
Title: PROSECUTING SHARIAH OFFENCES IN MALAYSIA: EVIDENTIARY ISSUES
Description:
The main issue is whether the basic principles of evidence as outlined in Islam and the existing Sharia Court Evidence (Federal Territories) Act 1997 are sufficient to be used in prosecuting Shariah offences in Malaysia.
  Admittedly Islam, as well as the SCEA 1997, do provide general guidelines on criminal prosecution.
  However, there are still provisions that need to be improved.
The question also arises as to how far forensic evidence can be used in proving these offences.
The role of experts will also be studied and also using technology as a part of evidences.
This paper will focus on the question of evidential requirements in prosecuting Shariah offences in the Syariah court in Malaysia.
Undoubtedly, in realising this intention, it should not only be burdened on the shoulders of the prosecuting officers alone but the role to be played by lawyers, academics and judges will certainly have great impact in solving and improving these shortcomings.
Abstrak: Masalah utama dalam penelitian ini adalah apakah prinsip-prinsip dasar bukti yang digariskan dalam Islam dan Sharia Court Evidence (Federal Territories) Act (SCEA) tahun 1997 cukup untuk digunakan dalam penuntutan pelanggaran Syariah di Malaysia.
Islam and SCEA 1997 memang memberikan pedoman umum berkaitan dengan penuntutan pidana.
Namun, beberapa ketentuan masih perlu diperbaiki.
Pertanyaan lain yang juga muncul adalah sejauh mana bukti forensik dapat digunakan dalam membuktikan pelanggaran ini.
Peran para ahli juga akan dipelajari dan teknologi akan digunakan sebagai bagian dari bukti.
Artikle ini fokus pada pertanyaan persyaratan bukti dalam menuntut pelanggaran syariah di pengadilan syariah di Malaysia.
Tidak diragukan lagi bahwa tanggung jawab mewujudkan hal ini seharusnya tidak hanya dibebankanpada para jaksa penuntut saja tetapi dibutuhkan peran pengacara, akademisi dan hakim yang tentu akan berdampak besar dalam menyelesaikan dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada.
Kata Kunci: Pelanggaran Syariah, Isu Pembuktian, Hukum Pidana Islam.

Related Results

Młodociani sprawcy przestępstw przeciwko mieniu
Młodociani sprawcy przestępstw przeciwko mieniu
The new Polish penal legislation of 1969 introduced special rules of criminal liability of young adult offenders' aged 17-20. In 1972 criminological research was undertaken in orde...
Shariah Audit Practices in Malaysia: Moving Forward
Shariah Audit Practices in Malaysia: Moving Forward
The Shariah audit being a monitoring tool for ensuring Shariah compliance proved to be an important component in the operations of Islamic financial institutions (IFIs). In the cas...
SHARIAH’S POSITION IN AFGHAN 2004 CONSTITUTION: A LEGAL ANALYSIS
SHARIAH’S POSITION IN AFGHAN 2004 CONSTITUTION: A LEGAL ANALYSIS
The legal position of Shariah in the 2004 Afghan constitution has been considerably debated due to the full involvement of the international community in the constitution-making pr...
XXX-Lecie
XXX-Lecie
Approaching the 30 years of the the Polish People’s Republic from the point of view of the problems, which are the subject of research work, conducted by the Department of Criminol...
Evolution of Shariah Governance Practices in Shariah Risk Management Function from The Institutional Theory Perspective
Evolution of Shariah Governance Practices in Shariah Risk Management Function from The Institutional Theory Perspective
This research aims at elucidating the evolution of Shariah governance practices in a Malaysian Islamic bank by examining the progression toward institutionalization through the len...
Perbandingan Kerangka Tadbir Urus Perbankan Islam di antara Indonesia dan Malaysia
Perbandingan Kerangka Tadbir Urus Perbankan Islam di antara Indonesia dan Malaysia
Perbankan dan kewangan Islam adalah satu industri yang berkembang pesat dan dijadikan sebagai penyumbang utama dalam aset kewangan global. Menurut Islamic Finance Development Indic...
Osoby niejednokrotnie przebywające w izbie wytrzeźwień
Osoby niejednokrotnie przebywające w izbie wytrzeźwień
In Poland we have at present in towns 29 detoxication centres with 1,226 beds; people found by the police in public places in a state of intoxication are more and more often taken ...
Prevalence and Patterns of Offences among Undergraduate Students in Nigerian Private Universities
Prevalence and Patterns of Offences among Undergraduate Students in Nigerian Private Universities
Studies of offenses and crimes among Nigerian undergraduates are mostly focused on state-owned universities in Nigeria and may not reflect the realities of private universities. Wi...

Back to Top