Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM MENGGUNAKAN PENDEKATAN KASIH SAYANG DI YAYASAN PONDOK PESANTREN AL-FURQON DAN PANTI ASUHAN BEABDURROHIM AL-FURQON WEDOROANOM DRIYOREJO GRESIK

View through CrossRef
Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1)Bagaimanakah pelaksanaan manajemen pendidikan Islam menggunakan pendekatan kasih sayang yang diberikan oleh para pengasuh di Yayasan Pondok Pesantren Al-Furqon dan Panti Asuhan BeAbdurrohim Al-Furqon Wedoroanom Driyorejo Gresik; (2)Hambatan apa saja yang dialami oleh para pengasuh ketika mengimplentasikan bentuk kasih sayang kepada anak asuh di Yayasan Pondok Pesantren Al-Furqon dan Panti Asuhan BeAbdurrohim Al-Furqon Wedoroanom Driyorejo Gresik; (3)Bagaimanakah solusi yang diberikan ketika menemui hambatan tersebut. Hasil temuan dalam penelitian ini adalah: pertama, pelaksanaan manajemen pendidikan Islam berbasis pesantren yang dilakukan oleh pimpinan pesantren ini meliputi empat tahapan yaitu tahap planning, organizing, actuating, dan contolling. Dalam Tahap Planning (perencanaan) antara lain: (1)Mengadopsi konsep manajemen sekolah modern; (2)Melibatkan semua Stakeholder  dalam merencanakan konsep ke arah mana sekolah ini dikembangkan; (3)Memahamkan visi, misi, dan tujuan sekolah; (4)Memahamkan nilai-nilai kepemimpinan yang dimiliki oleh kepala sekolah; (5)Memahamkan simbol sekolah; (6)Memahamkan motto pesantren, Adapun pada Tahap Organizing (Pengorganisasian) antara lain: (1)Pengorganisasian secara profesional dengan pengelompokan satuan kerja; (2)Pemerincian seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan stakeholder  untuk mencapai tujuan sekolah; (3)Membagi beban pekerjaan para anggota organisasi secara total agar menjadi kegiatan yang relevan; (4)Mengkoordinasikan pekerjaan para  guru, tata usaha, karyawan, dan pihak lain menjadi kesatuan yang terpadu dan harmonis. Adapun pada Tahap Actuating (Pelaksanaan) antara lain:(1)Menciptakan komunikasi yang efektif di lingkungan pesantren ini adalah; (2)Komitmen dalam melaksanakan artikulasi, visi, misi, dan nilai-Nilai pesantren; (3)Memotivasi seluruh staf dan menciptakan lingkungan yang kondusif; (4)Mengeliminir resistensi; (5)Bersikap dinamis dalam pelaksanaan berbagai macam program pendidikan. Adapun pada Tahap Pengawasan (Controlling) antara lain: (1)penetapan standar pelaksanaan; (2) penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan; (3) pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata; (4) pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan penganalisaan penyimpangan-penyimpangan; dan (5)pengambilan tindakan koreksi, bila diperlukan. Temuan yang kedua, hambatan yang dialami oleh para pengasuh ketika mengimplentasikan bentuk kasih saying yaitu; (1)Belum adanya rancangan pembelajaran dan kurikulum yang memadai; (2)Terbatasnya pendidik yang profesional; (3)terbatasnya dana; dan (4)Sarana dan prasarana yang kurang memadai.                    Temuan yang ketiga, solusi yang diberikan ketika menemui hambatan yang dialami oleh para pengasuh adalah (1)Mengoptimalkan penggunaan segala fasilitas yang ada, (2)Mengefektifkan kinerja tenaga pendidik dan pengurus dalam bimbingan belajar dan pendidikan Islam; (3)Tetap menjalin hubungan baik dengan masyarakat; (4)Membangun kesadaran para anak didik; dan (4)Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan strategis.
Title: MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM MENGGUNAKAN PENDEKATAN KASIH SAYANG DI YAYASAN PONDOK PESANTREN AL-FURQON DAN PANTI ASUHAN BEABDURROHIM AL-FURQON WEDOROANOM DRIYOREJO GRESIK
Description:
Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1)Bagaimanakah pelaksanaan manajemen pendidikan Islam menggunakan pendekatan kasih sayang yang diberikan oleh para pengasuh di Yayasan Pondok Pesantren Al-Furqon dan Panti Asuhan BeAbdurrohim Al-Furqon Wedoroanom Driyorejo Gresik; (2)Hambatan apa saja yang dialami oleh para pengasuh ketika mengimplentasikan bentuk kasih sayang kepada anak asuh di Yayasan Pondok Pesantren Al-Furqon dan Panti Asuhan BeAbdurrohim Al-Furqon Wedoroanom Driyorejo Gresik; (3)Bagaimanakah solusi yang diberikan ketika menemui hambatan tersebut.
Hasil temuan dalam penelitian ini adalah: pertama, pelaksanaan manajemen pendidikan Islam berbasis pesantren yang dilakukan oleh pimpinan pesantren ini meliputi empat tahapan yaitu tahap planning, organizing, actuating, dan contolling.
Dalam Tahap Planning (perencanaan) antara lain: (1)Mengadopsi konsep manajemen sekolah modern; (2)Melibatkan semua Stakeholder  dalam merencanakan konsep ke arah mana sekolah ini dikembangkan; (3)Memahamkan visi, misi, dan tujuan sekolah; (4)Memahamkan nilai-nilai kepemimpinan yang dimiliki oleh kepala sekolah; (5)Memahamkan simbol sekolah; (6)Memahamkan motto pesantren, Adapun pada Tahap Organizing (Pengorganisasian) antara lain: (1)Pengorganisasian secara profesional dengan pengelompokan satuan kerja; (2)Pemerincian seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan stakeholder  untuk mencapai tujuan sekolah; (3)Membagi beban pekerjaan para anggota organisasi secara total agar menjadi kegiatan yang relevan; (4)Mengkoordinasikan pekerjaan para  guru, tata usaha, karyawan, dan pihak lain menjadi kesatuan yang terpadu dan harmonis.
Adapun pada Tahap Actuating (Pelaksanaan) antara lain:(1)Menciptakan komunikasi yang efektif di lingkungan pesantren ini adalah; (2)Komitmen dalam melaksanakan artikulasi, visi, misi, dan nilai-Nilai pesantren; (3)Memotivasi seluruh staf dan menciptakan lingkungan yang kondusif; (4)Mengeliminir resistensi; (5)Bersikap dinamis dalam pelaksanaan berbagai macam program pendidikan.
Adapun pada Tahap Pengawasan (Controlling) antara lain: (1)penetapan standar pelaksanaan; (2) penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan; (3) pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata; (4) pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan penganalisaan penyimpangan-penyimpangan; dan (5)pengambilan tindakan koreksi, bila diperlukan.
Temuan yang kedua, hambatan yang dialami oleh para pengasuh ketika mengimplentasikan bentuk kasih saying yaitu; (1)Belum adanya rancangan pembelajaran dan kurikulum yang memadai; (2)Terbatasnya pendidik yang profesional; (3)terbatasnya dana; dan (4)Sarana dan prasarana yang kurang memadai.
                   Temuan yang ketiga, solusi yang diberikan ketika menemui hambatan yang dialami oleh para pengasuh adalah (1)Mengoptimalkan penggunaan segala fasilitas yang ada, (2)Mengefektifkan kinerja tenaga pendidik dan pengurus dalam bimbingan belajar dan pendidikan Islam; (3)Tetap menjalin hubungan baik dengan masyarakat; (4)Membangun kesadaran para anak didik; dan (4)Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan strategis.

Related Results

Manajemen Strategik Pembelajaran Pondok Pesantren dalam Mewujudkan Generasi yang Berakhlaqul Karimah
Manajemen Strategik Pembelajaran Pondok Pesantren dalam Mewujudkan Generasi yang Berakhlaqul Karimah
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pondok pesantren dalam mewujudkan generasi yang berakhlakul karimah. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan manajemen strategi...
Manajemen Pondok Pesantren Darut Thalib Solok
Manajemen Pondok Pesantren Darut Thalib Solok
Berkembangnya model pondok pesantren salafiyah atau modern tentunya tidak lepas dari cara pengelolaan manajemen yang baik terutama pada proses perencanaan, pengorganisasian, pelaks...
Pelatihan Penyusunan Laporan Keuangan Entitas Berorientasi Non Laba Berdasarkan ISAK 35 Pada Panti Asuhan Gelora Kasih Sibolangit
Pelatihan Penyusunan Laporan Keuangan Entitas Berorientasi Non Laba Berdasarkan ISAK 35 Pada Panti Asuhan Gelora Kasih Sibolangit
Pengabdian ini bertujuan buat memberikan masukkan kepada Panti Asuhan agar dapat mengaplikasikan Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK)35 dalam penyajikan  laporan keuangan...
KEPEMIMPINAN DELEGATIF DI PONDOK PESANTREN SIDOGIRI PASURUAN
KEPEMIMPINAN DELEGATIF DI PONDOK PESANTREN SIDOGIRI PASURUAN
Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang ikut andil dalam mencerdaskan kehidupan Bangsa. Dalam melaksanakan tugasnya, pesantren tidak dapat lepas dari kepemimpinan Kyai. Da...
PERKEMBANGAN PESANTREN DI TENGAH DINAMIKA KONFLIK DAN MARAKNYA RADIKALISME PADA KABUPATEN POSO
PERKEMBANGAN PESANTREN DI TENGAH DINAMIKA KONFLIK DAN MARAKNYA RADIKALISME PADA KABUPATEN POSO
ABSTRACTThis study aims to describe, analyze and interpret the phenomenon of the development of Islamic boarding schools that grow and develop in the midst of the dynamics of confl...
Upaya Internalisasi Nilai Pendidikan Islam Melalui Kegiatan Banjari Ranting IPNU IPPNU Gresik
Upaya Internalisasi Nilai Pendidikan Islam Melalui Kegiatan Banjari Ranting IPNU IPPNU Gresik
Urgensi Pendidikan Agama Islam pada generasi muda (remaja) ialah untuk merealisasikan cita-cita yang mulia yakni masyarakat Islam yang selaras dengan perintah Allah SWT sebagai upa...
PENGARUH BUDAYA ORGANISASI PROGRAM AMTSILATI PADA KEMAMPUAN BACA KITAB SANTRI DI PONDOK PESANTREN AL FALAH PUTERA BANJARBARU
PENGARUH BUDAYA ORGANISASI PROGRAM AMTSILATI PADA KEMAMPUAN BACA KITAB SANTRI DI PONDOK PESANTREN AL FALAH PUTERA BANJARBARU
AbstrackThe influence of the organizational culture of the extracurricular program in improving the ability to read turat books at the Al Falah Islamic Boarding School Putera Banja...

Back to Top