Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

MAKNA PEYORATIF KESENIAN DIDONG JALU (Studi Semiotika Terhadap Rekaman Penampilan Kesenian Didong Jalu Antara grup Arita Mude Melawan grup Jaya Darma)

View through CrossRef
Kesenian didong merupakan sebuah kesenian yang mempergunakan kata-kata indah dari seluruh alam, yang didendangkan oleh sekelompok orang yang berjumlah  30 orang. Di dalam kesenian didong ada pribahasa dalam bahasa Gayo, ”tengkahe dekat konae gep” yaitu sebuah kata yang sebenarnya diganti dengan istilah lain, misalnya menyiksa diganti dengan menebang kayu. Didong jalu merupakan pertunjukan dua grup pada sebuah panggung yang dilaksanakan satu malam suntuk. Dua grup ini saling berbalas pantun dan melontarkan teka-teki tentang realitas kehidupan sosial yang terjadi di masyarakat Gayo. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana makna peyoratif serta dalam bentuk bahasa apa saja makna peyoratif itu disampaikan dalam rekaman tersebut. Dalam penelitian ini memakai teori Semiotika Roland Barthes yaitu denotasi dan konotasi guna mengetahui dan menganalisis makna peyoratif dalam rekaman dan juga sebagai teori yang sesuai dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu pengamatan (observasi), dokumentasi serta menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian, bahwa makna peyoratif dalam rekaman penampilan kesenian didong jalu ini disampaikan secara jelas dan langsung sebagai bentuk ejekan (olok-olokan),  dalam bentuk bahasa verbal dan non verbal oleh kedua grup didong jalu dengan menggunakan proses komunikasi sirkular dalam perspektif interaksi, dan tidak lagi sesuai dengan pepatah Gayo mengenai didong “tengkahe dekat konae gep”.
Title: MAKNA PEYORATIF KESENIAN DIDONG JALU (Studi Semiotika Terhadap Rekaman Penampilan Kesenian Didong Jalu Antara grup Arita Mude Melawan grup Jaya Darma)
Description:
Kesenian didong merupakan sebuah kesenian yang mempergunakan kata-kata indah dari seluruh alam, yang didendangkan oleh sekelompok orang yang berjumlah  30 orang.
Di dalam kesenian didong ada pribahasa dalam bahasa Gayo, ”tengkahe dekat konae gep” yaitu sebuah kata yang sebenarnya diganti dengan istilah lain, misalnya menyiksa diganti dengan menebang kayu.
Didong jalu merupakan pertunjukan dua grup pada sebuah panggung yang dilaksanakan satu malam suntuk.
Dua grup ini saling berbalas pantun dan melontarkan teka-teki tentang realitas kehidupan sosial yang terjadi di masyarakat Gayo.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana makna peyoratif serta dalam bentuk bahasa apa saja makna peyoratif itu disampaikan dalam rekaman tersebut.
Dalam penelitian ini memakai teori Semiotika Roland Barthes yaitu denotasi dan konotasi guna mengetahui dan menganalisis makna peyoratif dalam rekaman dan juga sebagai teori yang sesuai dalam penelitian ini.
Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu pengamatan (observasi), dokumentasi serta menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian, bahwa makna peyoratif dalam rekaman penampilan kesenian didong jalu ini disampaikan secara jelas dan langsung sebagai bentuk ejekan (olok-olokan),  dalam bentuk bahasa verbal dan non verbal oleh kedua grup didong jalu dengan menggunakan proses komunikasi sirkular dalam perspektif interaksi, dan tidak lagi sesuai dengan pepatah Gayo mengenai didong “tengkahe dekat konae gep”.

Related Results

KODE SASTRA DALAM SYAIR DIDONG
KODE SASTRA DALAM SYAIR DIDONG
The study is titled“Literature Code In Didong Poetry”.The problem formulation in this research is "How is the literary code contained in Syair Didong?".The purpose of this research...
kesenian Didong Banan Pada Masyarakat Gayo, Aceh Tengah
kesenian Didong Banan Pada Masyarakat Gayo, Aceh Tengah
AbstrakDidong merupakan salah satu kesenian yang sangat popular bagi kalangan masyarakat Gayo, Aceh Tengah. Didong memiliki berbagai macam dan jenis antara lain adalah Didong Rawan...
DYPHEMIA IN DIDONG JALU ARITA MUDE AND BIAK CACAK
DYPHEMIA IN DIDONG JALU ARITA MUDE AND BIAK CACAK
This study aims to describe the type, function, and linguistic form of dysphemia in Didong Jalu Arita Mude and Biak Cacak. The method used is a descriptive method with a qualitativ...
DIDONG SEBAGAI INTI VOKAL GAYO: STUDI LAPANGAN VOKAL ACEH BERSAMA PENYANYI GAYO WIRATMADINATA DAN PETERIANA KOBAT
DIDONG SEBAGAI INTI VOKAL GAYO: STUDI LAPANGAN VOKAL ACEH BERSAMA PENYANYI GAYO WIRATMADINATA DAN PETERIANA KOBAT
Seni vokal tradisional Gayo, khususnya didong, merupakan komponen penting dari warisan budaya dan identitas etnis Aceh Tengah. Dalam konteks ini, pemutaran lagu-lagu etnik di Perpu...
Kesenian Tradisional Sinoman Hadrah Khas Suku Banjar Di Kalimantan Selatan Sebagai Sumber Belajar IPS
Kesenian Tradisional Sinoman Hadrah Khas Suku Banjar Di Kalimantan Selatan Sebagai Sumber Belajar IPS
Sinoman hadrah merupakan kesenian asli Suku Banjar. Kesenian ini sudah ada sejak lama dan berlangsung turun temurun, namun seiring dengan perkembangan zaman kesenian ini sudah lang...
Internalisasi Budaya Terbang Bandhung di Kota Pasuruan
Internalisasi Budaya Terbang Bandhung di Kota Pasuruan
Kesenian Terbang Bandung merupakan kesenian yang berasal dari kota pasuruan, kesenian dengan alat music Kedincong, Terbang der, rebana, kontran, jidor, music ini dimainkan dengan 2...
KARAWITAN PENDUKUNG KESENIAN BARONGAN RISANG GUNTUR SETO DI KABUPATEN BLORA
KARAWITAN PENDUKUNG KESENIAN BARONGAN RISANG GUNTUR SETO DI KABUPATEN BLORA
Musik pendukung dalam seni pertunjukan sangat diperlukan, baik itu gamelan ataupun musik tradisional lainnya, dan musik modern. Karena hal itu akan menambah kekuatan dan menciptaka...
KARAWITAN PENDUKUNG KESENIAN BARONGAN RISANG GUNTUR SETO DI KABUPATEN BLORA
KARAWITAN PENDUKUNG KESENIAN BARONGAN RISANG GUNTUR SETO DI KABUPATEN BLORA
Musik pendukung dalam seni pertunjukan sangat diperlukan, baik itu gamelan ataupun musik tradisional lainnya, dan musik modern. Karena hal itu akan menambah kekuatan dan menciptaka...

Back to Top