Javascript must be enabled to continue!
Pusat Kegiatan Digital
View through CrossRef
In such a modern and complex era like today, urban millennials are used to growing up with digital era that works as a new (arus ruang gerak) in their lives as an individual and social being. The digital era grows slowly as a part of work, culture, and process that can not be separated from human lives. Nevertheless, in fulfilling their social needs, digital technology is usually used only as a media component which in the process is done secondarily where it tends to create a moral change towards individualistic. Therefore, a place that can accommodate social activities without letting the digital flow to stream free and unrestrained, and offers education on how to control the digital flow instead, is needed to fulfill social needs in this digital era. Architecture discusses how to fulfill the digital community needs as an existential tool, because despite everything, human still needs face-to-face communication as a primary means of communication. Digital Hub is presented as a place where interaction can happen primarily in a digital era. Specifically, this project also aims to build digital communities where individuals are not isolated from social life, and receives an existential from the balance between primary interaction needs and digital needs. This becomes relevant in a developing society, where changes in life necessity is happening continously, replacing old ways with new techniques. AbstrakPada era yang serba modern dan kompleks seperti saat ini, generasi milenial perkotaan sudah terbiasa untuk tumbuh sebagai era digital yang berperan untuk menjadi arus ruang gerak baru di dalam kehidupannya sebagai makhluk individu dan sosial. Era digital pun secara perlahan tumbuh sebagai bagian dari karya, budaya, dan proses yang tidak dapat terlepas dari perjalanan kehidupan manusia. Namun, dalam pemenuhan kebutuhan sosialnya, teknologi digital sering kali hanya dimanfaatkan sebagai komponen media yang dalam prosesnya dilakukan secara sekunder di mana memiliki kecenderungan untuk memancing perubahan moral ke arah individualistis. Dalam pemenuhan kebutuhan sosial di era digital tersebut, maka dibutuhkan wadah sosial sebagai wadah yang tidak membiarkan arus era digital mengalir begitu saja, tetapi berbicara mengenai bagaimana cara mengontrol arus digital itu sendiri. Dari hal tersebut, arsitektur berbicara tentang cara untuk memenuhi kebutuhan komunitas digital sebagai sarana eksistensi mereka. Karena bagaimanapun juga manusia tetap membutuhkan sifat komunikasi face-to-face yang melalui proses secara primer. Digital Hub hadir sebagai ruang interaksi secara primer pada era digital. Secara lebih spesifik, kehadiran proyek juga dimaksudkan untuk menghadirkan komunitas-komunitas digital di mana individu tidak terisolasi dari kehidupan sosial, melainkan memperoleh nilai eksistensi dari adanya keseimbangan antara kebutuhan interaksi primernya dengan kebutuhan digital yang bertumbuh di dalamnya. Hal tersebut menjadi relevan seiring dengan masyarakat yang sedang terus berkembang, di mana terdapat perubahan kebutuhan secara terus-menerus untuk mengganti cara-cara lama dengan teknik yang baru.
Universitas Tarumanagara
Title: Pusat Kegiatan Digital
Description:
In such a modern and complex era like today, urban millennials are used to growing up with digital era that works as a new (arus ruang gerak) in their lives as an individual and social being.
The digital era grows slowly as a part of work, culture, and process that can not be separated from human lives.
Nevertheless, in fulfilling their social needs, digital technology is usually used only as a media component which in the process is done secondarily where it tends to create a moral change towards individualistic.
Therefore, a place that can accommodate social activities without letting the digital flow to stream free and unrestrained, and offers education on how to control the digital flow instead, is needed to fulfill social needs in this digital era.
Architecture discusses how to fulfill the digital community needs as an existential tool, because despite everything, human still needs face-to-face communication as a primary means of communication.
Digital Hub is presented as a place where interaction can happen primarily in a digital era.
Specifically, this project also aims to build digital communities where individuals are not isolated from social life, and receives an existential from the balance between primary interaction needs and digital needs.
This becomes relevant in a developing society, where changes in life necessity is happening continously, replacing old ways with new techniques.
AbstrakPada era yang serba modern dan kompleks seperti saat ini, generasi milenial perkotaan sudah terbiasa untuk tumbuh sebagai era digital yang berperan untuk menjadi arus ruang gerak baru di dalam kehidupannya sebagai makhluk individu dan sosial.
Era digital pun secara perlahan tumbuh sebagai bagian dari karya, budaya, dan proses yang tidak dapat terlepas dari perjalanan kehidupan manusia.
Namun, dalam pemenuhan kebutuhan sosialnya, teknologi digital sering kali hanya dimanfaatkan sebagai komponen media yang dalam prosesnya dilakukan secara sekunder di mana memiliki kecenderungan untuk memancing perubahan moral ke arah individualistis.
Dalam pemenuhan kebutuhan sosial di era digital tersebut, maka dibutuhkan wadah sosial sebagai wadah yang tidak membiarkan arus era digital mengalir begitu saja, tetapi berbicara mengenai bagaimana cara mengontrol arus digital itu sendiri.
Dari hal tersebut, arsitektur berbicara tentang cara untuk memenuhi kebutuhan komunitas digital sebagai sarana eksistensi mereka.
Karena bagaimanapun juga manusia tetap membutuhkan sifat komunikasi face-to-face yang melalui proses secara primer.
Digital Hub hadir sebagai ruang interaksi secara primer pada era digital.
Secara lebih spesifik, kehadiran proyek juga dimaksudkan untuk menghadirkan komunitas-komunitas digital di mana individu tidak terisolasi dari kehidupan sosial, melainkan memperoleh nilai eksistensi dari adanya keseimbangan antara kebutuhan interaksi primernya dengan kebutuhan digital yang bertumbuh di dalamnya.
Hal tersebut menjadi relevan seiring dengan masyarakat yang sedang terus berkembang, di mana terdapat perubahan kebutuhan secara terus-menerus untuk mengganti cara-cara lama dengan teknik yang baru.
Related Results
Access Denied
Access Denied
Introduction
As social-distancing mandates in response to COVID-19 restricted in-person data collection methods such as participant observation and interviews, researchers turned t...
ANALISIS KINERJA TERMINAL LEUWIPANJANG
ANALISIS KINERJA TERMINAL LEUWIPANJANG
Sebagai pusat pelayanan dan pemerintahan, Kota Bandung berperan terhadap Kota- Kota di sekitarnya. Untuk mendukung pergerakan tersebut, Terminal Leuwipanjang menyediakan jasa pel...
Perbandingan Lamanya Pelepasan Tali Pusat Dengan Menggunakan Benang dan Umbilical Clamp : Tinjauan Literatur
Perbandingan Lamanya Pelepasan Tali Pusat Dengan Menggunakan Benang dan Umbilical Clamp : Tinjauan Literatur
Tingginya angka kematian neonatal bayi baru lahir disebabkan oleh beberapa faktor seperti kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR, kelainan cacat bawaan, ikterus, asfiksia, down sy...
The influence of micro influencers and digital marketing on product purchasing decisions at tiktok shop in bengkulu city
The influence of micro influencers and digital marketing on product purchasing decisions at tiktok shop in bengkulu city
THE INFLUENCE OF MICRO-INFLUENCERS AND DIGITAL MARKETING ON PURCHASE DECISIONS OF TIKTOK SHOP CUSTOMERS IN BENGKULU CITY
Andhes Tiani Putri, Meylaty F
12Faculty Of Economic
E...
PERAWATAN TALI PUSAT TERBUKA UNTUK MENCEGAH DAN MENGATASI INFEKSI TALI PUSAT
PERAWATAN TALI PUSAT TERBUKA UNTUK MENCEGAH DAN MENGATASI INFEKSI TALI PUSAT
Pendahuluan: Infeksi tetanus neonaturum terjadi pada bayi baru lahir akibat kurangnya sterilitas dari alat pada saat pemotongan tali pusat dan teknik perawatan tali pusat yang kura...
PERAWATAN TALI PUSAT DENGAN TOPIKAL ASI TERHADAPLAMA PELEPASAN TALI PUSAT
PERAWATAN TALI PUSAT DENGAN TOPIKAL ASI TERHADAPLAMA PELEPASAN TALI PUSAT
Latar Belakang: Tetanus Neonatorum merupakan salah satu penyebab kematian neonatus sebesar 14% di kota Palangka Raya tahun 2017, dan dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa. Tetanu...
PERAWATAN TALI PUSAT TERBUKA SEBAGAI UPAYA MEMPERCEPAT PELEPASAN TALI PUSAT
PERAWATAN TALI PUSAT TERBUKA SEBAGAI UPAYA MEMPERCEPAT PELEPASAN TALI PUSAT
Angka kejadian infeksi bayi baru lahir di Indonesia berkisar antara 24% hingga 34%, dan hal ini merupakan penyebab kematian yang kedua setelah Asfeksia neonatorum yang berkisar ant...
The intersection of digital practices and environmental orientations: exploring digital-environmental habitus
The intersection of digital practices and environmental orientations: exploring digital-environmental habitus
Purpose
This study aims to examine how environmental dispositions and digital expertise influence sustainable digital behaviors. Drawing on Bourdieu’s theory of...

