Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Dialektika Masyarakat Dan Bencana di Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie

View through CrossRef
AbstractTangse is one of the sub-districts that located in Pidie district. About 190 km from Banda Aceh the capital of Aceh province. Since 2011 until 2018, disasters have become an annual routine of Tangse society, from landslides to flash floods coming every year. In this regards, this paper aims to discuss the dialectics of the community with disasters that befall in Tangse. The Data in this paper derived from observations, interviews and literature studies, then analyzed using a sociological approach. The results of this study found that many things have been done by local governments to cope with disasters. From prevention to reduce the risk of disasters that befall the community, when disasters are increasingly happening, the perspective of the community towards disasters begins to change. Now for some people in Tangse, disasters are not only viewed as calamities but also seen as "benefits". As a result, although the public has a sense of disaster risk, it does not make the community stop the activity that invites disaster in the land of Tangse.   Tangse merupakan salah satu kecamatan yang berada dikawasan pegunungan Kabupaten Pidie, berjarak sekitar 190 km dari Kota Banda Aceh, Ibukota Provinsi Aceh. Sejak tahun 2011 hingga tahun 2018, bencana telah menjadi langganan masyarakat Tangse, mulai dari tanah longsor hingga banjir bandang silih berganti menghampiri masyarakat. Terkait hal itu, tulisan ini bertujuan untuk mendiskusikan tentang dialektika masyarakat terhadap bencana yang terus menerus terjadi selama beberapa tahun belakangan di Kecamatan Tangse. Data dalam tulisan ini bersumber dari hasil observasi, wawancara dan studi literatur yang kemudian dianalisis menggunakan pendekatan sosiologis. Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan ditemukan bahwa telah banyak hal yang diupayakan pemerintah daerah berserta unsur-unsur terkait untuk menanggulangi datangnya bencana, mulai dari pencegahan hingga mengurangi resiko bencana yang menimpa masyarakat. Namun, ketika bencana semakin akrab menyapa masyarakat, maka pergeseran cara pandang masyarakat terhadap bencana pun terjadi. Jika pada awalnya bencana dilihat sebagai suatu musibah dan masyarakat selalu menganggap diri mereka sebagai korban, kini bagi sebagian masyarakat tangse, bencana tidak hanya dilihat sebagai musibah tetapi juga sebagai “berkah”. Akibatnya, meski ada kesadaran tentang resiko bencana, namun hal itu tidak membuat masyarakat menghentikan aktivitas yang mengundang datangnya bencana di bumi Tangse.
Title: Dialektika Masyarakat Dan Bencana di Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie
Description:
AbstractTangse is one of the sub-districts that located in Pidie district.
About 190 km from Banda Aceh the capital of Aceh province.
Since 2011 until 2018, disasters have become an annual routine of Tangse society, from landslides to flash floods coming every year.
In this regards, this paper aims to discuss the dialectics of the community with disasters that befall in Tangse.
The Data in this paper derived from observations, interviews and literature studies, then analyzed using a sociological approach.
The results of this study found that many things have been done by local governments to cope with disasters.
From prevention to reduce the risk of disasters that befall the community, when disasters are increasingly happening, the perspective of the community towards disasters begins to change.
Now for some people in Tangse, disasters are not only viewed as calamities but also seen as "benefits".
As a result, although the public has a sense of disaster risk, it does not make the community stop the activity that invites disaster in the land of Tangse.
  Tangse merupakan salah satu kecamatan yang berada dikawasan pegunungan Kabupaten Pidie, berjarak sekitar 190 km dari Kota Banda Aceh, Ibukota Provinsi Aceh.
Sejak tahun 2011 hingga tahun 2018, bencana telah menjadi langganan masyarakat Tangse, mulai dari tanah longsor hingga banjir bandang silih berganti menghampiri masyarakat.
Terkait hal itu, tulisan ini bertujuan untuk mendiskusikan tentang dialektika masyarakat terhadap bencana yang terus menerus terjadi selama beberapa tahun belakangan di Kecamatan Tangse.
Data dalam tulisan ini bersumber dari hasil observasi, wawancara dan studi literatur yang kemudian dianalisis menggunakan pendekatan sosiologis.
Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan ditemukan bahwa telah banyak hal yang diupayakan pemerintah daerah berserta unsur-unsur terkait untuk menanggulangi datangnya bencana, mulai dari pencegahan hingga mengurangi resiko bencana yang menimpa masyarakat.
Namun, ketika bencana semakin akrab menyapa masyarakat, maka pergeseran cara pandang masyarakat terhadap bencana pun terjadi.
Jika pada awalnya bencana dilihat sebagai suatu musibah dan masyarakat selalu menganggap diri mereka sebagai korban, kini bagi sebagian masyarakat tangse, bencana tidak hanya dilihat sebagai musibah tetapi juga sebagai “berkah”.
Akibatnya, meski ada kesadaran tentang resiko bencana, namun hal itu tidak membuat masyarakat menghentikan aktivitas yang mengundang datangnya bencana di bumi Tangse.

Related Results

Tingkat Ancaman Multi Bencana Alam di Kabupaten Karanganyar
Tingkat Ancaman Multi Bencana Alam di Kabupaten Karanganyar
<em><span lang="EN-US">Kabupaten </span><span>Karanganyar</span><span lang="EN-US">, Provinsi </span><span>Jawa Tengah</span>&...
IMPLEMENTASI PENANGGULANGAN BENCANA STUDI KASUS NAGARI SIAGA BENCANA (NAGASINA) DI NAGARI GANGGO HILIA KECAMATAN BONJOL KABUPATEN PASAMAN
IMPLEMENTASI PENANGGULANGAN BENCANA STUDI KASUS NAGARI SIAGA BENCANA (NAGASINA) DI NAGARI GANGGO HILIA KECAMATAN BONJOL KABUPATEN PASAMAN
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) membentuk Kelompok Nagari Siaga Bencana (Nagasita) agar pelaksanaan penanggulangan bencana lebih optimal. Penulis ingin melihat pelaksana...
Pembentukan Relawan Kebencanaan Di Desa Tanjung Luar Sebagai Bentuk Kesiapsiagaan Dalam Menghadapi Bencana
Pembentukan Relawan Kebencanaan Di Desa Tanjung Luar Sebagai Bentuk Kesiapsiagaan Dalam Menghadapi Bencana
Pembentukan relawan kebencanaan sebagai salah satu program kerja KKN Desa Tanjung Luar sebagai bentuk kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana  terlaksana dengan baik berkat kerjasam...
KAJIAN RISIKO BENCANA TANAH LONGSOR DAN GEMPA BUMI KABUPATEN PRINGSEWU PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN RISIKO BENCANA TANAH LONGSOR DAN GEMPA BUMI KABUPATEN PRINGSEWU PROVINSI LAMPUNG
Potensi bencana pada daerah Kabupaten Pringsewu berdasarkan RTRW daerah tersebut diantaranya tanah longsor dan gempa bumi, sehingga diperlukannya Kajian Risiko Bencana terhadap dua...
Kajian Risiko Bencana Terhadap Kualitas Hidup Masyarakat Di Nusa Tenggara Timur
Kajian Risiko Bencana Terhadap Kualitas Hidup Masyarakat Di Nusa Tenggara Timur
Indonesia adalah negara dengan tingkat risiko bencana yang tinggi karena kondisi geografisnya. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadapi berbagai ancaman bencana, termasuk gemp...
SOSIALISASI STANDAR OPRASIONAL PROSEDUR (SOP) TANGGAP DARURAT DALAM MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH
SOSIALISASI STANDAR OPRASIONAL PROSEDUR (SOP) TANGGAP DARURAT DALAM MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH
Abstrak Bencana tanah longsor dapat mengakibatkan ancaman serius bagi masyarakat yang dapat menjadi situasi darurat bencana. Situasi darurat bencana ialah suatu peristiwa ata...
TANTANGAN MANAJEMEN RISIKO BENCANA DI RUMAH SAKIT AMAN BENCANA (RSAB)
TANTANGAN MANAJEMEN RISIKO BENCANA DI RUMAH SAKIT AMAN BENCANA (RSAB)
Studi ini bertujuan untuk mengetahui tantangan manajemen risiko bencana di Rumah Sakit Aman Bencana (RSAB). Hasil studi menyatakan bahwa Manajemen Risiko Bencana adalah rangkaian t...
Social Survival Skill Masyarakat Rentan Bencana (Pasca Gempa Bumi Sulawesi Tengah Tahun 2018)
Social Survival Skill Masyarakat Rentan Bencana (Pasca Gempa Bumi Sulawesi Tengah Tahun 2018)
AbstractIndonesian territory is vulnerable to disasters, especially earthquakes. This is due to its position in the meeting of the three main plates of the world. This disaster haz...

Back to Top