Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Pengantar Etika Psikologis Buddhisme

View through CrossRef
Kerajaan maritim Sriwijaya pada masa kejayaannya tidak hanya mengontrol jalur perdagangan rempah dunia, tetapi juga menjadi pusat pendidikan dan penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara yang sangat maju. Agama Buddha berangsur-angsur lenyap di Nusantara seiring dengan runtuhnya kerajaan Majapahit, tetapi menyisakan bekas-bekas peninggalan dalam berbagai bidang hingga saat ini, seperti situs-situs bersejarah, bahasa dan juga budaya. Melalui studi kepustakaan dengan metode deskriptif interpretatif dalam tulisan ini, penulis hendak mengenalkan kembali ajaran Buddha, terutama dari sisi psikologi dan etika berdasarkan kitab suci Tipitaka Canon Pali. Etika psikologis Buddhisme terdapat di dalam Abhidhamma Pitaka yang merupakan kumpulan ketiga dari kitab suci agama Buddha. Manusia dalam pandangan Buddhisme adalah kombinasi psikofisik antara batin (nāma) dan materi/badan jasmani (rūpa). Batin adalah kombinasi dari kesadaran (citta) dan faktor-faktor mental (cetasika), kombinasi ini merupakan keberagaman kondisi dari batin. Terdapat 121 jenis kesadaran, 52 jenis faktor-faktor mental dan 28 unsur materi, yang secara etika diklasifikasikan ke dalam yang baik, buruk dan netral, tetapi diuraikan dari sudut pandang psikologis, sebagian besar merupakan analisis data psikologis. Kesadaran merupakan pencetus ucapan dan perilaku seseorang, kesadaran yang baik dapat mencetuskan ucapan dan perilaku yang baik, demikian juga sebaliknya. Kepribadian manusia dikondisikan dan dipertahankan oleh aktivitas kesadaran dan akibatnya, karakter seseorang juga ditentukan oleh kesadaran. Psikologi Buddhisme telah terintegrasi dengan psikologi barat modern, yang disebut "Psikologi Konjungtif”. Proses interdependen dari fungsi psiko-fisik kepribadian manusia, adalah proses yang sangat penting dalam metode psikoterapi Buddhisme.
Title: Pengantar Etika Psikologis Buddhisme
Description:
Kerajaan maritim Sriwijaya pada masa kejayaannya tidak hanya mengontrol jalur perdagangan rempah dunia, tetapi juga menjadi pusat pendidikan dan penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara yang sangat maju.
Agama Buddha berangsur-angsur lenyap di Nusantara seiring dengan runtuhnya kerajaan Majapahit, tetapi menyisakan bekas-bekas peninggalan dalam berbagai bidang hingga saat ini, seperti situs-situs bersejarah, bahasa dan juga budaya.
Melalui studi kepustakaan dengan metode deskriptif interpretatif dalam tulisan ini, penulis hendak mengenalkan kembali ajaran Buddha, terutama dari sisi psikologi dan etika berdasarkan kitab suci Tipitaka Canon Pali.
Etika psikologis Buddhisme terdapat di dalam Abhidhamma Pitaka yang merupakan kumpulan ketiga dari kitab suci agama Buddha.
Manusia dalam pandangan Buddhisme adalah kombinasi psikofisik antara batin (nāma) dan materi/badan jasmani (rūpa).
Batin adalah kombinasi dari kesadaran (citta) dan faktor-faktor mental (cetasika), kombinasi ini merupakan keberagaman kondisi dari batin.
Terdapat 121 jenis kesadaran, 52 jenis faktor-faktor mental dan 28 unsur materi, yang secara etika diklasifikasikan ke dalam yang baik, buruk dan netral, tetapi diuraikan dari sudut pandang psikologis, sebagian besar merupakan analisis data psikologis.
Kesadaran merupakan pencetus ucapan dan perilaku seseorang, kesadaran yang baik dapat mencetuskan ucapan dan perilaku yang baik, demikian juga sebaliknya.
Kepribadian manusia dikondisikan dan dipertahankan oleh aktivitas kesadaran dan akibatnya, karakter seseorang juga ditentukan oleh kesadaran.
Psikologi Buddhisme telah terintegrasi dengan psikologi barat modern, yang disebut "Psikologi Konjungtif”.
Proses interdependen dari fungsi psiko-fisik kepribadian manusia, adalah proses yang sangat penting dalam metode psikoterapi Buddhisme.

Related Results

ETIKA SOSIAL BUDDHISME DALAM KITAB SUTTA PITAKA (Kajian Filsafat)
ETIKA SOSIAL BUDDHISME DALAM KITAB SUTTA PITAKA (Kajian Filsafat)
Etika dan moralitas yang dimiliki manusia sudah mengalami kemerosotan. Kemerosotan ini dapat dilihat dari maraknya kasus-kasus kejahatan dan konflik yang terjadi dalam lingkungan s...
Menumbuhkan Sikap Menerima Perbedaan Agama dalam Perspektif Buddhisme
Menumbuhkan Sikap Menerima Perbedaan Agama dalam Perspektif Buddhisme
Buddhisme yang menjadi salah satu bagian dari agama-agama besar yang telah berkembang di dunia memiliki tantangan tersendiri dalam menjawab tantangan keberagaman agama. Keanekaraga...
TEORI-TEORI ETIKA DAN SUMBANGAN PEMIKIRAN PARA FILSUF BAGI ETIKA BISNIS
TEORI-TEORI ETIKA DAN SUMBANGAN PEMIKIRAN PARA FILSUF BAGI ETIKA BISNIS
Sebagai ilmu preskriptif, etika adalah cabang filsafat yang mempertimbangakan secara kritis tindakan mana yang baik atau tindakan mana yang buruk berdasarkan ajaran moral tertentu....
KECEMASAN SAAT PANDEMI COVID 19: LITERATUR REVIEW Hardiyati, Efri Widianti, Taty Hernawaty Departemen Keperawatan Jiwa Poltekkes Kemenkes Mamuju Sulbar, Universitas Pad...
ETIKA AJARAN AGAMA BUDDHA UNTUK MEMBANGUN BANGSA DAN NEGARA DALAM KEBERSAMAAN
ETIKA AJARAN AGAMA BUDDHA UNTUK MEMBANGUN BANGSA DAN NEGARA DALAM KEBERSAMAAN
Penelitian ini mengkaji etika ajaran agama Buddha untuk membangun bangsa dan negara dalam kebersamaan. Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan dengan menggali data dari ber...
ANALISIS PENGARUH PEMAHAMAN ETIKA PROFESI TERHADAP KINERJA LULUSAN D3 ELEKTRONIKA UMPP DI DUNIA KERJA
ANALISIS PENGARUH PEMAHAMAN ETIKA PROFESI TERHADAP KINERJA LULUSAN D3 ELEKTRONIKA UMPP DI DUNIA KERJA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemahaman etika profesi terhadap kinerja lulusan D3 Elektronika Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) di dunia ...
DIALEKTIKA MORAL (ETIKA) BARAT DAN ISLAM PERSPEKTIF AHMAD AMIN
DIALEKTIKA MORAL (ETIKA) BARAT DAN ISLAM PERSPEKTIF AHMAD AMIN
Artikel ini membahas mengenai pemikiran etika dari Ahmad Amin. Ahmad Amin merupakan pemikir modern Islam dari Mesir yang memiliki konstruksi pemikiran etika yang berpijak pada alam...

Back to Top